Surat Cinta Untuk Ibu

Cerpen Karya : Intan Citra Andini

Ibu, sudah seminggu sejak kepergianmu. Tapi, baru malam ini aku benar-benar merasa rindu padamu. Maafkan aku bu, aku tidak bisa menangis saat hari kepergianmu. 
Aku harap kau mengerti, terlalu banyak yang harus kupikirkan. Aku harus segera mengurus pemakamanmu, memberi tahu orang-orang tentang kepergianmu, juga menyambut mereka dirumah sederhana kita. 

Aku juga harus menguatkan Faiz dan Aisyah. Mereka tampak sangat sedih saat kau pergi. Dulu saat ayah pergi, kau lah yang menguatkan kami. Tapi sekarang kau sudah tidak bisa menguatkan kami lagi. Sebagai yang tertua, aku lah yang harus menggantikan posisimu. Menepuk pundak anak-anakmu lembut, lalu membisikan kata sabar di telinga mereka. Sekali lagi maafkan aku bu. 

Tapi, malam ini aku benar-benar menangis. Aku merasa sangat merindukanmu. Rumah kita terasa sepi selepas kepergianmu. Senyum dan tawamu kini tak lagi hadir dirumah ini. Dan aku benar-benar merindukannya. 
Saat aku pulang kerja, kau lah orang pertama yang menanyakan tentang pekerjaanku. Menyambutku dengan senyuman lalu menyuruhku untuk segera makan. Setiap hari rabu dan sabtu kau selalu memasak pepes gurameh. Itu adalah makanan kesukaanku, kau tau itu kan bu. Rabu kemarin kau tidak bisa memasaknya. Seharusnya malam ini kau memasaknya untukku. Tapi, lagi-lagi kau tidak bisa. Jadi aku memasaknya sendiri. Sayang, rasanya tak se enak masakanmu. Aku benar-benar merindukan rasa masakanmu. 
Kau juga selalu memberiku nasihat dan memintaku untuk segera menikah. Aku selalu jengkel saat kau memintaku untuk segera menikah. Kau selalu merengek untuk segera di buatkan cucu. Tapi sekarang, aku ingin kau menasihatiku lagi bu. Aku rindu saat kau memintaku untuk segera menikah. Aku juga sangat rindu rengekanmu untuk segera dibuatkan cucu. 

Ah, aku benar-benar menangis malam ini bu. Tidak kusangka aku akan serindu ini padamu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Saat kau mendengarnya, aku yakin kau pasti akan tertawa. Kau tau bu, Faiz, anak bugsumu itu, kemarin dia bercerita padaku. Dia bilang dia sedang jatuh cinta. Dia mengirimkan surat cinta untuk seorang gadis. Anak bungsumu telah tumbuh dewasa sekarang. Dia sudah bisa menulis surat cinta untuk gadis. Kau tau kan, dulu dia selalu gugup saat sedang duduk bersama seorang gadis. Sayang, kau tidak bisa lagi melihat dia tumbuh dan berkembang. 
Aisyah juga kini sudah besar bu. Dia sekarang sedang sibuk dengan organisasi nya di kampus. Dia bilang dia ingin mencalonkan diri sebagai ketua pimpinan. Haha, kau tau kan bu bagaimana Aisyah? Apa jika kau mendengar hal ini kau juga akan tertawa? Ah, sudah pasti kau akan tertawa, aku tau. Dia selalu bersembunyi di balik punggungmu dulu. Saat anak-anak nakal mengganggunya, dia selalu merengek dan meminta bantuan padamu. 
Tapi itu dulu, sekarang dia sudah besar. Bahkan dia sekarang akan mencalonkan diri sebagai pimpinan organisasinya. Sayang, kau tidak bisa melihat dia memimpin ratusan orang. 

Oh ya bu, aku ingin bercerita lagi. Tadi sore aku pergi ke toko buku. Ada toko buku baru di sekitar komplek rumah kita. Memang tidak terlalu besar, tapi ada banyak promo disana. Jadi aku memutuskan untuk membeli buku disana. Saat aku masuk ke toko buku, si penjaga toko memandangiku dengan tatapan aneh. Aku merasa risih dengan tatapannya. Tapi aku tidak terlalu mempedulikannya saat itu. Setelah mendapatkan buku yang aku mau, aku segera membawanya pada si penjaga toko. Aku sudah menarik dompet dari saku belakangku. Tapi, apa kau tau apa yang dilakukan oleh si penjaga toko? Dia mencegah tanganku mengambil dompet. Dia memintaku memasukan lagi dompetku kedalam saku. Aku sempat bingung kala itu. Sampai akhirnya dia menepuk bahuku pelan. Lalu dia memintaku untuk bersabar atas kepergianmu. 
Aku tidak mengenalnya, tapi dia mengenalmu. Dia bercerita tentang jasamu dulu padanya. Dia bilang kau lah yang sudah mendorongnya untuk mencintai buku. Sampai akhirnya dia membuka toko buku sekarang. Dia adalah salah satu muridmu di SMA. Katanya, dia dulu adalah anak yang nakal. Sampai akhirnya dia bertemu denganmu. Kau merubahnya perlahan. Dengan santun kau mengajarinya banyak hal. Bahkan, kau juga mengajarinya mengaji. Ah, aku benar-benar kagum padamu bu. Kau benar-benar hebat. Kau tidak hanya bisa menyukseskan diri sendiri, tapi kau juga bisa menyukseskan orang lain. Aku bangga bisa terlahir dari rahimmu bu.
Selesai bercerita, dia langsung memintaku pulang tanpa membayar. Padahal aku sudah mengeluarkan dompet. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin memaksanya untuk menerima uangku. 
Kau benar-benar hebat bu. Bahkan setelah kau meninggal kau masih sempat membelikan aku buku. Aku benar-benar mencintaimu. 

Kau tau bu, orang bilang arwah seseorang yang meninggal masih berada di sekitar rumahnya sebelum lewat empat puluh hari. Aku sebenarnya tidak mempercayainya, karena kau memang melarangku untuk percaya. Tapi kali ini, aku ingin mempercayainya. Aku ingin arwahmu berada di sekitarku sekarang. Dan jika kau membaca surat ini, aku ingin meminta sesuatu padamu bu. Tolong bangunkan aku lewat mimpi. Bangunkan aku pada sepertiga malam ya bu. Aku ingin sholat malam. Sudah lama aku tidak melakukannya. Dan malam ini, aku ingin menyebut namamu dalam percakapan kecilku dengan Tuhan. Aku ingin sekali mendoakanmu. Berharap kau akan tenang disana. Dan saat diakhirat nanti, aku ingin hidup bersamamu di syurga. Karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.


Salam hangat. 

Anakmu yang kini harus menghidupi anak-anakmu.