Cerpen Karya : Heru Apri Saputra
Kala itu aku tersadar dari pingsanku. Mataku memandang ke sekitar. Dan yang kudapati hanyalah warna putih yang khas dalam ruangan. Ayah dan ibuku sudah berdiri disampingku. Sementara Annisa sudah pergi entah kemana. Aku tidak menemukan sosoknya dalam ruangan itu. Raut wajah ibuku tampak begitu sedih. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang dalam. Sama persis dengan sorot Annisa kala itu. Matanya begitu sembap. Tampak jelas dia baru saja selesai menangis. Meskipun nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, tapi aku tau apa yang sudah ia tangisi. Sedangkan raut wajah ayahku tampak berbeda dengan raut wajah ibu. Wajahnya merah padam. Dari sorot matanya aku bisa melihat semuanya. Dia menyembunyikan emosi dan amarah yang dalam. Jika dia tidak pandai mengontrol emosinya, sudah pasti dia akan terkena serangan jantung dan aku akan menjadi anak yatim.
“Siapa ayahnya?” tanya ayahku singkat tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Wajahnya masih merah padam. Menandakan amarahnya masih belum mereda. Aku terdiam sejenak. Air mata kembali keluar dari pelupuk mataku. Hatiku terasa begitu sakit dan ngilu.
“Aku tidak tahu.” Ucapku terisak. Suaraku sangat pelan. Jika saja suasana diruangan itu tidak hening, sudahlah pasti tidak akan ada yang bisa mendengar suaraku. Ayahku memejamkan matanya. Lalu ia berjalan keluar ruangan. Aku tidak tau apa yang dilakukannya diluar. Tapi dalam tebakanku, hanya dengan keluar ruanganlah dia bisa meredam amarahnya.
“Ibu dan bapak sudah denger ceritanya dari Annisa nak. Kamu yang tabah ya.” Ucap ibuku pelan. Tatapannya begitu sendu. Membuat ngilu dihatiku semakin menjadi-jadi. Duniaku terasa runtuh. Mimpi dan asa ku langsung hilang begitu saja. Mimpi yang dulu selalu kuceritakan pada Annisa kini sudah tak bisa ku pelihara lagi. Dia sudah mati, dibunuh oleh takdir yang kejam. Mati dalam bayangan kelam yang dalam. Berlanjut dan tak kunjung padam.
Betapa kejam dunia ini. Seorang gadis remaja seusiaku harus merasakan masalah sepelik ini. Batinku tak kuat menahan sakitnya siksaan dunia. Ingin sekali rasanya aku segera pergi dari dunia ini. Meninggalkan luka yang tak pernah ku buat sendiri. Luka yang datang menimpa hiupku tanpa mengucap salam. Dan kini dengan seenaknya bersemayam didalam jiwaku.
Sepulangnya aku dari ruangan yang serba putih itu, ayahku kembali melanjutkan persidangan yang tertunda. Aku bak seorang terdakwa yang sudah melakukan kejahatan besar. Seperti teroris yang sudah membunuh jutaan umat manusia. Atau seorang koruptor yang sudah membuat negara menjadi miskin. Ibuku laksana pengacara muda yang tegas dan cerdas. Dia akan melakukan apa pun agar bisa meringankan hukumanku. Lidahnya akan dengan mudah bersilat. Membela dan memujiku. Lalu dengan logikanya dia akan membuat ku terhindar dari hukuman yang besar. Sementara ayahku bagaikan seorang hakim yang bijak. Memandang masalah secara utuh dan obyektif. Tidak peduli sekalipun si terdakwa adalah anaknya sendiri. Dan yang dia ketahui sekarang adalah si terdakwa harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Setelah menimang-nimang permasalahan ini dalam pikirannya, akhirnya ayahku menentukan hukumanku. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain menangis. Karena memang yang aku tau saat ini adalah menangis. Ayahku menyalahkanku karena dimatanya aku sudah salah bergaul. Sementara ibuku menganggap aku tidak bersalah karena aku hanyalah korban. Dari dua pandangan yang berbeda ini, aku merasa seperti seekor nyamuk yang tak sengaja terbang melewati jaring laba-laba. Aku adalah korban sekaligus tersangka. Tak ada yang bisa membuat posisiku aman. Tak ada yang bisa melindungiku saat ini. Bahkan ibu yang selalu setia membelaku kini telah setuju dengan keputusan ayah. Dan mau tak mau aku harus bersedia menerima keputusan dan hukuman itu dengan dada yang lapang.
Hukuman dari kasus ini adalah aku dimutasi. Aku dihijrahkan sekaligus dikucilkan menuju tempat yang jauh. Dan tempat yang ditentukan ayahku saat itu adalah Bandung. Disana aku memiliki seorang paman dan bibi yang baik. Pamanku adalah seorang ustadz sedangkan bibiku adalah seorang istri dari pak ustadz. Ayahku yakin, dengan dihijrahkannya aku kesana, aku akan bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Dan dengan kehijrahanku itu pula, kedua orang tuaku sama sekali tak perlu menanggung malu atas kondisiku. Mereka menyuruh Annisa menutup mulutnya rapat-rapat. Dan pada akhirnya yang mengetahui kondisi ku ini hanyalah orang tuaku, paman bibiku, dan juga sahabatku.
Aku ingat sekali malam itu. Malam dimana aku pergi meninggalkan rumah. Berangkat menuju kota indah nun jauh disana. Berharap akan bisa menemukan keindahan dan ketenangan. Berharap akan dapat menemukan cahaya dalam gelap bayangan malam. Aku hanya pergi sendiri. Kedua orang tuaku tidak mau menemaniku. Ayah lebih memilih mengurusi pekerjaannya dibandingkan mengantarkan kepergianku. Sementara ibu memilih untuk tidak mengantarkanku dengan alasan aku harus bisa mandiri. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Dan hatiku terasa begitu perih ketika mendengar kata itu. Aku sama sekali tidak siap dengan status ibu.
Usiaku masih begitu muda. Masih ada banyak sekali hal yang ingin ku lakukan. Aku ingin melanjutkan pendidikanku, mempunyai banyak teman lalu berpacaran dengan salah satu dari mereka. Aku ingin bisa kuliah diuniversitas impianku. Mendapatkan IP yang tinggi lalu bekerja diperusahaan ternama. Aku ingin merasakan itu semua. Sebauh kehidupan normal yang harusnya bisa kudapatkan.
Tapi, kini semuanya sudahlah berbeda. Aku akan segera menjadi seorang ibu tanpa status istri. Ada beban dan tanggung jawab yang harus kutanggung. Ada hukuman yang harus ku laksanakan. Bisa saja aku melanjutkan pendidikanku. Tapi sudahlah pasti rasanya akan berbeda. Aku tidak akan bisa dengan mudah mendapatkan banyak teman. Aku harus pandai-pandai memilih teman yang mau menerima keadaanku. Dan parahnya lagi, aku tidak akan bisa mendapatkan seorang pacar.
Bujang mana yang mau berpacaran dengan seorang ibu?! Bujang mana yang mau berpacaran dengan wanita yang sudah punya anak?! Dan bujang mana yang bersedia menanggung beban yang harusnya tidak dibebankan untuknya?!
Ratusan pertanyaan bermakna umpatan menjalar kedalam pikiranku. Hatiku terasa begitu ngilu. Aku dihadapkan pada dunia yang begitu kejam. Dunia yang selama ini tak pernah kupilih. Bahkan dunia itu tidak pernah ada dalam daftar pilihan masa depanku. Status ibu muda akan segera kuperoleh dalam waktu dekat. Dan mau tak mau aku harus bersedia menerima status itu. Terbesit dalam pikiranku untuk mencoba alternative lain. Mencari seoarang pria yang bersedia menjadikanku istrinya. Seorang pria yang mau berbagi beban dengan cara menjadi suamiku. Tapi siapa yang mau denganku?! Aku sudah tidak perawan! Aku sudah tidak suci! Dan sebentar lagi aku akan punya seorang anak! Pria bodoh mana yang akan bersedia menjadi suamiku dengan suka rela?! Haruskah aku meminta seorang gelandangan menikahiku agar aku mendapatkan gelar istri?! Haruskah aku meminta seorang pengemis dijalanan menikahiku agar anakku mempunyai ayah saat lahir kelak?! Ini sama sekali tidak semudah kelihatannya. Ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Jauh lebih horror disbanding film paling horror tahun ini. Dan juga jauh lebih seram daru jutaan hantu di layar kaca. Ini sangat sulit dan begitu menakutkan.
Dalam perjalanan, terbesit dalam pikiranku untuk merubah haluan. Mengganti arah tujuan dan memutuskan untuk hidup sendiri. Tapi aku tidak yakin aku akan kuat. Sempat aku berfikir untuk menggugurkan kandonganku dengan cara aborsi. Tapi aku tidak akan sanggup menanggung dosa itu. Aku memang sudah putus asa. Tapi aku tidak mungkin membiarkan diriku bahagia diatas penderitaan darah dagingku sendiri. Aku sudah tidak tau apa lagi yang harus kulakukan. Aku mengalami stagnasi dalam hidupku yang baru berjalan belasan tahun. Ini semua terasa sangat menyakitkan.
Lanjutkan ke bagian berikutnya