Family (Part I)

 Cerpen Karya : Heru Apri Saputra

Kutatap matanya yang sedang terpejam lekat-lekat. Kembali ku elus pipinya dan juga ku sibakkan rambutnya. Sesekali dia menggeliat dalam pangkuanku. Tapi tidak sampai terbangun. Dia tampak begitu manis. Mungkin ayahnya juga orang yang manis. Tapi sayang, aku sama sekali belum pernah melihat wajah ayahnya. Bahkan meskipun aku lah yang melahirkannya, aku tidak pernah tau siapa yang sudah membuatku mengandungnya. Hatiku selalu terasa sakit tiap kali aku mengingat kejadian itu. 

Kutarik nafas yang panjang. Lalu kuhembuskan perlahan. Sudah lima tahun aku meninggalkan kota kecil ini. Dan sudah lima tahun juga aku merasa begitu lemah. Aku seperti seorang pecundang yang lari dari getir dan kerasnya kehidupan. Memilih jalanku sendiri dan bersembunyi dalam sebuah bayangan. Mataku memandang ke sekitar. Meresapi indahnya kota Lampung yang tidak banyak berubah. Hanya ada beberapa bangunan baru yang nampak lebih tinggi dari bangunan-bangunan disampingnya. Semua masih hampir sama. Suasana kota Lampung yang sangat khas memaksaku kembali melakukan flashback dan kembali pada masa-masa itu. Sebuah masa yang memaksaku merasakan pahitnya menjadi seorang wanita. Selalu diperlakukan seenaknya dan selalu di rendahkan. 

Semua bermula lima tahun lalu, saat aku sedang duduk di bangku SMA kelas XII. Semuanya terasa begitu cepat. Kala itu, temanku sedang merayakan pesta ulang tahunnya. Pesta itu diadakan malam hari. Aku tidak mungkin tidak datang ke acara bahagia temanku itu. Dia adalah satu-satunya sahabat terbaikku. Seorang gadis yang sejak SMA selalu menemaniku. Dialah tempat terbaikku mencurahkan segala kerisauan dan kegundahan yang menjalar dalam hati dan pikiranku. Namanya adalah Annisa. Annisa Riski Amalia. Dia hanya tinggal bersama dengan kakaknya. Orang tuanya sedang sibuk melakukan perjalanan bisnis keluar negeri, sehingga mau tak mau dia pun dituntut untuk betah tinggal hanya berdua dengan kakaknya. 

Kondisi rumah yang sepi membuat semua tamu undangan bisa merasakan kebebasan. Tak ada yang merasa terkekang malam itu. Teman-teman Annisa dan juga teman kakaknya tampak larut dalam sebuah kebahagiaan. Ada banyak sekali botol minuman yang bisa diminum secara gratis disana. Dan ini lah salah satu kesalahan terbesarku. Kesalahan yang tak sengaja kuperbuat pada malam itu. Malam dimana sebuah bencana terbesar dalam hidupku terjadi. 
Malam itu Annisa memintaku untuk minum bersamanya. Awalnya aku menolak, tapi dia terus memaksaku. Hingga akhirnya aku pun mau menuruti permintaannya dan bersedia minum bersamanya. Kepala ku terasa sangat pusing malam itu. Dan malampun semakin larut. Karena kepalaku terasa begitu sakit, akhirnya aku memutuskan untuk tidur lebih dulu di kamar Annisa. 
Namun, betapa hancurnya perasaanku. Karena saat aku terbangun dari lelap tidurku, kudapati ada bercak darah di sprei kasur Annisa. Selangkanganku terasa begitu sakit. Dan baju bagian atas ku juga tampak terbuka. Sontak air mataku langsung menetes deras. Aku mengumpat sebisaku kala itu. Dan saat aku beranjak dari tidurku, nampak Annisa sedang tidur di kamar yang lain. Aku benar-benar bingung tidak tau apa yang harus ku lakukan kala itu. Yang aku tau saat itu hanyalah menangis. Yaah, hanya menangislah saat itu yang bisa aku lakukan. Aku menangis di samping Annisa yang masih tampak pulas dalam tidurnya. Berharap dia akan segera bangun dan kemudian bisa menjelaskan apa yang telah terjadi padaku semalam. Tapi tangisku tak cukup keras untuk membangunkannya. Ku goyang-goyangkan tubuh Annisa, berharap dia akan segera terjaga dari tidurnya. Tak banyak kata yang bisa terucap kala itu. Hanya deraian air mata yang mengalir deras dari mataku. Sampai akhirnya setelah cukup lama aku menggoyang-nggoyangkan badannya, diapun terjaga. Dia tampak kebingungan melihat kondisiku. Dia tampak begitu khawatir. Aku menjelaskan semua yang aku rasakan. Dan akhirnya Annisa sadar tentang apa yang sudah aku alami. Dia tak henti-hentinya mengucap maaf padaku. Dia mengaku benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam karena memang dia sedang dalam keadaan mabuk saat masuk ke kamar. 

Tapi semuanya sudah berlalu. Aku memaafkannya. Aku sadar aku juga sudah berbuat salah pada diriku sendiri. Setelah itu aku membersihkan diriku dan segera pulang. Saat itu ujian nasional sudah berakhir. Selayaknya siswa SMA kelas XII pada umumnya, aku mendapatkan libur yang panjang. Dan dengan libur panjang ini, aku bisa menenangkan diriku dirumah. Aku merasa begitu terpukul atas kejadian itu. Tak pernah kubayangkan diusia ku yang masih sangat muda ini, aku harus kehilangan kesucianku. Dan parahnya lagi, aku tak pernah tau siapa yang telah merenggut kesucianku. Aku takut. Aku takut kalau sampai aku mengandung. Aku sama sekali tidak siap dengan hal itu. Orang tua ku pasti akan marah besar. Dan aku tidak akan bisa melanjutkan pendidikan di Universitas impianku. 

Kala itu aku duduk termenung di ruang tamu sendirian. Meratapi tragisnya kisah hidupku. Bayanganku selalu melambung jauh. Terbang tinggi menuju hal-hal yang tak pernah kuinginkan. Dan aku hanya bisa terdiam. Sama sekali tak banyak yang bisa kulakukan atas nasibku ini. Laksana bubur yang takan bisa diubah menjadi nasi, kisah sedihku pun takan pernah bisa diubah menjadi bahagia. Aku merasa begitu lemah. Jatuh dan terhempas kedalam lubang yang tak pernah ku buat. Aku juga tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku sendiri. Yaah, hanya itu yang bisa kulakukan. 

Seandainya malam itu aku tidak datang ke pesta ulang tahun Annisa. Seandainya malam itu aku tidak meminum minuman haram itu. Seandainya malam itu aku tidak tidur di kamar Annisa. Seandainya dan seandainya. Ribuan kata pengandaian masuk kedalam pikiranku. Menggerogoti logikaku sedikit demi sedikit. Membuat hatiku terasa semakin ngilu. Yaah, sayangnya sejarah tak pernah berandai-andai. Karena ribuan bahkan jutaan kata pengandaian yang ku lontarkan sekarang tak akan bisa merubah apa pun. Hanya bisa membuat lubang di hati ku terasa semakin dalam dan sakit. 

Saat aku sedang melamun diruang tamu. Annisa datang berkunjung kerumahku. Dia masih tampak sedih atas kisahku. Tapi kesedihannya tak bisa membuat mulutnya yang jalang berhenti untuk bercerita panjang. Dia adalah sahabatku yang selalu suka bercerita, dan aku adalah sahabatnya yang selalu suka mendengarkan ceritanya. Ironisnya, gara-gara persahabatan kami yang indah ini, aku harus merasakan sakit. Sakit yang membuat hidupku hancur dan menghempaskanku jatuh kedalam lubang penderitaan yang mengerikan. 

Saat sedang asik mendengar cerita Annisa, tiba-tiba perutku terasa begitu mual. Seperti ada sesuatu yang menendang-nendang perutku. Sesuatu yang terasa kecil, tapi sangat mengganggu. Aku pun segera berlari menuju ke kamar mandi. Merasa sangat tidak tahan akan rasa mual yang bergeliat. Sesampainya dikamar mandi aku langsung muntah. Tapi hanya ada air yang keluar dari mulutku. Dan itu terasa begitu pahit. Memang pagi ini aku tidak sarapan karena masih merasa frustasi. Tapi tidak kusangka, efek tidak sarapan akan separah ini. 

Annisa tampak kebingungan dengan tingkahku ini. Dari sorot matanya itu aku tau kalo dia sedang sangat khawatir padaku. Bahkan kekhawatirannya tampak besar. Melebihi kekhawatiranku pada diriku sendiri. Saat itu yang ada dalam pikiran kami sama. Aku tau itu. Tak ada tempat lain yang harus segera kami tuju selain apotek. Rasa malu dan gengsi sudah hilang dari kamus kami kala itu. Tak ada yang lebih penting selain mengetahui kondisiku segera. Dan ketakutan yang selama ini kubayangkan pun benar-benar terjadi. Aku dan Annisa benar-benar melihat dua garis merah di alat itu. Dua garis merah yang segera membuat kepalaku terasa begitu sakit. Dua garis merah yang mengaburkan pandanganku. Lalu seketika membuatku terjatuh lemas. Aku pingsan saat aku tau bahwa aku hamil tanpa suami! 

Lanjutkan ke bagian berikutnya