Cerpen Karya : Redha Muamar Alfath
Matahari hari ini terasa lebih terik dari biasanya. Cuaca terasa begitu panas. Membuat keringat terus bercucuran dari tubuhku. Hari ini dosenku kembali mengadakan quiz. Beruntung, aku berhasil mendapat contekan yang menjanjikan. Hingga akhirnya aku bisa melewati quiz ini tanpa ada suatu halangan apa pun. Hari ini aku bertemu dengan Cinta. Matanya tampak sembap. Dia pasti sudah menguras air matanya semalaman. Aku memandangnya intens tapi dia sama sekali tidak menatapku. Mungkin dia masih marah padaku.Atau mungkin dia sudah sangat marah padaku. Aku tau dia pasti sangat membenciku. Aku adalah manusia paling buruk yang pernah dikenalnya. Tidak pernah kusangka semua akan berakhir seperti ini. Kenapa juga harus ada kebahagiaan jika akhirnya harus seperti ini. Kenapa juga harus ada Cinta jika kehadirannya hanya akan melahirkan luka. Ah, Cinta terlalu rumit. Atau mungkin cinta terlalu sederhana untuk kumengerti. Entahlah, aku seperti hidup didunia yang tak pernah menjadi duniaku sendiri.
Aku kembali duduk dibawah pohon cemara dekat kampusku.Tempat ini adalah tempat terbaik yang bisa kusinggahi saat hati dan pikiranku sedang kacau seperti ini. Aku menatap sekeliling. Dan kali ini aku kembali mendapati dua sosok sejoli yang sedang memadu kasih. Rangga. Dia sepertinya benar-benar sudah tidak percaya dengan cinta. Kali ini dia kembali bercumbu dengan wanita yang berbeda dengan sebelumnya. Sepertnya dia sudah mulai gila. Aku tau siapa dia. Aku sudah mengenalnya lebih dari lima tahun. Dan dia bukanlah tipe orang yang suka bermain-main dengan perasaan.
Tapi kali ini, dia benar-benar berbeda. Cinta telah membuatnya kehilangan cinta. Dia seperti terobsesi pada rasa sakitnya sendiri. Lalu melampiaskannya pada setiap wanita yang berhasil ia luluhkan. Menyedihkan. Bagaimanapun juga aku lah yang telah membuatnya seperti ini. Aku benar-benar merasa bersalah. Sepertinya sampai kapanpun aku tak akan pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri. Maafkan aku Rangga.
Saat aku sedang menatapnya, tiba-tiba dia menoleh kearahku. Aku tidak begitu yakin dia sedang menatapku sekarang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi memang tidak ada orang lain selain diriku disini. Saat aku kembali memalingkan pandangaku kearahnya, dia sudah berjalan kearahku. Aku tidak yakin aku bisa berbicara padanya. Perasaanku campur aduk saat aku menatap wajahnya. Dan kurasa dia juga merasakan hal yang sama padaku.
“Nanti malam temui aku diatas gedung bintang.” Hanya tujuh kata yang mampu dia ucapkan saat dia sudah berada dihadapanku. Sepertinya dia berusaha keras meredam emosinya. Sama persis dengan apa yang sedang aku lakukan sekarang.
Tapi tunggu dulu, gedung bintang? Dia masih mengingatnya? Ah, bahkan aku sudah hampir lupa dengan tempat itu. Entah sudah berapa lama aku tidak mengunjunginya. Tapi apa tujuannya mengajakku bertemu di atas gedung bintang?
Sebelumnya kami hanya mengobrol sembari menikmati beberapa gelas minuman diatas sana. Dulu kami masih sangat akrab. Gedung bintang adalah sebuah gedung tua yang tak berpenghuni. Dan diatasnya adalah tempat dimana aku dan Rangga saling berbagi mimpi. Gedung bintang adalah basecamp kedua kami setelah kamar kost.Sepertinya dia ingin membicarakan hal yang benar-benar penting denganku.
Setelah mengucapkan tujuh kata itu, lalu dia segera kembali pada wanitanya. Dia merangkul gadis itu lalu mengecup bibirnya sekilas. Sepertinya Rangga benar-benar sudah berubah menjadi seorang bajingan sekarang.
*****
Sesuai dengan tujuh kata yang diucapkan Rangga tadi siang, malam ini aku bersiap-siap untuk segera menemuinya di gedung bintang. Aku memang tidak tau apa yang ingin dibicarakannya. Tapi malam ini aku akan menuntaskan semuanya. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Aku marah padanya dan aku ingin dia segera kembali padaku. Hidupku benar-benar terasa sulit saat Rangga sudah tidak menjadi sahabatku lagi. Rasanya sangat konyol saat aku harus bersikap seolah aku dan Rangga tidak pernah saling mengenal. Ini benar-benar memuakkan. Dan malam ini aku akan mengakhiri semua drama konyol ini. Aku benar-benar benci dengan situasiku sekarang.
Dengan menggunakan motor aku berangkat menuju gedung bintang sendirian. Yah, benar-benar sendirian sekarang. Aku hanya bisa tersenyum geli mengingat sekarang aku sudah tak punya lagi sahabat ataupun kekasih disisiku. Hidupku benar-benar begitu rumit. Selama dalam perjalanan tak ada yang kupikirkan selain menyiapkan kata-kata untuk menghakiminya. Aku benar-benar gugup dan canggung. Tidak kusangka aku akan segugup dan secanggung ini bahkan hanya untuk bertemu dengan Rangga.
Sekitar dua puluh menit aku mengendarai motorku, akhirnya aku sampai juga digedung bintang.Tak mau menunggu lama, aku langsung berjalan menuju keatas. Aku sudah tidak sabar ingin menghajar wajah Rangga. Sesampainya diatas kulihat Rangga sedang duduk sendirian. Dari penampilannya kurasa dia juga baru sampai beberapa saat yang lalu. Dihadapannya sudah ada beberapa botol minuman. Sepertinya dia ingin mengulang kisah klasik yang menyedihkan.
“Minumlah.Dan kita akan bisa merasa bebas.” Dia melemparkan satu botol minumannya kearahku. Dengan sigap aku pun menangkap botol minuman itu. Terasa geli karena memang dulu kami sering sekali melakukan hal semacam ini.
Tak mau menunggu lama aku pun langsung menenggak isi dalam botol minuman itu. terasa sedikit pahit tapi aku suka. Rasanya nikmat. Ternyata dia belum kehilangan selera minumannya. Disaat yang sama dia juga menenggak minuman itu. Tak butuh waktu lama kini botol minuman di tangan kami sudah kosong. Aku benar-benar bisa menikmati minuman ini.
“Praaaang!!!” “Apa yang sudah kau lakukan pada Cinta?!!” Dia membanting botol minumannya lalu membentakku dengan segera. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja emosinya meluap-luap.
“Aku melakukan ini semua demi dirimu bodoh!!!”Akhirnya aku bisa mengeluarkan kata-kataku dihadapannya. Aku tidak tau dari mana kekuatan ini datang. Tapi kali ini emosiku benar-benar sudah naik ke atas ubun-ubun.
“Plaaak!!!”Satu tamparan keras mengenai wajahku. Aku pun langsung mencengkram kerah bajunya dan siap membalas. Baku hantam sudah tak bisa lagi terelakan. Benar-benar seperti anak SD yang sedang berebut mainan. Ternyata sampai kapanpun pukulan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah diantara dua pria.
“Apa maumu hah?!!! Kau sama sekali tak berhak mengasihani ku!! Kau sudah merebut Cinta dari ku dan beraninya kau membuat dia menangis!!! Apa kau tak tau betapa berharganya dia dalam hidupku!!!!” “jeduuug!!!” teriakannya berakhir dengan sebuah pukulan yang mendarat diwajahku dengan telak.
“Dasar bodoh!!! Aku melakukan semua ini untukmu!!! Aku ingin kau kembali padaku karena itu aku meninggalkan Cinta!!! Aku lah yang lebih dulu mencintai Cinta. Kau sama sekali tak berhak menantang apa yang sudah aku lakukan padanya. Dia adalah milikku!!!” “Jedaaag!!!” kali ini akulah yang berteriak padanya. Anehnya, dia sama sekali tak menghindari pukulanku. Dia seperti ingin merasakan pukulan terkeras dari tanganku. Sampai akhirnya kini ada jarak sekitar satu meter diantara kami.
“hah..hah…hah…” Nafas kambi terdengar saling memburu kali ini.
“Rendi!!!!.” “Rangga!!!!” teriakan kami terdengaar begitu keras secara bersamaan. Ini benar-benar seperti pertarungan antara dua tokoh kartun dalam serial anime yang sering aku tonton. Menggelikan.
“Hentikan!!!!”Suara itu terdengar begitu keras saat pukulanku hampir mengenai wajah Rangga.Tangan Rangga pun kini sudah berjarak beberapa centi dari wajahku. Jika dia tidak menahan pukulannya kurasa aku akan benar-bener masuk rumah sakit setelah ini.
“Hentikan…. Tolong hentikan…” Kami berdua menoleh ke arah sumber suara. Dan kudapati sosok Cinta sedang berlutut. Air matanya benar-benar sudah mengalir deras. Entah sejak kapan air matanya mengalir, tapi sepertinya dia sudah menangis sejak dalam perjalanan. Aku tidak tau dari mana dia mengetahui keberadaan kami. Mungkin Rangga lah yang sudah memberitahunya.
“Rendi… Rangga… tolong hentikan semua ini. Semua ini sudah berakhir. Kita akan berdamai. Tak akan ada lagi darah ataupun air mata diantara kita. Aku mohon..berdamailah untukku.” Dia berjalan kearah kami masih dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Dan begitu dia sampai dihadapan kami, tiba-tiba saja dia kembali berlutut. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Sekali lagi aku mohon…”
“Arrrgh!!!” kini Rangga berteriak sembari menjambaki rambutnya sendiri. Dia benar-benar sudah frustasi.Melihat dua orang yang aku sayangi berada dalam keadaan kacau seperti ini benar-benar membuat hatiku terasa sakit. Saat aku memandangi wajah Rangga, kulihat ada air mata diwajahnya. Yang benar saja, Rangga? Menangis? Sulit kupercaya tapi kali ini Rangga benar-benar menangis. Selama lima tahun lebih aku mengenalnya, baru kali ini aku melihat Rangga menangis. Air mata diwajahnya kini sudah bersatu dengan darah di ujung bibirnya. Sepertinya rasa sakit dalam dirinya benar-benar menyiksa.
“Kau bodoh Rendi!!!”Dia mendekap tubuhku dan memeluk tubuhku erat. Terasa menjijikan jika aku ingat yang memelukku adalah Rangga. Dia menepuk-nepuk pundakku dan kini aku benar-benar bisa merasakan kesedihannya. Tanpa kusadari air mataku kini ikut menetes. Sama sekali tak bisa ku kontrol. Tak hanya air mataku, kini aku juga tak bisa mengontrol tanganku sendiri. Kini aku membalas pelukan Ranga. Kurasa aku benar-benar merindukan sosoknya.
Tunggu.. Aku? Menangis? Bodoh sekali. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis. Tidak kusangka perasaanku akan menjadi sekacau ini. Ini benar-benar sebuah kenyataan yang menyedihkan.
“Maafkan aku…” Kini mulutku yang sama sekali tak bisa ku kontrol. Dia bergerak dengan dengan sendirinya.Dan aku? meminta maaf pada Rangga? Hah, ini sama sekali tidak ada dalam skenarioku. Tapi ini benar-benar terjadi.
Rangga mengeratkan pelukannya ditubuhku dan aku masih bisa merasakan air matanya membasahi punggungku. Lalu, tiba-tiba aku merasa ada pelukan lain. Ternyata Cinta ikut memeluk kami. Benar-benar bodoh! Apakah setelah ini aku harus mengganti namaku menjadi Dipsi?!Atau haruskah aku berperan sebagai Tinky Winky?! Ini konyol, tapi nyata. Tiga orang mahasiswa berpelukan bersama dengan air mata membasahi wajah mereka masing-masing. Kurasa ini bukan hanya sekedar konyol. Ini lebih condong kearah menjijikan.
******
Akhirnya drama tele**bies yang menjijikan berakhir. Kini aku, Rangga, dan Cinta duduk bersama memandangi langit. Dengan sisa minuman yang dibawa Rangga, kami masih bisa bersenang-senang malam ini. Aku sama sekali tidak mempedulikan darah yang ada diwajahku. Begitu juga dengan Rangga. Dia sama sekali tidak mau menghapus darah diwajahnya . Dan anehnya,kami bertiga kali ini bisa tertawa lepas setelah sebelumnya menangis tersedu-sedu. Mungkin ini efek dari minuman yang kami minum. Tapi bagiku tidak masalah.Aku senang semuanya berakhir dengan tawa.
Malam ini aku dan Rangga kembali melakukan aktivitas klasik kami. Memandangi bintang dengan ditemani minuman di tangan kami masing-masing. Dengan lantang kami meneriakan mimpi kami disini. Menunjuk satu bintang lalu membuat harapan yang indah. Dan kami berimajinasi bahwa bintang itu akan jatuh. Dengan begitu harapan kami akan segera terwujud.
Tapi, ada yang berbeda malam ini. Malam ini ada Cinta diantara kami. Meski pada awalnya dia lah yang memisahkan kami, tapi pada akhirnya dia jugalah yang menyatukan kami. Dan berkat dia, kini aku percaya satu hal. Tidak ada yang namanya ‘mantan’ dalam hubungan persahabatan. Sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun dia tetaplah sahabatku.Tidak peduli sebesar apapun tembok yang membatasi hubungan kami, aku percaya kami pasti bisa mengahancurkannya.
Malam ini aku benar-benar merasa akulah orang yang paling bahagia di dunia. Karena saat ini aku sedang bersama dengan dua orang yang aku sayangi. Cinta dan Rangga. Mereka berdua akan membuat langkahku menjadi ringan. Dan bersama mereka, aku yakin segala sesuatunya akan tampak jauh lebih mudah. Kami seperti tripod sekarang. Jika salah satu dari kami tumbang, maka kami tak akan bisa berdiri lagi.
Setelah mengucapkan tujuh kata itu, lalu dia segera kembali pada wanitanya. Dia merangkul gadis itu lalu mengecup bibirnya sekilas. Sepertinya Rangga benar-benar sudah berubah menjadi seorang bajingan sekarang.
*****
Sesuai dengan tujuh kata yang diucapkan Rangga tadi siang, malam ini aku bersiap-siap untuk segera menemuinya di gedung bintang. Aku memang tidak tau apa yang ingin dibicarakannya. Tapi malam ini aku akan menuntaskan semuanya. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Aku marah padanya dan aku ingin dia segera kembali padaku. Hidupku benar-benar terasa sulit saat Rangga sudah tidak menjadi sahabatku lagi. Rasanya sangat konyol saat aku harus bersikap seolah aku dan Rangga tidak pernah saling mengenal. Ini benar-benar memuakkan. Dan malam ini aku akan mengakhiri semua drama konyol ini. Aku benar-benar benci dengan situasiku sekarang.
Dengan menggunakan motor aku berangkat menuju gedung bintang sendirian. Yah, benar-benar sendirian sekarang. Aku hanya bisa tersenyum geli mengingat sekarang aku sudah tak punya lagi sahabat ataupun kekasih disisiku. Hidupku benar-benar begitu rumit. Selama dalam perjalanan tak ada yang kupikirkan selain menyiapkan kata-kata untuk menghakiminya. Aku benar-benar gugup dan canggung. Tidak kusangka aku akan segugup dan secanggung ini bahkan hanya untuk bertemu dengan Rangga.
Sekitar dua puluh menit aku mengendarai motorku, akhirnya aku sampai juga digedung bintang.Tak mau menunggu lama, aku langsung berjalan menuju keatas. Aku sudah tidak sabar ingin menghajar wajah Rangga. Sesampainya diatas kulihat Rangga sedang duduk sendirian. Dari penampilannya kurasa dia juga baru sampai beberapa saat yang lalu. Dihadapannya sudah ada beberapa botol minuman. Sepertinya dia ingin mengulang kisah klasik yang menyedihkan.
“Minumlah.Dan kita akan bisa merasa bebas.” Dia melemparkan satu botol minumannya kearahku. Dengan sigap aku pun menangkap botol minuman itu. Terasa geli karena memang dulu kami sering sekali melakukan hal semacam ini.
Tak mau menunggu lama aku pun langsung menenggak isi dalam botol minuman itu. terasa sedikit pahit tapi aku suka. Rasanya nikmat. Ternyata dia belum kehilangan selera minumannya. Disaat yang sama dia juga menenggak minuman itu. Tak butuh waktu lama kini botol minuman di tangan kami sudah kosong. Aku benar-benar bisa menikmati minuman ini.
“Praaaang!!!” “Apa yang sudah kau lakukan pada Cinta?!!” Dia membanting botol minumannya lalu membentakku dengan segera. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja emosinya meluap-luap.
“Aku melakukan ini semua demi dirimu bodoh!!!”Akhirnya aku bisa mengeluarkan kata-kataku dihadapannya. Aku tidak tau dari mana kekuatan ini datang. Tapi kali ini emosiku benar-benar sudah naik ke atas ubun-ubun.
“Plaaak!!!”Satu tamparan keras mengenai wajahku. Aku pun langsung mencengkram kerah bajunya dan siap membalas. Baku hantam sudah tak bisa lagi terelakan. Benar-benar seperti anak SD yang sedang berebut mainan. Ternyata sampai kapanpun pukulan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah diantara dua pria.
“Apa maumu hah?!!! Kau sama sekali tak berhak mengasihani ku!! Kau sudah merebut Cinta dari ku dan beraninya kau membuat dia menangis!!! Apa kau tak tau betapa berharganya dia dalam hidupku!!!!” “jeduuug!!!” teriakannya berakhir dengan sebuah pukulan yang mendarat diwajahku dengan telak.
“Dasar bodoh!!! Aku melakukan semua ini untukmu!!! Aku ingin kau kembali padaku karena itu aku meninggalkan Cinta!!! Aku lah yang lebih dulu mencintai Cinta. Kau sama sekali tak berhak menantang apa yang sudah aku lakukan padanya. Dia adalah milikku!!!” “Jedaaag!!!” kali ini akulah yang berteriak padanya. Anehnya, dia sama sekali tak menghindari pukulanku. Dia seperti ingin merasakan pukulan terkeras dari tanganku. Sampai akhirnya kini ada jarak sekitar satu meter diantara kami.
“hah..hah…hah…” Nafas kambi terdengar saling memburu kali ini.
“Rendi!!!!.” “Rangga!!!!” teriakan kami terdengaar begitu keras secara bersamaan. Ini benar-benar seperti pertarungan antara dua tokoh kartun dalam serial anime yang sering aku tonton. Menggelikan.
“Hentikan!!!!”Suara itu terdengar begitu keras saat pukulanku hampir mengenai wajah Rangga.Tangan Rangga pun kini sudah berjarak beberapa centi dari wajahku. Jika dia tidak menahan pukulannya kurasa aku akan benar-bener masuk rumah sakit setelah ini.
“Hentikan…. Tolong hentikan…” Kami berdua menoleh ke arah sumber suara. Dan kudapati sosok Cinta sedang berlutut. Air matanya benar-benar sudah mengalir deras. Entah sejak kapan air matanya mengalir, tapi sepertinya dia sudah menangis sejak dalam perjalanan. Aku tidak tau dari mana dia mengetahui keberadaan kami. Mungkin Rangga lah yang sudah memberitahunya.
“Rendi… Rangga… tolong hentikan semua ini. Semua ini sudah berakhir. Kita akan berdamai. Tak akan ada lagi darah ataupun air mata diantara kita. Aku mohon..berdamailah untukku.” Dia berjalan kearah kami masih dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Dan begitu dia sampai dihadapan kami, tiba-tiba saja dia kembali berlutut. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Sekali lagi aku mohon…”
“Arrrgh!!!” kini Rangga berteriak sembari menjambaki rambutnya sendiri. Dia benar-benar sudah frustasi.Melihat dua orang yang aku sayangi berada dalam keadaan kacau seperti ini benar-benar membuat hatiku terasa sakit. Saat aku memandangi wajah Rangga, kulihat ada air mata diwajahnya. Yang benar saja, Rangga? Menangis? Sulit kupercaya tapi kali ini Rangga benar-benar menangis. Selama lima tahun lebih aku mengenalnya, baru kali ini aku melihat Rangga menangis. Air mata diwajahnya kini sudah bersatu dengan darah di ujung bibirnya. Sepertinya rasa sakit dalam dirinya benar-benar menyiksa.
“Kau bodoh Rendi!!!”Dia mendekap tubuhku dan memeluk tubuhku erat. Terasa menjijikan jika aku ingat yang memelukku adalah Rangga. Dia menepuk-nepuk pundakku dan kini aku benar-benar bisa merasakan kesedihannya. Tanpa kusadari air mataku kini ikut menetes. Sama sekali tak bisa ku kontrol. Tak hanya air mataku, kini aku juga tak bisa mengontrol tanganku sendiri. Kini aku membalas pelukan Ranga. Kurasa aku benar-benar merindukan sosoknya.
Tunggu.. Aku? Menangis? Bodoh sekali. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis. Tidak kusangka perasaanku akan menjadi sekacau ini. Ini benar-benar sebuah kenyataan yang menyedihkan.
“Maafkan aku…” Kini mulutku yang sama sekali tak bisa ku kontrol. Dia bergerak dengan dengan sendirinya.Dan aku? meminta maaf pada Rangga? Hah, ini sama sekali tidak ada dalam skenarioku. Tapi ini benar-benar terjadi.
Rangga mengeratkan pelukannya ditubuhku dan aku masih bisa merasakan air matanya membasahi punggungku. Lalu, tiba-tiba aku merasa ada pelukan lain. Ternyata Cinta ikut memeluk kami. Benar-benar bodoh! Apakah setelah ini aku harus mengganti namaku menjadi Dipsi?!Atau haruskah aku berperan sebagai Tinky Winky?! Ini konyol, tapi nyata. Tiga orang mahasiswa berpelukan bersama dengan air mata membasahi wajah mereka masing-masing. Kurasa ini bukan hanya sekedar konyol. Ini lebih condong kearah menjijikan.
******
Akhirnya drama tele**bies yang menjijikan berakhir. Kini aku, Rangga, dan Cinta duduk bersama memandangi langit. Dengan sisa minuman yang dibawa Rangga, kami masih bisa bersenang-senang malam ini. Aku sama sekali tidak mempedulikan darah yang ada diwajahku. Begitu juga dengan Rangga. Dia sama sekali tidak mau menghapus darah diwajahnya . Dan anehnya,kami bertiga kali ini bisa tertawa lepas setelah sebelumnya menangis tersedu-sedu. Mungkin ini efek dari minuman yang kami minum. Tapi bagiku tidak masalah.Aku senang semuanya berakhir dengan tawa.
Malam ini aku dan Rangga kembali melakukan aktivitas klasik kami. Memandangi bintang dengan ditemani minuman di tangan kami masing-masing. Dengan lantang kami meneriakan mimpi kami disini. Menunjuk satu bintang lalu membuat harapan yang indah. Dan kami berimajinasi bahwa bintang itu akan jatuh. Dengan begitu harapan kami akan segera terwujud.
Tapi, ada yang berbeda malam ini. Malam ini ada Cinta diantara kami. Meski pada awalnya dia lah yang memisahkan kami, tapi pada akhirnya dia jugalah yang menyatukan kami. Dan berkat dia, kini aku percaya satu hal. Tidak ada yang namanya ‘mantan’ dalam hubungan persahabatan. Sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun dia tetaplah sahabatku.Tidak peduli sebesar apapun tembok yang membatasi hubungan kami, aku percaya kami pasti bisa mengahancurkannya.
Malam ini aku benar-benar merasa akulah orang yang paling bahagia di dunia. Karena saat ini aku sedang bersama dengan dua orang yang aku sayangi. Cinta dan Rangga. Mereka berdua akan membuat langkahku menjadi ringan. Dan bersama mereka, aku yakin segala sesuatunya akan tampak jauh lebih mudah. Kami seperti tripod sekarang. Jika salah satu dari kami tumbang, maka kami tak akan bisa berdiri lagi.