Janjiku

Cerpen Karya : Nina

"Aku mencintaimu" kata itu seperti petir yang menyambar di siang bolong yang tepat mengenai kepalaku. Kegilaan apa ini pikirku, bagaimana tidak pria yang menyatakan cintanya padaku adalah pria yang sama dengan pria yang beberapa menit lagi akan  bertukar cincin dengan saudara perempuanku.

"Apa kau gila? Atau salah minum obat?" tanyaku heran berusaha bersikap normal meskipun jantungku sudah ketar-ketir takut orang mendengar ucapannya.

"Aku tidak gila, aku mencintaimu Rain, aku mencintai Raina bukan Rania" tegas orang itu.

"Tutup mulutmu ini sama sekali tidak lucu" bentakku tidak suka.

"Aku mencintai wanita yang selalu menemaniku saat sakit 8 tahun lalu dan wanita itu kamukan Rain bukan Nia?"

Aku hanya diam mendengar penjelasannya karena itu memang benar adanya tapi aku bisa apa? Takdir mungkin sudah menuliskan jika Kafa memang untuk Rania bukan Raina. Aku hanya bisa menarik nafas berat, lalu menatap serius kearahnya.

"Lupakan semua itu, sekarang kau akan bertunangan dengan Nia jadi terima dia apa adanya dan bahagiakan dia, aku percayakan saudaraku padamu"

"Sampai kapan?.... Sampai kapan kau akan mengorbankan kebahagiaanmu demi dia?"

Aku bungkam mendengar pertanyaan darinya, yah sampai kapan aku sanggup berkorban untuk kebahagiaan Rania?

Air mataku tiba-tiba menetes, otakku dipaksa untuk memflasback masa kelam dalam hidupku. Aku dan Rania terlahir sebagai kembar identik, kami tidak bisa dibedakan sama sekali kecuali oleh ibu kami, hanya sebuah tanda merah di belakanglah telingakulah yang jadi pembeda kami. Kehidupan kami baik-baik saja hingga pertengkaran itu terjadi.

Diusia kami yang ke 7 ayah dan ibu bertengkar hebat dan tak bisa kembali bersama. Hari itu dua hari sebelum ulang tahun kami yang ketujuh, teriakan, umpatan, suara bantingan benda-benda dan suara isak tangis menjadi taruma kami sendiri, di tambah hujan lebat dan guntur yang saling menyambar membuat kami menciut takut dan hanya bisa duduk dipojokan kamar kami.

"Rain...aku takut..."isak Rania.

Aku memeluk tubuh kecil Rania, sebenarnya aku juga takut tapi demi Rania aku harus berani karena aku kakaknya. Yah meskipun kami kembar identik tapi sifat kami berbeda. Rania terlahir dengan sikap  yang lemah lembut dan rapuh juga cengeng sedangkan aku memiliki sifat sebaliknya.

"Apa yang akan terjadi pada kita?" tanya Rania dengan isak tangisnya.

"Semua akan baik-baik saja" ucapku meyakinkan.

"Aku takut Rain... Aku takut...." tangisnya.

"Tenang saja kan ada aku... Aku janji,aku akan selalu melindungimu dan melakukan apapun agar kita bahagia" janjiku.

Rania sedikit tenang mendengar janjiku, tapi ketenangan itu hanya sebentar karena ayah datang dan langsung menarik tanganku, tangis Rania kembali pecah, aku menggenggam tangan Rania kuat-kuat agar kami tak terpisah tapi sekuatnya tangan gadis kecil berusia 7 tahun tentu kalah dengan kekuatan orang dewasa yang sedang diselimuti emosi.

Hari itu dua hari menuju ulang tahunku yang ke 7, aku kehilangan keluargaku. Sejak malam itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Rania ataupun ibu dan ayah berubah menjadi sosok dingin yang menganggapku tak kasat mata. Ayah yang dulu begitu hangat dan periang berubah menjadi dingin dan gila kerja. Setiap hari ayah sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter dan tak pernah peduli lagi apapun tentangku. Hanya bibi Sita... Pembantu rumah tangga di rumah saja yang menjadi temanku.

Kesepian yah itulah yang aku rasakan hingga akhirnya aku bertemu Kafa, pasien rumah sakit paling pemarah yang pernah aku temui. Saat itu Kafa merupakan pasien korban tabrakan dan dia tidak bisa berjalan. Mungkin karena keadaannya yang tidak biasa itu dia menjadi mudah marah.

Awalnya kami bertemu di taman saat dia marah-marah pada suster Ratna dan aku yang kebetulan ada disana menasehatinya. Mulanya dia bersikap sangat menyebalkan tapi perlahan kami menjadi teman dekat. Setelah kenal dia anak yang sangat baik, menyenangkan dan juga sangat perhatian. Sikap pemarahnya semata-mata hanya karena dia frustasi dengan keadaannya yah bagaimana tidak saat itu usianya baru 17 tahun, usia yang sedang aktif-aktifnya bergerak tapi dia harus menerima kenyataan dia tak berdaya duduk di kursi roda.

Dua tahun kami bersama-sama saling mengisi hari-hari kami dalam keceriaan. Bersamanya aku merasa menemukan teman dan kehangatan keluarga yang telah lama terenggut driku. Bersamanya aku menemukan alasan untuk menyongsong hari esok sampai akhirnya Kafa memutuskan untuk berobat ke Jerman untuk kesembuhannya.

Sedih yah pasti tapi demi kesembuhannya aku merelakan kepergiannya.

"Tunggu aku hingga aku kembali... Apapun yang terjadi saat aku kembali nanti berjanjilah kamu akan tetap ada disampingku" ucap Kafa sebelum dia pergi.

"Aku berjanji" ucapku yakin.

Setelah kepergian Kafa, keajaiban mempertemukanku dengan Rania dalam keadaan yang mengenaskan. Yah Rania entah datang darimana tiba-tiba mengetuk pintu rumah di malam hari dalam keadaan yang kotor dan perut membuncit.

Rania datang dengan kabar buruk tentang kematian ibu dan kelakuan bejat ayah tirinya hingga dia mengandung. Rania menuntut janjiku untuk membahagiakannya dan karena janji akan itu juga aku sampai bertengkar dengan ayah yang tidak mau menampung Rania karena keadaannya yang menjadi aib bagi keluarga.

Sesuai janji sebisa mungkin aku melakukan apapun untuk membahagiakan Rania yang ternyata hidup penuh penderitaan setelah kepergiaanku dan ayah. Bahkan aku memakluminya ketika dia menolak putri yang dia lahirkan sendiri.

Entah perasaanku atau memang kenyataannya, Rania berubah tidak seperti Rania yang kukenal dulu. Rania seakan menginginkan apapun yang aku miliki, termasuk dengan Kafa yang kembali datang dalam kehidupanku. Aku tak bisa menolak permintaannya ketika dia ingin menukar identitasnya denganku.

"Aku mencintai Kafa saat pertama kali liat, aku menemukan kebahagiaan saat pertama kali melihatnya. Rain izinkan aku bahagia sama dia, sebagai penebus penderitaan aku setelah kamu sama ayah ninggalin aku sama ibu. Aku ingin kamu menepati janji kamu waktu kita kecil bahwa kamu akan selalu bahagiain aku"

Kata-kata itu yang membuat aku tak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginannya.

"Tepati janjimu padaku" lirih seseorang tepat di telingaku menyadarkanku pada kenyataan.

Air mataku membanjiri pipiku, karena janjiku aku merelakan Kafa untuk Raina, dan sekarang Kafa menagih janjiku untuk selalu bersamanya dalam keadaan apapun, jadi janji pada siapa yang harus aku tepati?

Suara MC yang memulai acara membuat air mataku semakin deras, Kafa memelukku dari belakang membisikan kata cinta yang membuat air mataku semakin mengucur deras.

Apa yang harus aku lakukan? Acara pertunangan Kafa dan Rania sudah di mulai, MC sudah memanggil Kafa untuk segera hadir di panggung tapi yang di panggil masih setia memelukku erat. Air mataku terus mengalir seiring pelukan Kafa yang semakin mengerat.

Untuk pertama kali bolehkah aku melanggar salah satu janjuku?

Untuk pertama kali bolehkah aku bersikap egois?

Aku mencintainya...