Maaf Untuk Ibu (PART II)

Cerpen Karya : Heru Apri Saputra

“Kriiing…kriiing…kriiing.” Bunyi keras alarm membangunkanku dari tidur malam yang lelap. Aku membuka mataku perlahan dan mengucek-nguceknya pelan. Kumatikan alarmku dan ku pandangi ruangan sekitarku. Aku merasa ada yang aneh dan ada sedikit yang berbeda. Ruangan ini terlihat lebih rapih meski ada terlalu banyak barang di dalamnya.
Saat nyawaku sudah mulai terkumpul, ku lihat ada Intan sedang tertidur pulas di sampingku. Astaga, aku baru ingat, aku tidur di kosan Intan semalam. Yah, semalam aku memang pergi dari rumah tanpa sepengetahuan keluargaku. Tak ada tempat lain yang menurutku layak di tuju selain kosan Intan. Dia adalah sahabat terbaikku di kampus. Aku tidak punya terlalu banyak teman di kampus. Selama ini aku hanya berteman dengan Intan dan beberapa teman yang lain. Selebihnya, tidak terlalu banyak teman ku di kampus. Terlebih, yang akrab seperti aku dan Intan.

Setelah merasa nyawaku benar-benar terkumpul, aku segera menuju kamar mandi. Beruntung kamar mandi Intan berada di dalam ruangannya, jadi aku tak perlu keluar ruangan untuk mencuci muka atau pun yang lainnya. Sesampainya di kamar mandi, segera ku basuh mukaku yang mulai tampak kusam. Kupandangi wajahku dicermin. Ah, aku merasa sudah sangat buruk sekarang ini.

“Lo yakin sama keputusan ini?” Ucap Intan saat aku sudah keluar dari kamar mandi.
“Eh, udah bangun?” Ucapku berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
“Udah. Lo serius pergi dari rumah? Kalo bapak ibu lo nyariin gimana?” ucapnya sembari mengambil segelas air putih.
“Ya kalo nyariin. Tapi kayaknya ngga bakal nyariin deh.” Ucapku lemas.
“Masa sampe separah itu si Nis?”
“Lebih parah sebenernya tan. Dari luar keliatannya emang gue bahagia sama keluarga gue. Tapi faktanya, gue sama sekali ngga bahagia. Gue kayak ngga dianggep sama keluarga gue sendiri.”
“Hm… yang sabar ya nis, kalo lo butuh bantuan gue bilang aja. Lo boleh nginep di sini semau lo kok. Tenang aja.” Ucapnya sembari tersenyum dan menyodorkan segelas air putih padaku. Hah, di balik segala kesialanku, aku merasa masih sedikit beruntung karena aku masih punya sahabat sebaik Intan. Intan telah memberikanku banyak hal indah. Termasuk tumpangan untuk tidur di kosannya.

******

Hari ini aku pergi ke kampus seperti biasa. Sudah lebih dari tiga hari aku pergi dari rumah. Dan sama sekali tidak ada kabar dari keluargaku.
Hah, aku mulai merindukan mereka. Tapi, bagaimanapun juga aku tidak mungkin pulang. Aku sama sekali tidak mau kembali merasakan hal yang sama. Terkekang dan terkurung dalam bayang-bayang kak Ani. Itu terlalu memuakkan dan cukup untuk menguatkanku akan rindu keluarga yang menggebu-gebu.

Aku berjalan keluar dari gerbang kampus dan segera menuju kosan Intan. Beruntung kosan Intan tidak berjarak terlalu jauh dari kampus. Jadi, aku hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Aku juga tidak memerlukan kendaraan untuk bisa segera sampai di kosan Intan.

Saat aku sudah hampir sampai di kosan Intan, kulihat ada seorang pria paruh bayah berdiri di depan gerbang kosan Intan. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena dia menghadap kearah kosan. Karena penasaran, perlahan aku menghampiri nya. Aku merasa tubuhnya sangat familiar di mataku. Tapi, aku merasa masih perlu memastikannya.
“Papa…” Ucapku saat pria itu sudah membalikan tubuhnya.
“Hm….” Ayahku menghempaskan nafasnya pelan. Mungkin dia sedang berada dalam masalah yang pelik. Dia mentapku lekat. Seolah ada sesuatu yang ia harapkan dariku.
“Pulang lah nak. Mama mu sudah berada di rumah sakit sekarang.” Ucapnya pelan.
“Hah? Kok bisa pa? Kenapa papa baru ngasih tau dari kemaren?”
“Handphone kamu dari kemarin ngga bisa dihubungin. Papa udah nyari kemana-mana. Terus kak Ani nanyain sama temenmu. Katanya kamu di sini. Makannya papa kesini sekarang.” Ah, aku benar-benar merasa bersalah sudah menonaktifkan handphone ku dari kemarin. Tapi tunggu, kak Ani? Dia mencariku? Apa dia peduli padaku? Atau hanya karena disuruh oleh ayah saja? Ah, entahlah. Ini terlalu sulit untuk kupikirkan.
“Kok palah bengong si? Udah ayok buruan ke rumah sakit nak.” Ucap ayahku lagi. Aku segera masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju rumah sakit. Ibu, kak Ani, maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah. Sudah dua hari ibuku di rumah sakit dan aku sama sekali tidak ada di sampingnya.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlari menuju ruangan ibuku dirawat. Di depan ruang ibu ku dirawat, aku melihat kak Ani sedang duduk dengan wajah yang begitu lesuh. Aku tau ini pasti berat untuknya. Selama ini ibuku sangat menyayanginya. Melihat ibu terbaring di atas ranjang rumah sakit pasti sangat berat untuknya.
“Mama dimana kak?” tanyaku pada kak Ani.
“Di dalem nis. Buruan kamu masuk. Kamu dicariin mama dari tadi.” Aku segera masuk kedalam ruangan ibu ku dirawat.
Di dalam kulihat ibuku sedang terbaring lemas. Ada infus yang menancap di tangannya. Sepertinya ibuku sedang berada dalam keadaan yang sulit.

“Nisa… sini nak. Ibu mau ngomong.” Ucapnya sembari tersenyum kearahku. Aku pun segera menghampirinya. Ibuku tampak begitu lemah. Entah kenapa hatiku terasa begitu sakit melihatnya dalam keadaan seperti ini.
“Maafin ibu ya nak. Mungkin selama ini ibu sudah bersikap kurang adil sama kamu.” Ucapnya lagi saat aku sudah berada disampingnya. Ibu menggenggam tanganku erat. Membuat hatiku terasa semakin nyeri melihatnya.
“Dengerin mama ya nak. Waktu itu mama bilang kamu beda sama kak Ani. Mama belum bisa ngasih alasannya waktu itu. Dan sekarang, mama bakal ngasih tau kamu alasannya.” Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. Bersiap menanti kata-kata berikutnya yang akan keluar dari mulut ibuku.
“Kak Ani punya penyakit leukimia. Dan mungkin, umurnya ngga akan sepanjang kamu. Karena itu selama ini mama memperlakukan kak Ani dengan spesial. Maafin mama kalau selama ini kamu ngerasa kesiksa. Tapi percaya sama mama, mama sayang banget sama kamu. Bohong kalau mama bilang rasa sayang mama ke kak Ani itu lebih besar dari pada rasa sayang mama ke kamu.” Aku sudah tidak bisa menahan air yang sudah meluap-luap di pelupuk mataku. Kini bendungan yang ada di pelupuk mataku sudah jebol. Dan air mataku pun kini mengalir deras, tumpah membasahi pipiku.
“Kalian berdua itu anak kandung mama, dan mama sayang banget sama kalian berdua. Mama ngerasa waktu mama udah ngga banyak lagi. Mama harap kamu bisa bahagiain kak Ani di sisa umurnya. Kamu harus bisa akur sama dia. Jangan sampai kamu menyimpan rasa iri apa lagi benci sama dia.” Isak tangisku kini semakin meluap. Hatiku benar-benar terasa sakit mendengar ucapan ibuku.
“Mama sayang kak Ani.. juga kamu..” Ucap ibuku pelan. Sangat pelan. Dia memelukku erat. Aku manangis tersedu-sedu. Tidak pernah kusangka kalau hari ini adalah hari terakhir aku bisa melihat ibuku. Aku merasakan penyesalan yang begitu besar. Maafkan aku ibu.

*****

Tiga tahun telah berlalu. Dan kini, aku sudah semakin dewasa. Di depan dua gundukan tanah ini, aku berdiri bersama ayahku. Ku usap pelan nisan ibuku. Ku siramkan lagi air yang masih segar. Dan kutaburkan sedikit bunga di atas makamnya. Aku berharap air dan bunga ini masih bisa bertasbih pada Yang Maha Kuasa. Dan masih bisa memberikan sedikit kesejukan dalam liang ibuku.

Maafkan aku ibu, aku merasa bersalah karena selama ini aku tidak pernah berbaik sangka kepadamu. Maafkan aku karena selama ini aku masih belum bisa berbakti kepadamu. Terimakasih telah menyayangiku selama ini. Terimakasih telah memberikanku kehidupan yang menyenangkan. Kau begitu hebat bu. Kau telah mengajariku bagaimana cara nya bersyukur. Kau membuatku bisa menemukan sebuah keindahan dalam segala keterbatasan. Sekali lagi terimakasih bu. Jika rasa syukur jauh lebih mulia dibanding rasa cinta, maka aku bersyukur telah terlahir sebagai anakmu.