Cerpen karya : Nina
Entah seberapa besar dosaku sehingga dengan begitu mudahnya Allah menjungkir balikan duniaku. Di usiaku yang ke 18 disaat aku baru lulus dari SMA kehidupan sempurna,yah kehidupan yang menurutku sempurna itu ternyata kenyataannya tak seperti apa yang kulihat.
Terlahir sebagai putri satu-satunya dari pasangan pengusaha di bidang fashion membuat hidupku berkecukupan. Meskipun kedua orangtuaku sibuk tapi mereka pasti memiliki waktu untukku sehingga aku tak pernah merasa kekurangan kasih sayang mereka. Hidupku baik-baik saja hingga Rayyan kekasihku membawaku kerumahnya, yah kami berpacaran sejak kelas 1 SMA itu berarti kami berpacaran selama 3 tahun. Semua baik-baik saja awalnya, ibunya Rayyan juga menerima kehadiranku dengan baik sampai mataku melihat foto keluarga besar Rayyan, yah disana foto Rayyan, orangtuanya dan kedua saudara laki-lakinya.
Kupikir mereka hanya mirip atau seperti sinetron dimana ada dua orang berwajah sama ternyata mereka kembar tapi kenyataan yang ku dapatkan jauh dari pikiranku. Yah dari cerita Rayyan akhirnya aku tahu pria yang berfoto sebagai kepala keluarga Rayyan adalah orang yang sama dengan orang yang menjadi kepala keluarga di foto keluargaku.
Sakit, terluka, kecewa, itulah yang aku rasakan saat tahu ayahku, orang yang kubanggakan sebagai pahlawanku selama ini, ternyata memiliki keluarga lain selain aku dan ibuku. Seakan kurang rasa sakit karena pengkhianatan ayahku, kenyataan yang terjadi di masa lalu membuatku tak sanggup untuk menahan makianku pada orang tua yang seharusnya aku hormati. Yah kenyataan masa lalu jika ayahku tak pernah mencintai ibuku, dia menikahi ibuku karena harta yang ditawarkan kakekku dan dengan kurang ajarnya dia menikahi ibuku ketika dia sudah memiliki istri dan anak bahkan saat ayahku menikahi ibuku istrinya sedang hamil anak kedua mereka.
Yah ayahku menikahi ibuku saat istrinya mengandung Rayyan. Kenyataan apa ini? Aku dan Rayyan berpacaran selama ini dan ternyata kami saudara seayah. Kenyataan yang ada tak sanggup ku terima hingga kuputuskan lari dari rumah sebagai pelampiasan kemarahanku. Aku tahu aku salah karena melarikan diri dari masalah tapi apa peduliku ketika hatimu terluka tak ada satupun yang bisa mencegahmu untuk melampiaskan semua rasa sakit ini.
Di pelarian aku bertemu seseorang yang dengan baik hati mau menolongku. Tapi orang yang ku pikir akan menjadi malaikat penolongku tak ubahnya seperti binatang yang tega merenggut satu-satunya kehormatan yang paling berharga bagi seorang wanita. Sakit, terluka dan bingung itulah yang aku rasakan, dengan sisa-sisa kekuatanku aku pergi dari rumah binatang keji itu di tengah malam.
Dunia seakan berkerja sama untuk menyiksaku, di kegelapan malam aku berjalan sendirian dan hujan lebat yang tak kuharapkan malah turun dengan derasnya. Sakit dan kedinginan aku berteduh di emper toko seperti gelandangan dengan keadaan basah kuyup, air mata yang terus mengalir di pipiku membuatku semakin menyedihkan.
Dalam pelarian, tak punya uang, tak tahu jalan pulang membuatku harus bekerja hanya untuk mengganjal perutku. Mencuci piring di sebuah restoran kecil itulah yang aku lakukan agar bisa bertahan hidup. Ironis sekali hidupku, dulu tangan-tangan ini selalu dimanjakan perawatan kini digunakan untuk mencuci tumpukan piring yang membuat tanganku panas dan kebas.
Dulu aku tinggal di kamar yang luas dengan segala fasilitas lengkap tapi sekarang aku patut bersyukur ibu pemilik rumah makan mau menampungku meskipun aku di tempatkan dalam ruangan yang hanya berukuran 1×2 meter dengan kasur lantai dingin. Aku mensyukuri ibu itu juga mau memberikanku pakaian meskipun hanya daster-daster yang sudah lusuh.
Nadira Fradela yah Nadira Fradela adalah namaku dan sekarang dia telah tiada digantikan Dela gadis si tukang cuci piring. Menjalani hidup baru yang jauh dari kehidupan lamaku membuat air mataku terus menetes setiap waktu menyesali nasib yang menaungi hidupku.
Seakan kurang penderitaan yang aku alami, hasil perbuatan bejat itu menghasilkan benih yang tumbuh dirahimku. Tangisan dan air mata seakan habis untuk terus menangisi nasib buruk yang menaungi hidupku. 5 bulan yah setelah 5 bulan barulah aku sadar ada kehidupan lain yang tumbuh di dalam tubuhku. Tak ada yang bisa kulakukan selain menerima nasib, dan menjalani hidup yang sudah Allah gariskan untukku.
Kandunganku semakin lama semakin membesar dan aku masih setia dengan pekerjaanku sebagai tukang cuci piring. Gunjingan dan celaan terus aku dapatkan karena aku hamul tanpa suami, beruntung ibu pemilik rumah makan tak termakan celaan mereka dan tetap mengizinkan aku untuk menjadi tukang cuci piring hingga aku bertemu ibu Sofia salah satu pelanggan yang merasa iba melihatku dan membawaku untuk ikut bersamanya.
Ibu Sofia mengajakku ke sebuah tempat penitipan anak miliknya dan memintaku untuk bekerja disana saja setidaknya bekerja disina lebih baik untukku dan anakku. Yah apa yang dikatakan ibu Sofia memang benar disini pekerjaannya tidak terlalu berat untukku ditambah gaji yang ku dapatkanpun lebih baik dari sekedar menjadi tukang cuci piring.
Dan disinilah aku sekarang di tempat penitipan anak dengan puluhan anak-anak yang memanggilku bunda, dan salah satu dari anak itu adalah anakku Revan anak yang kulahirkan 4 tahun lalu. Yah sudah 4 tahun aku bekerja dan tinggal ditempat ini. Apa aku baik-baik saja? Yah aku berusaha untuk baik-baik saja meskipun hampir setiap malam aku menghabiskan waktuku untuk menangisi ibuku, menangisi rasa rinduku pada wanita yang telah melahirkanku kedunia.
Setelah menjadi seorang ibu, aku baru menyadari betapa egoisnya sikapku. Aku meninggalkan ibuku karena rasa kecewaku padahal harusnya aku tahu rasa kecewa yang dirasakan ibuku jauh lebih besar dan aku sebagai anak bukannya berada disampingnya dan memberikan dia kekuatan justru aku malah meninggalkannya sendirian. Aku merindukan ibuku sangat merindukannya dan aku sangat ingin menemuinya meskipun rasa takut masih bercangkol di hatiku. Yah kembali ke rumah itu artinya kembali menggali luka lama yang sudah perlahan aku tutupi.
"Bunda Dela, hari ini Karen ulang tahun, ibunya meminta kita untuk mengantarkan Keren dan anak-anak untuk makan di restoran didekat mall" lapor bunda Desi padaku.
Aku mengangguk menyanggupi perkataannya dan segera menyiapkan anak-anak yang berjumlah 20 orang plus anakku menjadi 21 dengan perlengkapan masing-masing. Setelah menyiapkan anak-anak kami berangkat dengan mini bus milik tempat ini. Yah acara seperti ini memang sering diadakan beruntung satu bunda hanya mengurusi 4 orang anak jadi tak sulit untuk menyiapkan mereka ketika bepergian seperti ini.
Faradela restouran itulah flang yang tertulis di restouran itu, Bunda Desi dan Bunda Ana menatap kearahku seperti bertanya karena namaku yang hampir sama dengan namaku. Aku menggeleng tidak tahu sebagai jawaban untuk mereka.
Suasana restoran sangat nyaman terutama untuk keluarga yang membawa anak-anak. Perayaan ulang tahun Karen berlangsung meriah karena memang Karen berasal dari keluarga berada. Aku tersenyum miris melihat semua ini, ingatanku kembali pada masa lalu saat keluargaku masih bersama dan tak pernah sekalipun orangtuaku melewatkan hari ulang tahunku.
"Nadira..." panggil seseorang padaku.
Aku berbalik karena heran ada yang memanggil namaku dengan nama depanku padahal semua orang memanggilku Dela selama ini. Mataku langsung melotot tak percaya melihat sosok yang berdiri dihadapanku.
"Nadira itu kamu kan nak?" tanya seseorang itu.
Aku tak kuat menahan laju air mataku dan berlari memeluknya. Aku menangis terisak dalam pelukannya, pelukan ibuku yang sangat aku rindukan. Lama kami dalam posisi saling memeluk dan mencurahkan tangis tak peduli dengan orang sekitar yang memandang heran kearah kami.
Pertemuan dengan ibuku seperti titik terang dalam hidupku, bersama ibu, aku berbagi cerita selama 5 tahun kami tidak bersama. Ibu meminta maaf atas apa yang terjadi padaku karena ternyata bukan hanya aku yang memilih melarikan diri karena ibu juga memilih melarikan diri dari semua rasa kecewa itu dan memulai hidup baru hanya saja jalan yang di tempuh ibukku lebih mulus dibandingkan jalanku yang menguras air mata.
Kami kembali hidup bersama, aku, ibu dan putraku Revan, yah meskipun ibu tahu kisah kelam aku mendapatkan Revan tapi ibu sangat menyayanginya. Yah betapa buruknya cara Revan lahir dalam kandunganku tapi Revan tetaplah anugrah terindah dari Allah untukku ditengah ujian hidup yang aku jalani.
Ibu bilang pertemuan kami adalah kesempatan kedua dari Allah untuk kita yang harus di jalani sebaik-baiknya. Yah kehidupan kami memang tak kembali seperti dulu tapi sekarang kami saling memiliki dan itu cukup membuat kami bahagia meskipun yah ada ruang kosong di hati kami yang mati-matian kami tututupi yah ruang kosong itu milik ayah yang entah kenapa meskipun dialah penyebab semua keretakan ini tapi sekelebat ingatan tentangnya tetap mampir di pikiran kami.
Kami sudah baik-baik saja hidup bertiga membangun restoran Faradela hingga maju pesat. Namun ternyata cobaan belum berakhir karena sekarang salah sattu luka dalam hidupku datang kehadapan kami. Rayyan yah sekarang dia berlutut di hadapan kami untuk ayahnya.
"Tante Farah, Nadira aku mohon temuilah papa, dia sangat membutuhkan kalian sekarang ini, dia sedang sakit." ucap Rayyan memohon.
"Maaf nak, kita tidak saling mengenal dan kenapa papamu yang sakit kenapa kamu malah mencari kami?" tanya ibu tenang.
Aku tak tahu ibu benar-benar tak mengenal Rayyan atau hanya pura-pura tak mengenal karena wajahnya sangat tenang sekali tanpa ada kegusaran atau kemarahan diraut wajahnya.
"Tante Farah, aku tahu apa yang dilakukan papa sudah keterlaluan tapi papa sudah menerima hukumannya ketika kalian meninggalkannya. Setelah kalian pergi papa terus mencari kalian hingga dia tak peduli dengan dirinya sendiri. Setiap hari papa menangisi kalian bahkan dia bercerai dengan mamaku demi memperbaiki hubungannya dengan kalian."
"Tante Farah, aku mohon papa sakit keras dan dia sama sekali tak punya semangat untuk melanjutkan hidupnya. Aku mohon temuilah dia dan beri dia kekuatan untuk bertahan"
Aku tak tahu aku harus sedih atau senang mendengar keadaan ayahku. Sebagian dari diriku, sebagai anak tentu saja aku kasihan padanya tapi sebagian diriku yang mengingat apa yang telah dia lakukan dan apa yang terjadi padaku karenanya bersorak senang atas penderitaannya.
Aku melirik kearah ibu yang tak berekspresi apapun, apa sesakit itu luka yang ditorehkan ayahku hingga membuat ibuku menjadi wanita yang tak terbawa perasaan seperti itu padahal ibu yang ku kenal adalah wanita yang sangat perasa dan mudah menangis hanya melihat hal kecil yang meyedihkan.
"Tante tak bisakah tante memberikan papa kesempatan kedua? Bukankah setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua?"
Ibu hanya diam dan pergi berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun. Rayyan memandang kearahku dan kearah Revan yang sedari tadi menonton drama ini. Aku bisa melihat raut kerinduan dan keputusasaan di mata Rayyan tapi aku tak berbuat apa-apa dan memilih untuk pergi meninggalkannya.
Setiap hari Rayyan datang, tidak hanya Rayyan, kakak dan adiknya pun ikut datang untuk membujuk ibu. Tak ada penolakan langsung dari ibu, dia mempersilahkan mereka masuk, memberi mereka makan, mendengar apa yang ingin mereka katakan lalu meninggalkan mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kejadian itu terus berlanjut hingga Revan dengan kepenasarannya menanyakan mereka padaku tapi aku hanya bisa menjawab bahwa belum saatnya Revan tahu mereka.
Merasa bujukan mereka tak berhasil, bahkan nenek dari ayahku yang sangat jarang ku temui dan mama Rayyan pun ikuy datang menemui ibu. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam sana hingga akhirnya ibu setuju untuk bertemu dengan ayah. Maka hari itu juga mereka membawaku dan ibu ke tempat dimana ayah berada sekarang.
Rumah yah rumah kami duku disanalah ayah berada, tidak ada ekspresi apapun yang ibu tunjukan melihat kondisi ayah yang sudah seperti kakek-kakek itu. Ayah menangis memohon maaf pada ibu sambil berlutut dengan tubuh ringkihnya dan ibu masih berekspresi anteng-anteng saja.
"Ku mohon Farah bicaralah sesuatu dan lihat aku... Beri aku kesempatan kedua untuk membahagiakanmu... Ku mohon Farah beri aku kesempatan" pinta ayah sedih.
Ibu hanya menghela nafas dan membiarkan ayah memeluk kakinya sambil menangis tersedu dengan menggumamkan lata maaf berulang kali.
"Kau meminta kesempatan kedua baikalah aku akan memberikannya. Berdirilah dan berjuanglah untuk sehat kembali setelah itu kita bicarakan lagi nanti" ucap ibu dengan nada tenang cenderung datar, tapi itu sanggup membuat ayahku tersenyum bahagua dan beralih memeluk ibu meskipun tak ada balasan dari ibu.
Ayah melirik kearahku dan beralih memelukku dengan sejuta maaf yang mengalir dari bibirnya. Aku hanya terdiam kaku menerima pelukannya, aku memaafkannya mungkin tapi sulit bagiku untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami.
Setelah kejadian itu dengan terpaksa aku dan ibu kembali ke rumah ini untyk merawat ayah. Meskipun tidak ada senyum yang tersungging di bibir ibu tapi dia masih merawat ayah dengan baik dan ayah pun sepertinya tidak masalah dengan keadaan itu. Dulu ibulah yang menghidupkan suasana diantara kami sekarang ayahlah yang berusaha mencairkan kebekuan diantara kami. Di bantu Revan yang begitu excited dengan kehadiran pria dewasa dibhidupnya perlahan kebekuan diantara kami mencair meski tidak sepenuhnya cair.
"Assalamualaikum...." sapa seorang dibalik pintu.
Seorang pria berpakaian dokter masuk untuk mengontrol keadaan ayah. Aku menegang melihat pria itu begitupun ibu yang tahu siapa pria itu.
"Bunda..." panggilan dari putra kecilku mengalihkan perhatian semua orang bersamaan dengan panggilan namaku dari bibirnya.
Di hadapanku sekarang, berdiri laki-laki yang tak ingin ku temui sepanjang hidupku. Pria itu menatap sendu kearahku, lalu matanya beralih pada putraku yang serupa dengannya, air matanya menetes memandang wajah polos Revan.
"Nadira...." bisiknya parau.
Aku hanya terdiam kaku melihatnya, bahkan aku hanya diam ketika pria itu semakin mendekat dan memeluk tubuh kecil Revan. Sanggupkah aku memberi pria itu kesempatan kedua seperti ibu memberikan ayah kesempatan?