Surat Untuk Ibu

Cerpen Karya : Intan Citra Andini

Ibu, besok aku akan berangkat ke Kanada untuk melanjutkan pendidikanku. Aku tidak akan memintamu mendo’akanku karena aku tau di alam sana kau tak lagi bisa berdoa untukku. Sebelum berangkat, aku ingin menulis surat untukmu. Kau bisa menyebutnya surat cinta atau pun semacamnya. Yang jelas hari ini aku ingin menulis surat untukmu. Ada banyak sekali yang ingin kusampaikan padamu. Aku ingin meminta maaf, berterima kasih, dan juga bercerita banyak padamu. 

Aku ingin meminta maaf padamu bu. Aku benar-benar meminta maaf karena tak bisa menjagamu dari keganasan glaucoma. Aku juga minta maaf karena sampai akhir hayatmu aku tak bisa memberikanmu seorang cucu. Aku tau pasti kau sangat menginginkannya. Sekalipun kau tidak bisa melihatnya, kau pasti juga akan tersenyum kala mendengar suaranya. 
Aku juga minta maaf bu, karena aku sudah terlalu sering mengabaikanmu. Tak mendengarmu dan selalu sibuk dengan diriku sendiri. 
Aku benar-benar minta maaf. Kau selalu ada untukku dan tak pernah lelah membelaiku dengan sentuhan kasihmu. Tapi, sampai akhir hayatmu aku masih belum bisa membalas segala kebaikanmu. Aku merasa sangat buruk. Aku tau aku terlalu sering meminta sesuatu padamu. Aku juga sering membuatmu menangis karena ulahku. 
Seperti di malam itu, saat kau menangis di tengah malam. Aku terjaga karena suara tangismu mengusik tidurku. Saat itu aku tidak mau bangun karena takut mengganggumu. Kau tampak begitu khusuk di tempat sholat. Meski suaramu pelan, aku masih bisa mendengarnya saat itu. Kau menyebut namaku dalam percakapanmu dengan Tuhan. Yah, kau benar-benar menyebut namaku. Dalam do’amu kau selalu memohon padaNya agar hidupku terjamin. Agar aku bisa menjadi orang yang sukses dan bisa berguna bagi bangsa. 
Di malam itu lah aku tau ternyata kau benar-benar mencintaiku. Dalam keheningan malam, air mataku menetes. Kata-katamu telah sukses menyelinap ke dalam relung jiwaku. Mengaduk-ngaduk perasaanku dan menjebol bendungan di pelupuk mataku. 
Aku tau ada air mata dalam percakapanmu dengan Tuhan. Aku yakin sekali saat kau menyebut namaku dalam doamu, air matamu pasti menetes. Karena aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan setiap sentuhan kasih yang kau berikan. Hanya kau lah yang benar-benar bisa membuatku merasa berharga, membuatku merasa begitu dicintai, dan membuatku merasa amat bahagia. 

Aku benar-benar berterimakasih padamu bu. Dan aku juga ingin kau tau bahwa aku sangat mencintaimu. Meski aku tau, cintaku padamu tidaklah mungkin bisa melebihi cintamu padaku. Karena aku merasakannya. Sebuah cinta dan ketulusan yang amat besar darimu. 
Sayang seribu sayang. Sebelum doamu terkabul kau sudah harus lebih dulu pergi menghadap Yang Maha Kuasa. 
Seandainya saja dulu aku bisa mengobati glaucoma yang kau derita bu, seandainya saja dulu aku punya banyak kekuatan untuk menggantikan posisimu, seandainya saja dulu aku bisa menemukan mata baru untukmu, mungkin kau masih bisa melihatku sampai saatnya tiba. Saat yang kau tunggu-tunggu. Saat dimana doa dan air matamu dijawab oleh Tuhan. Saat dimana semua yang kau ucapkan dalam tangismu dikabulkan oleh Tuhan. Juga saat dimana aku bisa sukses dan bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa. 
Tapi sayangnya, sejarah tak pernah berandai-andai. Karena yang lalu telah berlalu, maka yang sudah telah bersudah. Kini kau sudah tenang di alam sana. Menikmati indahnya keteduhan di dalam kuburmu. Memandangiku jauh dari alam yang berbeda. 
Sekali lagi maafkan aku bu. Aku tidak bisa membantumu mengatasi glaucoma yang kau derita. Aku juga tak punya banyak kekuatan untuk menggantikan posisimu. Aku tak mampu menemukan mata baru untukmu hingga akhirnya kau harus berpulang ke Rahmatullah sebelum doamu terkabul. Sekali lagi, maafkan aku. 
Aku juga ingin berterimakasih padamu. Aku sangat berterimakasih karena kau telah bersedia menjadi ibuku. Menjadi seseorang yang tak kenal lelah menasihatiku, membimbingku menuju jalan yang lurus. Membawaku menuju masa depan yang terang benderang. Kasih yang kau berikan padaku laksana hembusan angin pagi. Begitu damai dan menyejukkan. 
Kau lah orang pertama yang mengajariku banyak hal. Kau lah orang pertama yang memberiku arahan untuk hidup. Menanamkan sebuah ideologi dan juga prinsip-prinsip dasar kehidupan. Kau lah muara dari segala kesegaran dalam hidupku. 
Dengan candamu, kau selalu bisa mengambangkan tawa diwajahku. Dengan sentuhan kasihmu, kau selalu bisa membuat senyum melekat diwajahku. Dan kini, dengan segala doamu, kau telah bisa membuatku meraih mimpiku. Terimakasih bu, aku sangat mencintaimu. 
Aku tau, tak sekalipun kau melewatkan malam tanpa doa untukku. Kau selalu meminta agar Tuhan senantiasa menjaga dan melindungiku. Dan setelah selesai berdoa, kau selalu berjalan ke kamarku. Menaikan selimutku lalu mengecup lembut keningku. Dengan tenang kau melakukan semuanya untukku. Sampai aku tak memiliki kekuatan untuk bisa beranjak dari tempat tidur. Sentuhan kasihmu selalu bisa mengantarku terlelap menuju dunia mimpi yang begitu indah. 

Terimakasih bu. Kini aku telah bisa meraih mimpiku bu. Sebuah mimpi yang dulu pernah ku ucapkan padamu. Aku yakin kau pasti masih mengingatnya. Saat dimana kau menemaniku memandangi langit. Saat itu kau menunjuk sebuah awan yang tebal di atas sana. Dengan tegas kau mengatakan bahwa awan itu mirip seperti benua Amerika. Lalu dengan polosnya aku menentukan mimpiku. 
“Aku ingin pergi ke benua Amerika suatu saat nanti bu.” Itulah yang ku ucapkan padamu saat itu. Kau tampak sumringah mendengar ucapanku. Lalu menciumi pipiku dengan gemas. Memelukku lembut dan mendoakan semua impianku. 
Sekali lagi terimakasih bu. Terimakasih untuk segala yang telah kau torehkan dalam hidupku. Aku benar-benar mencintaimu. Sekalipun cinta yang kau berikan padaku itu lebih besar, percayalah aku sangat-sangat mencintaimu. Semoga Tuhan akan bisa mempertemukan kita di keindahan yang lain. Di dalam syurga yang kekal. Di sebuah benua yang jauh lebih indah dari benua Amerika.

Salam Hangat

Anakmu yang kini sudah jadi orang Amerika.