Jendela Kaca Lantai Dua (Part II)

Cerpen Karya : Etis Gumanti 

Jendela. Bagi sebagian orang mungkin jendela adalah hal yang sepele. Tapi bagiku, jendela adalah segalanya. Jendela tak hanya memberiku banyak hal, tapi jendela juga mengajarkanku begitu banyak keindahan. Jendela telah menuntun dan membawa mataku pada sebuah pemandangan yang indah. Rumah itu, ya, rumah itu tampak indah. Lengkap dengan filicium rimbun yang kokoh berdiri di hadapannya. Dari balik jendela kamarku, rumah itu tampak seperti lukisan indah yang di buat oleh pelukisnya dengan penuh dedikasi.

“Bibi Suti, rumah tua di sudut gang komplek itu siapa penghuninya?” tanyaku ketus secara tiba-tiba. 
“Rumah tua ?? bibi tidak terlalu paham Sam, keluar dari rumahmu pun bibi jarang, mana mungkin bibi tau siapa penghuninya” Jawab Bi Suti sedikit kebingungan dengan diriku yang hampir tidak pernah melontarkan pertanyaan padanya. 
Aku kembali ke ruang kamarku, kembali mengamati rumah itu sembari membayar rasa penasaranku. Padahal mereka yang aku saksikan secara bergantian seolah mengenalkan dirinya padaku lewat sebuah jendela. Kadang aku berpikir apakah mereka seperti diriku yang mengisolasi dirinya sendiri seperti ini dalam sebuah rumah. Aku merasa seolah sangat mengenalnya, apa yang mereka lakukan , jam berapa mereka akan berdiri, kapan mereka akan keluar, dan juga kapan mereka akan mematikan lampu mereka. Aku merasa bahwa aku sudah lebih paham dari siapapun. 
Bagaimana tidak, beberapa penjual dan warga yang ada di dekat rumah mereka justru seperti tidak menganggap mereka ada atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ada sebuah keluarga di dalam rumah tua itu , yang aku tahu masih sama mereka yang ada di luar sana tidak akan peduli pada orang lain ketika hal itu tidak menguntungkan kepentingannya. Otak serta pikiran mereka seperti sudah terkikis oleh paham-paham kapitalis yang memuakkan.
 Ini kali pertamanya aku ingin pergi keluar rumah, setelah mungkin bertahun-tahun aku mengurung diri di rumah ini. Hanya ada satu hal yang ingin aku temui, mereka yang ada dibalik jendela rumah tua itu. 
Rasanya aneh sekali, ini seperti aku menemukan kembali diriku yang dulu. Aku berdiri menghadap jendela kaca rumah tua itu , seharusnya ini saat dimana ada seseorang yang berdiri disana , bahkan tak ada yang berhalu lalang di dalam sana seperti yang biasa kulihat, kemana mereka semua .Sampai malam datang jendela itu bertambah gelap tanpa ada sesuatu yang biasa kupandang disana. Aku memutuskan untuk benar-benar pergi kesana besok.

"Bi aku pergi sebentar” Izinku ketus.
Tanpa jawaban Bi Suti tampak kaget melihat ku berbicara seperti itu, tapi dia membirkanku berlalu begitu saja. Dengan segera aku memanaskan mobil katak yang dulu menjadi mobil kesayangan ayahku. Aku melaju dengan pelan menuju rumah tua itu, dari dalam jendela mobil kuamati dengan seksama apa yang selama ini kusaksikan dari atas jendela rumahku, aku mecoba mendekati gerbang berkarat rumah tua itu dan tiba-tiba.. 
“Mencari siapa Mas? yang punya rumah masih pulang ke desanya sana” Jawab penjual gorengan disebrang rumah tua itu. 
“ Pulang ke desanya Pak ? dimana desanya ?” Jawabku lirih dengan ekspresi sedikit gugup. 
“Kamu cari aja sana di desa sebelah hutan karet di dalam hutan Mas desanya, ngapain kesana orangnya aneh semua disana” jelas pedagang itu menambahkan. Aku kembali masuk kedalam mobil dan memikirkan apa yang akan aku lakukan sekarang. Aku harus bertemu mereka, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada mereka. 
Aku mengarahkan mobilku menuju desa yang dijelaskan penjual tadi, samar aku pernah mendengar Bi Suti menceritakan ada desa aneh di dalam hutan sana, tapi sayangnya aku tidak pernah mendengarkan apa yang Bi Suti bicarakan. 
Berjam-jam aku mencari, tiba sudah aku ditugu masuk desa yang konon aneh ini, pemandangan pohon-pohon besar tanpa lampu penerang serta jalan sempit seolah menjadi ucapan penyambut selamat datang padaku.
Aku memutuskan untuk menyusuri desa ini dengan berjalan kaki. Semakin masuk ke dalam desa ini, semakin gelap pula langit menuntunku . Aku mempercepat langkah kakiku ke dalam dengan maksud agar dapat meminta bantuan pada penduduk sekitar. Tapi tiba-tiba, aku menemukan sebuah desa yang aku cari sedari tadi. 
Dari kegelapan aku menemukan kumpulan rumah besar bertiang dengan jendela yang besar disetiap rumahnya tapi yang aneh tak ada satu orang pun warga yang aku lihat disini, desa ini seperti desa tanpa penghuni , duduk sendiri di kegelapan malam desa tak bertuan ini. 
Entahlah apa yang sedang kucari, yang jelas aku perlu bertemu dengan keluarga misterius itu. Sayup-sayup kudengar beberapa langkah kaki dan suara bambu ditiup dari arah yang jauh menuju tempat yang aku duduki, detak jantung yang semula tenang kini berdebar kencang setelah mendengar suara itu, semakin dekat dan semakin dekat suara langkah kaki menjadi sangat banyak sampai muncullah sebuah obor pring yang menyala mengiringi sekelompok orang berbaju hitam menuju tempatku sekarang sebuah pedesaan dengan tanah lapang di tengahnya , aku segera bersembunyi tiba-tiba... 
 “Hey Nak” panggilnya lembut sembari memegang bahuku. Aku tertegun mendengar suara itu, aku mencoba perlahan memalingkan wajahku untuk melihatnya dari cahaya obor pring itu. 
"orang ini? iya orang ini benar dia adalah pria dewasa yang aku lihat di jendela kaca rumah tua itu” gumamku dalam hati 
“Apa yang kamu lakukaan disini? kenapa kamu bersembunyi nak? apa kamu takut dengan kami? lalu apa tujuan mu datang ke desa ini?” tanyanya serius
“Akuu...aku mencari keluarga yang tinggal di rumah tua di komplek rumahku pak , bukankah itu anda ? tapi mereka semua tiba-tiba datang dan berkumpul disini” jawabku serius 
Dia menarikku ke dalam salah satu rumah di desa itu , rasa penasaran ku terjawab sementara, ketakutanku hilang sebagian . Dia mengajakku berbincang lebih serius di dalam rumah itu . 
“Apa yang kamu cari disini nak ? bukankah kami ini menakutkan bagimu?” tanya pak Ghani yang memperkenalkan diri sebelum mempersilahkanku masuk dan duduk di dalam rumah ini. 
“Aku mencari kalian pak, sudah lama aku mengamati kalian dari balik jendela kaca kamarku, ada hal yang membuatku ingin tahu sampai rasa itu mampu mengalahkan diriku sendiri” mulutku tak sengaja mengucapkan sesuatu yang tak harus kuucapkan. 
“Bukankah sejujurnya kami ini aneh bagi kalian ? bukankah apa yang kami lakukan membuat kalian takut atau bahkan bagi sebagian yang lainnya tidak menganggap adanya kami disana nak? apakah kehidupan kami mengganggu kalian semua?” 
“Sejujurnyaaaa...” 
“Sejujurnya kami juga sudah mengenalmu nak , dari jendela tua yang sering kau amati itu, beberapa kali ketika salah satu dari kami berdiri di jendela itu kami sudah tau bahwa ada seorang remaja yaang memperhatikan kami dari jendela lantai dua di rumah paling bagus di komplek itu, tapi bagi kami, kamu pasti salah satu dari orang yang menilai aneh kehidupan kami.” Jelasnya setelah memotong pembicaraanku . 
“beginilah kami nak, ini keluarga kami, kami pulang untuk berkumpul melakukan sebuah tradisi-tradisi kebudayaan yang kami punya, kumpul-kumpul yang setiap tahun selalu kami lakukan di desa yang bagi kalian aneh ini. Keluarga bagi kami adalah segalanya. Ketika orang di luar sana tidak menganggap kami dan takut pada kami , kami akan mengisolasi diri dari mereka dengan maksud menjaga perasaan mereka dan kepercayaan mereka bahwa kami bukan makhluk yang salah bagi siapapun , kami juga ingin hidup seperti kalian dapat keluar bermain dengan bebasnya , maaf jika bapak menjawab semua ini sebelum kamu bertanya, tapi bukankah ini yang ingin kamu tanyakan Nak ? “ tambahnya.
“Tapi diluar Pak?” tanyaku kaku 
“Mereka sama seperti mu, ingin hidup berdampingan dengan masyarakat yang lain, makanan yang kami makan, kegiatan yang kami lakukan, kebaikan yang sama- sama diinginkan semua sama seperti kalian, hanya saja kami punya beberapa tradisi budaya seperti kumpulkumpul dan bakar batu. Ciri khas yang masih kami lestarikan, tidak ada yang salah dengan tradisi itu bukan nak? kami hanya sekedar berkumpul, bercerita, bertukar pikiran dengan satu peristiwa budaya yang mengakrabkan , bukankah di kota, kalian juga melakukan hal yang sama? berkumpul dan bercerita, hanya saja kondisi dan tempat yang membedakan perkumpulan ini. Kalian menganggap kami mungkin gila untuk apa membakar batu hanya untuk sebuah pertemuan tapi inilah yang kami lakukan bukan sebuah kepercayaan mistis yang kami tanamkan tapi ilmu pengetahuan Nak yang kami coba terapkan, bukankah batu tidak akan habis dibakar ? begitulah kami memaknai kekeluargaan ini .” Aku terdiam menghela nafasku. Semua yang ingin aku tahu terjawab sudah. Alasan mereka hidup hanya lewat sebuah jendela, lalu siapa yang aku salahkan sekarang , mereka? orang tuaku ? aku? atau bahkan semua yang ada di kota ku? 
Ketika apa yang kami lakukan bahkan apa yang- aku-lakukan ternyata menyakiti orang lain yang tak bersalah, orang lain yang juga manusia dan ingin di hargai hak nya. Aku kembali teringat ketika aku memutuskan untuk berhenti bersekolah karena orang lain selalu mengejekku karena perceraian orang tuaku yang merubah kepribadianku. Mereka menganggapku makhluk anti sosial yang mengerikan yang entah darimana budaya itu aku dapatkan. Kini aku cukup mengerti mungkin inilah alasan orang tuaku berpisah, kehidupan di kota mendidik mereka untuk tidak peduli dan acuh pada orang-orang di sekelilingnya. 
Tuhan ternyata menyadarkan kesalahanku lewat cerita keluarga pak Ghani , seberat apapun beban yang mereka terima di dalam masyarakat, keluargalah kekuatan mereka bahkan di manapun mereka berada, saat itu mereka akan kembali ke tempat asalnya untuk sebuah tradisi yang membudaya baik di keluarganya. 
Bagaimana aku memaknai hidupku dulu, bagaimana bisa aku hanya menjadi penonton di dunia ini. Begitu banyak waktu yang kulewatkan sia-sia. Kalau saja aku tidak pernah menjadi- makhluk anti sosial- mungkin keluarga seperti pak Ghani tidak akan mendapat tempat kecil di masyarakat, bagaimana mungkin aku menjadi salah satu orang yang membudayakan budaya yang bukan menjadi ciri bangsaku jika masih ada keluarga-keluarga pak Ghani lainnya yang terus menjaga budaya aslinya. Bukankah aku juga tahu negara ini pula yang mengajarkan untuk menghargai budaya yang ada? sekilas kuingat mungkinkah ini yang disebut Bhineka Tunggal Ika? biarkan waktu yang menjawab. 
Aku kembali ke kota bersama dengan keluarga pak Ghani. Sudah banyak cerita yang beliau ceritakan padaku yang berhasil membawaku ke Sasam Agung yang dulu. Mereka juga membuatku bangga akan budaya yang dari dulu memang di ajarkan untuk saling peduli pada keluarganya ataupun orang lain. Ayah, Bi Suti dan warga se-komplek sudah berkumpul seolah-olah menyambutku dan keluarga pak Ghani kembali, aku mencoba meluruskan apa yang selama ini salah , apa yang selama ini aku kenali lewat jendelaku, ketidak pedulian mereka, rasa yang menguntungkan dirinya sendiri akan aku ubah secara perlahan kembali seperti cerita sejarah kemerdekaan berpuluh-puluh tahun lalu yang pernah kupelajari di sekolah ketika bangsa ini bersatu menjadi keluarga dengan segala budayanya semua akan bersatu membangun negara. Ahh.. entahlah semua harus kupelajari lagi dengan amatanku lewat celah jendela kaca lantai dua kamarku. Ya, lewat jendela kaca lantai dua kamarku aku akan kembali belajar. Bagaimana cara untuk bisa berguna bagi mahluk-mahluk di sekitarku. Menjaga kerukunan, kedamaian, dan juga menciptakan kesejahteraan.