Cerpen Karya : Redha Mu'amar Alfath
Hari ini adalah hari senin. Hari dimana sekolahku selalu mengadakan upacara bendera. Aku selalu senang kala upacara bendera dilaksanakan. Karena aku bisa dengan mudah merasakan hangat mentari menyengat kulitku.Selain itu,aku juga bisa dengan mudah memandang wajah itu. Wajah yang selalu kusuka dan selalu kupuja. Wajah itu selalu berada dibarisan paling depan kala upacara. Tiap lagu Indonesia Raya atau lagu nasional lainnya dinyanyikan, tangannya selalu berkelok-kelok mengatur ritme nada. Dan dengan suara nya yang lantang, dia selalu bisa menghikmatkan upacara bendera. Entah sihir apa yang dia punya. Entah ilmu apa yang dia pelajari. Entah dunia macam apa yang selalu ia hinggapi sampai aku bisa tergila-gila padanya. Dia memang manis. Senyumnya selalu bisa menyelimuti hatiku yang dingin. Menghangatkan hatiku yang beku karena telah lama tak dihinggapi. Ruang kosong dihatiku selalu membukakan pintunya kala aku menatap senyumnya. Memberikan sebuah tempat khusus untuknya.Setiap ada yang berbicara soal bidadari surga, hanya wajahnya lah yang terlintas dibenakku.Dia tak bersayap, tapi dia tampak seperti malaikat.Sorot matanya selalu bisa menenangkan hatiku. Tapi membuat jantungku bekerja ekstra. Ada keteduhan dan kedamaian yang dia berikan kala sorot matanya mengarah padaku. Dia benar-benar indah. Lebih indah dari ratusan bunga ditaman. Aromanya begitu wangi. Lebih wangi dari jutaan khasmir didunia.
“Gimana pedekate sama si Abidah?” bisik Rendi padaku. Aku menoleh kearahnya.Kuberi dia satu pelototan penuh makna.Berharap dia berhenti bicara dan kembali mendengarkan lagu ‘mengheningkan cipta’ yang sedang berkumandang. Dan hasilnya, dia kembali menghadap kedepan.Meski disertai dengan senyuman sinis yang menjijikan. Kutatap lagi tangan itu.Tangan yang bergerak lembut mengatur ritme nada. Memecah angin disekitarnya dan memberikan warna sendu pada nada yang berkumandang. Dia lah Abidah ku. Seorang putri yang berhasil memenuhi rongga kosong dihatiku. Putri yang berhasil membutakan mataku. Putri yang berhasil menulikan indra pendengaranku, juga putri yang sudah membuat logikaku beku. Inilah yang disebut dengan Cinta.Sebuah perasaan yang bisa membuat pengidapnya merasakan komplikasi penyakit aneh. Mataku masih normal, tapi aku tak bisa melihat keindahan lain selain dirinya. Telingaku sepenuhnya masih sehat. Tapi, aku tak bisa mendengar segala keburukan tentangnya.Otakku masih waras.Tapi aku tak bisa menyuruh otakku berhenti memikirkan dia. Cinta oh Cinta. Cinta begitu indah disetiap hariku sekarang.
Dua puluh lima menit telah berlalu. Dan kini aku sudah bisa kembali ke kelas. Seperti biasa, mulut jalang Rendi akan berkicau tanpa henti. Menceritakan sesuatu yang tak pernah ingin kudengar. Sesuatu yang selalu sukses membuatku merasa muak dan ingin sekali aku menyumpal mulut jalangnya itu. Hanya satu persoalan yang selalu kusuka dari kicauan jalangnya.Yaitu, ketika dia berbicara soal Abidah. Gadis manis yang sudah memenuhi rongga hatiku. Abidah adalah topik pembicaraan yang takan pernah bosan kubincangkan. Dan dengan membicarakannya, aku benar-benar merasa otakku berguna.
“Tapi lo yakin sama rencan ini Ren?” tanyaku padanya yang kini sedang duduk satu bangku denganku.
“Yakin banget bro. sekeras-kerasnya hati cewek pasti bakal luluh juga kalo diginiin.” Ucapnya ngotot. Seolah kata-katanya adalah yang paling benar dari sekian banyak kata didunia ini.
“Tapi kalo gue ditolak?”
“Yaelah jangan takut bro. Lo kan udah deket juga sama si Abidah.Cowok itu harus yakin.” Ucapnya lagi. Sama ngototnya dengan yang sebelumnya.
“Iya si emang udah deket. Tapi kalo ternyata dia udah suka sama cowo lain?”
“Yaelah tinggal cari cewe lain aja kali bos. Lagian lo ini ganteng. Pasti gampang buat nyari cewek cakep kayak Abidah gitu.” Aku hanya manggut-manggut mendengar ucapannya.Meski ucapannya sangat kotor, kali ini aku berusaha untuk mempercayainya.Ini semua demi Abidah.Dia sangat berharga. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.
*****
Sepulang sekolah aku mengajak Abidah untuk bertemu di belakang Mushola.Ditempat itu ada banyak ruang yang tertutup. Dan itu akan sangat membantu melancarkan ide ini. Ide yang sudah dirancang matang oleh otak tumpul Rendi. Memang sulit, tapi harus dicoba. Otakku sudah terlalu beku untuk mencetuskan ide sendiri. Kepalaku sudah terasa sesak olehnya. Tak ada lagi sesuatu yang bisa dihasilkan oleh tanganku selain untaian puisi yang datang dari hati. Hari ini, dengan segenap jiwa ragaku, akan kupertaruhkan segalanya untuk Abidah. Integritasku sebagai seorang siswa keren disekolah kupertaruhkan disini. Aku akan berlutut dihadapannya. Dan dengan beberapa kata yang sudah kurangkai, aku akan memastikan bahwa dia milikku. Meyakinkannya untuk bersedia mendampingiku. Mengarungi mahligai kehidupan remaja yang begitu indah. Penuh dengan cinta dan kasih yang tak bermuara.
Sudah dua puluh menit aku menunggunya dibelakang Mushola, tapi tak kunjung kudapati wajah mungil berbalut kerudung putih itu.Tanganku mulai berkeringat.Kakiku sedikit bergetar. Tapi mulutku sama sekali tak bergerak. Entah sudah berapa kali aku menelan ludahku sendiri.Badanku terasa panas.Tapi tanganku dingin. Ini semacam demam tanpa disertai flu.Tapi, demam ini terasa indah.Menyiksa namun bermakna.Aku tau aku sedang gugup.Dan saat aku sedang gugup begini, hanya satu hal yang bisa mengobati. Yaitu memejamkan mata lalu membayangkan lekukan indah wajah Abidah. Diwajahnya terdapat sebuah senyum yang hangat.Terasa teduh dan damai dihati.Ada lesung dipipinya. Menambah kesan manis kala dia tersenyum. Dan sorot matanya begitu cerah. Secerah lampu neon ditengah gelapnya malam. Oh Abidah. Kau lah karya Tuhan yang istimewa. Pesonamu begitu anggun.Tawamu terlalu syahdu. Dan cara berfikirmu laksana lautan ilmu yang tak bermuara. Kaulah keindahan dalam keindahan.Hanya dengan membayangkanmu, hatiku terasa begitu sejuk dan damai.
“Sori ya ndra nunggu nya lama. Tadi aku ada urusan bentar sama ketua OSIS.” Tiba-tiba suara itu terdengar ditelingaku.Suara itu terdengar ngos-ngosan.Tapi, tidak mengurangi kesan syahdu dalam dirinya.Suara itu tetap terdengar lembut dan menenangkan.Suara seorang putri yang selalu memenuhi ruang dikepalaku.Seorang putri yang telah singgah dihatiku. Dan hari ini, aku akan membuatnya menetap dihatiku untuk waktu yang lama.
“Ah, iya dah, enggapapa.” Ucapku pelan. Sebisa mungkin kuusahakan agar bibirku tersenyum. Menjaga suasana yang indah ini agar tidak berubah menjadi canggung.
“Emang mau ngomong apaan si ndra?Penting banget ya?” Tanyanya padaku.Aku hanya bisa mengangguk pelan.Momen ini adalah momen yang paling ku suka sekaligus kubenci. Aku merasa gugup tapi senang.Ku pejamkan kedua mataku. Dan dengan sekuat tenaga ku adukan kedua telapak tanganku ini.Menimbulkan bising yang terdengar nyaring. Sedikit mengganggu telingaku dan telinga Abidah.Wajah Abidah terlihat aneh kala dia melihat tingkah anehku.Tapi itu hanya sejenak. Wajah anehnya berubah menjadi bingung kala beberapa bocah bodoh yang kurekrut sebagai tim suksesku menunjukan wujudnya. Mereka semua berjumlah tiga belas orang.Sebagian adalah sahabat-sahabat terbaikku. Dan sebagian lagi adalah adik kelas yang kupaksa untuk bergabung dengan tim suksesku. Dengan satu huruf yang dibawanya masing-masing, mereka berbaris bershaf. Membentuk sebuah kalimat yang indah. Tulisan yang berhasil mengambangkan senyum diwajah Abidah.
Namun sayang, satu adik kelas bodoh itu sedikit merusak rencana.Dia berada ditempat yang salah. Dia seharusnya berada dibarisan keempat dari kanan.Tapi, dia malah berada dibarisan keempat dari kiri. Aku sempat mengumpat dalam hati. Lalu dengan satu pelototan kejamku, dia segera tersadar. Dia menengok ke kanan dan kekiri. Lalu segera berlari menuju posisi yang seharusnya. Dan akhirnya terciptalah sebuah kata indah dari barisan manusia-manusisa bodoh.‘HAPPY BIRTHDAY’ itu lah kata indahnya. Aku senang sekali. juga senang. Dia tertawa sembari menutup mulutnya dengan satu tangan. Aku tidak tau apa yang sudah membuatnya tertawa. Entah kejutan hangat dariku, atau kebodohan tim suksesku. Ah entahlah, yang jelas dia bahagia sekarang.
Tanpa menunggu lama dan tanpa mengurangi rasa hormat, segera kuraih tangan mungilnya. Kakiku berlutut untuk menambah kesan serius. Kubacakan sebuah puisi yang indah dihadapannya. Dia tersenyum malu. Tapi kali ini aku tak bisa melihat senyum itu sepenuhnya. Karena satu tangan mungilnya itu terus-terusan menutup mulutnya sedari tadi. Kupejamkan mataku saat aku selesai membacakan puisi untuknya. Kutarik nafas dengan sekuat tenaga. Kusedot kekuatan alam yang berada disekitarku. Dan dengan satu tarikan nafas, aku akhirnya berhasil mengucapkan satu kalimat akhir. Satu kalimat yang menjadi ujung tombak rencana ini. Satu kalimat itu lah yang kuharap bisa membuat aku dan Abidah menjadi satu.
Abidah tersenyum malu setelah mendengar kalimat itu.Jantungku berdesir lembut kala menatap senyumnya. Dan saat ia mengangguk, aku seperti sedang terbang. Menembus lautan awan dan kebun angkasa. Mencapai nirwana yang tak pernah ada didunia. Sebuah surga yang hanya ada dalam khayalanku. Aku telah sampai disurga itu. Surga yang kini membuatku merasa sangat bahagia. Aku paham sekali dengan maksud dari anggukan dan senyumannya itu. Begitu juga dengan tim sukses bodohku. Bak anak kecil yang sedang menonton sulap murahan, mereka tertawa girang sembari menepuk-nepukan tangan. Tampak bodoh dan menjengkelkan. Tapi tentu saja itu semua kumaafkan.K arena hari ini aku sedang berbahagia. Bahagia sekali. Aku dan Abidah telah menjadi kita. Dan siap mengarungi mahligai kehidupan remaja yang indah. Bersamanya, langkahku akan terasa sangat ringan. Karena dengan kehadirannya, semuanya akan menjadi mudah.