Surat Cinta Untuk Ibunda

Cerpen Karya : Intan Citra Andini

Ibu, hari ini aku ingin bercerita padamu. Hari ini aku telah diwisuda, dan kini aku sudah resmi menjadi seorang sarjanah. Terimakasih bu, ini semua berkat dirimu. Kau memang tidak memberiku harta untuk hidup. Kau juga tak memberiku biaya untuk kuliah. Tapi, kau telah memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu semua. Kau memberiku sebuah ilmu dan prinsip dasar untuk hidup. Kau lah yang telah mengajarkan padaku bagaimana cara hidup yang baik dan benar. Kau mengajarkan padaku sebuah prinsip dasar moral, hukum, keadilan, hak asasi, dan juga keikhlasan. Kau lah yang telah membantuku untuk tetap teguh pada pendirian, mengajariku cara beristiqomah dalam ketekunan, dan kau juga lah yang telah mengajariku cara untuk bisa memperjuangakan serta menggapai cita-cita. 

Pikiranmu begitu jernih dan kata-katamu selalu bercahaya. Kalbuku selalu bergetar tatkala kau menasihatiku. Memberiku suntikan semangat dan membasuh luka yang ditorehkan oleh kekejaman dunia. 
Kau selalu bisa mengobati rasa dahagaku akan ilmu pengetahuan. Laksana oasis di tengah panasnya padang sahara, kau memberikanku sebuah kesegaran dan kesejukan yang tiada terkira. Kau lah lautan ilmu pengetahuan yang tak bermuara. Sebuah sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang telah ditingalkan. 

Kau lah yang telah mengajariku untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya. Kau membuatku mengerti apa itu arti sebuah keikhlasan, rela berkorban untuk sesama, dan juga mengajari ku bagaimana cara menemukan keindahan dalam segala keterbatasan dengan rasa syukur. 

Kau telah membantuku menemukan sebuah kebahagiaan dalam hidup yang lekat dengan keterbatasan. Karenamu, aku mengerti bagimana cara berjuang melawan peliknya kehidupan. Kaulah yang telah mengobarkan api semangat dalam jiwaku. Menggetarkan benang-benang halus di dalam kalbu. 

Amar makruf nahi munkar. Itulah ideologi yang kau tanamkan dalam hidupku sejak dini. Membuatku menjadi orang yang rela berkorban untuk sesama. Berjuang dalam kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Kau memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Sebuah prinsip hidup yang luar biasa. Pegangan moral yang akan selalu ku pakai sampai akhir hayatku. 

Kau mampu membuatku tak kenal lelah. Pantang menyerah demi menggapai sebuah mimpi. Kau lah orang pertama yang membuatku berani bermimpi. 
Dalam keterbatasan kau selalu setia menemaniku. Menopangku untuk bisa sampai ke level yang lebih tinggi. Membantuku semakin dekat dengan mimpiku. 

Tatkala aku lelah dan mulai lupa dengan mimpiku, kau lah orang pertama yang menggenggam tanganku. Membisikan kata-kata manis dan mengingatkanku akan mimpi-mimpiku. Terimakasih ibu, aku sangat mencintaimu. 

Sayangnya, saat aku bisa meraih salah satu mimpiku, kau sudah tak bisa lagi berdiri di sampingku. Jika saja saat ini kau ada di sampingku, aku yakin aku lah orang yang paling bahagia di dunia ini. Kehadiranmu selalu bisa mengambangkan senyum diwajahku. Membuatku merasa nyaman dan membuat semuanya jadi lebih istimewa. 

Aku benar-benar merindukanmu bu.
Meski kau tak di sisiku, tapi aku yakin, kau pasti menatapku dari sana. Dari dunia yang telah di siapkan Tuhan untukmu. Kau pasti tersenyum melihat anakmu ini sudah bisa menjadi sarjanah. Sebuah kata yang dulu sama sekali tak pernah ada dalam pikiranku. Sampai akhirnya kau menyadarkanku. Membangunkanku dari tidur panjang yang melelahkan. Kau membuatku berani bermimpi. Dan karenamu, aku jadi berani untuk menjadi seorang sarjanah. 

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya nak.” Itulah yang kau ucapkan pada ku kala itu. Sebuah kalimat yang kau kutip dari Al-qur’an, dan sudah berkali-kali dilontarkan oleh ratusan ulama yang kemudian hanya dianggap angin lalu oleh jutaan umat. Tapi, saat aku mendegngarnya darimu, kalimat itu terasa sangat berbeda. Seperti sebuah mantra yang memberiku semangat untuk terus berjuang. Merasuk lembut kedalam relung jiwa, lalu menggetarkannya secara perlahan. 

Terimakasih ibu, aku sangat mencintaimu. Kau telah menorehkan lukisan indah di dalam kalbuku. Tak banyak yang bisa ku berikan padamu. Hanya sebuah toga yang kini ada di tanganku. Sebuah toga yang dulu sama sekali tak berani kubayangkan. Karenamu lah, toga ini bisa berada di tanganku sekarang. Dan akan ku persambahkan toga ini untukmu. Seorang wanita tangguh yang tak pernah lelah membingku. Juga wanita tangguh yang sampai akhir hayatku akan terus kucinta. Semoga kau tenang di syurgaNya. 

Salam hangat 

Anakmu yang sekarang sudah jadi sarjanah.