Cerpen Karya : Adelia Divega
Hai namaku Reina, panggil saja Rere karena teman-temanku biasa memanggil aku Rere. Umurku 20 tahun, aku mahasiswi semester 4. Aku tinggal hanya berdua bersama kakakku di rumah peninggalan orang tua kami. Bisa dibilang kami hidup mandiri setelah kejadian 5 tahun lalu dimana kecelakaan membuat kami harus rela berpisah dengan kedua orang tua kami. Hm, mulai deh sedih lagi. Lebih baik kita bahas yang lain saja yang lebih menyenangkan untuk dibahas. Ok!
Aku sangat sayang dengan kakakku. Kak Riska sosok kakak yang begitu perhatian, pengertian, penyayang, bahkan senakal apapun aku dia tidak pernah memarahiku. Apalagi semenjak kepergian orang tua kami, kakak justru lebih menyayangi aku. Mungkin karena itu aku begitu menyayangi kakakku. Aku dan kakakku memang bersaudara, tetapi untuk kelakuan sangat jauh berbeda. Aku gadis kuliahan yang tomboy, sementara kakakku wanita karir yang lemah lembut. Hahaha bisa dibayangkan kan guys???
Kalian harus tau ya guys, walaupun kak Riska lemah lembut, jangan kira aku bisa seenaknya menguasai rumah. Dibalik sikap lemah lembutnya, kakakku tetap wanita karir yang tegas dan serba perfect dalam masalah kebersihan rumah, uang jajanku, dan yang paling buat aku lelah yaitu kak Riska selalu ikut campur dalam hal cowok. “Dek jangan pacaran dulu, fokus kuliah aja. Inget mamah sama papah pesen apa sebelum mereka meninggal.” Selalu kata-kata itu yang kak Riska sampaikan. Aku hanya bisa jawab “Iya kak.”. Ya walaupun aku masih sering back street. Hahaha itulah aku yang susah diatur. Sekarang tau kan seberapa nakalnya aku.
Ya kali ini aku harus nurutin kak Riska. Terus aku harus jomblo terus gitu kaya kakak yang sampai sekarang belum pernah pacaran? Aku sih NO! Tapi, aku harap kalian tidak mengikuti jejakku ya guys. Aku ceritain nih kejadian dulu yang buat aku berubah dan pada akhirnya menyesal and then janji tidak akan mengulanginya lagi.Terlalu menyepelekan perasaan seseorang. Bikin baper orang, terus jadian, beberapa hari kemudian putusin. Gitu terus sampai banyak korban berjatuhan.
Itu aku yang dulu. Hingga pada akhirnya aku ketemu sama seorang cowok. Egi namanya. Ganteng, baik, perhatian, dan yang paling penting bisa ngerubah aku jadi feminim+penurut. Hebat ya! Kakakku aja nyerah, tapi Egi entah datangnya darimana dia dengan mudah dapat merubahku. Egi seorang pengusaha sukses. Dia tinggi, selalu rapih, dan sangat sopan. Aku mengenalnya dengan cara tak sengaja. Dia menawarkanku tumpangan karena pada waktu itu kakakku tidak bisa menjemputku di kampus. Semenjak itu entah bagaimana dia sepertinya selalu ada saat aku butuh bantuan. Memang aneh, tapi aku nyaman berada di dekatnya. Bahkan pesonanya mampu membuatku benar-benar jatuh cinta. Semakin hari sikapku menjadi lebih baik karenanya. Dia benar-benar membawa perubahan yang positif bagiku. Egi itu berbeda dengan lelaki lainnya. Dia cuek soal perasaan atau bisa disebut tidak peka. Tetapi selalu memperhatikan sikap orang yang ada di dekatnya. Aku juga tidak tahu bagaimana dia dapat membuatku seperti ini. Aku kesal dia tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Ingin rasanya mengatakan di depan wajahnya “Egi, Aku Cinta Kamu!” ,tapi aku tidak punya keberanian. Aku kan wanita, biasanya lelaki yang mengejar-ngejar aku. Saat aku ingin menceritakan semua tentang Egi kepada kakakku, saat itu juga aku mulai menyadari kak Riska tidak seperti biasanya. Dia lebih sibuk menatap ke layar ponselnya sambil tersenyum-senyum layaknya ABG sedang jatuh cinta. Lebih baik aku urungkan niatku. Lain kali saja aku akan cerita dengan kakak.
Aku mencoba menghubungi Egi, tetapi tidak ada jawaban. Sudah beberapa hari ini dia hilang seperti ditelan bumi.
‘Ting tong... ting tong...’ bel rumahku berbunyi (emang gitu bunyinya? Tau ah abaikan!) Aku ingin keluar membuka pintu, tapi sepertinya kakak sudah membukanya. Ya sudah...
Aku penasaran siapa yang datang malam-malam begini. Tumben.
“Kak siapa yang da..” ucapanku terhenti ketika aku melihat sosok lelaki tinggi, rapih, dan...
“EGI ???!!!”Aku benar-benar kaget sekaligus senang setelah tau siapa yang datang ke rumahku.
“Dek, sini duduk dekat kakak. Kakak mau jelasin semuanya ke kamu” kata kak Riska yang membuatku semakin penasaran dan bingung. Aku tetap menuruti kata kak Riska, aku duduk di samping kak Riska dan di depan kami ada Egi yang juga duduk.
“Iya kak, ada apa kak? Kakak kenal Egi?”
“Ya jelas kenal dong dek. Jadi gini ceritanya, waktu itu Egi ngelamar kakak di kantor tapi kakak bingung mau jawab apa. Akhirnya kakak mengajukan syarat ke dia kalau dia bisa mengubah sikap kamu jadi lebih baik sesuai keinginan kakak, kakak akan menerima lamarannya. Kakak sengaja belum ngenalin dia ke kamu karena kakak pengen liat Egi bisa ngubah kamu atau enggak.”
Deg... Jadi cowok yang selama ini bikin aku nyaman itu ? Ya ampun Re, tahan air matamu. Jangan ditumpahin disini dulu. Malu sama Egi. Apalagi sama kak Riska. Jadi selama ini aku udah baper, aku udah berubah, aku udah berharap banget tapi ternayata ini kenyataannya? Oh My God!
“Oh, gitu ya kak. Jadi sekarang kakak terima lamaran kak Egi dong? Kan kak Egi udah berhasil banget buat Rere berubah jadi lebih baik.” Dalam hati aku pengen banget teriak Makasih Buat Rasa Sakitnya Egi !
“Iya dek, maafin kakak ya kakak baru cerita. Tapi ada untungnya juga kan. Kamu jadi lebih baik sekarang. Kamu lebih menghargai orang, kamu nggak tomboy lagi, kamu jadi penurut.”
“Hehehe iya kak. Oiya kak Egi makasih ya kak udah bikin aku jadi lebih baik. Dan buat kalian berdua selamat ya kak. Aku seneng kakakku akhirnya nggak jomblo lagi. Aku ke kamar dulu ya kak. Sekali lagi selamet kak.”
Nah guys setelah itu kalian bisa nebak kan aku di kamar ngapain? Nangis sejadi-jadinya. Jangan tanya abis tisu berapa. Bisa bayangin kan selama ini aku hanya main-main sama cowok nggak pernah serius. Tapi saat aku udah nemuin cowok yang bisa bikin aku berubah ternyata dia pacar kakakku guys. Bukan pacar lagi malahan udah mau nikah. Parahnya lagi aku hanya sebagai syarat buat dapetin kakakku guys. Emang sih nggak terima. Tapi ya mau gimana lagi. Masa sama kakak sendiri mau berebutan? Apalagi selama ini kakakku baik banget sama aku apapun rela kali dia kasihin. Mungkin kalau aku minta Egi juga dikasihin. Tapi sadar diri aja deh, Egi sukanya sama kakak. Aku ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Mungkin ini juga karma kali ya buat aku. Selama ini udah banyak cowok yang aku sakitin. Tapi seenggaknya aku Rere jadi lebih menghargai perasaan orang, lebih feminim, dan belajar ikhlas walau sakit banget.