Maaf Untuk Ibu (PART I)

Cerpen Karya : Heru Apri Saputra

Dari dalam kamarku, kudengar kak Ani sedang tertawa bersama ayah dan ibu di ruang tamu. Terakhir kudengar, kak Ani baru saja dibelikan sepatu baru. Padahal baru bulan lalu dia dibelikan sepatu oleh ibuku, dan kemarin dia dibelikan sepatu lagi. Sedangkan aku, aku sudah merengek berbulan-bulan untuk minta dibelikan tas baru. Tapi, jawabannya hanya nanti-nanti dan sabar. Ah, aku sudah mulai sedikit muak dengan situasi ini. 
“Nisa… sini nak, bantu ibu bersihkan kamar mandi.” Ucap ibuku dari ruang tengah. Hah, ini begitu menyebalkan. Jika masalah senang-senang, ibu selalu mengajak kak Ani bersamanya. Segangkan untuk urusan rumah dan sebagainya, seolah hanya aku lah yang layak membantunya. 
“Iya ma. Bentar. Nisa selesein ngetiknya dulu.” 
“Buruan Nis..” 
Tak ada pilihan lain. Akhirnya aku keluar dari kamar dan bersiap membantu ibuku. Karena jika aku menolak atau membantahnya, bukan hanya ibu saja yang akan memarahiku, tapi ayahku juga pasti ikut memarahiku. 
“Kamu bersihin kamar mandi yang kanan ya nak. Biar ibu bersihin kamar mandi yang kiri.” Ucap ibuku saat aku sudah sampai dihadapannya. 
“Terus yang tengah bu?” Tanyaku. 
“Ya kamu nanti bareng-bareng sama ibu geh.” 
“Kak Ani engga ikut bantuin?” 
“Huss… kamu mau bersihin engga?! Kalo engga ya udah biar mama aja yang bersihin!” Ucap ibuku dengan sedikit membentak. Aku hanya bisa terdiam dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkannya. Ini lah salah satu hal yang paling ku benci dari keluargaku. Ada semacam diskriminasi di keluarga ini. Ada pembagian kasta di keluarga ini. Dan parahnya, aku lah mahluk yang terdiskriminasi, juga mahluk yang berkasta paling rendah di sini. 

Banyak yang bilang rumah adalah tempat terindah. Tak ada tempat seindah rumah. Mungkin bagi sebagian besar orang hal itu adalah benar. Tapi bagiku, rumah sama sekali bukan tempat yang indah. Aku selalu didiskriminasi di rumah ku sendiri. Aku selalu di bedakan dengan kakakku. Sampai sekarang aku sama sekali belum tau apa salahku sampai-sampai hal ini terjadi padaku. Setau ku, aku selalu patuh dengan perintah mereka. Aku sama sekali tidak pernah melawan ataupun membantah apa pun yang mereka katakan. Bahkan aku selalu mengalah dengan kakakku. Ah, aku benar-benar muak sekarang. 
Entah kenapa aku merasa kurang beruntung lahir dikeluarga ini. Aku tau keluargaku bukan keluarga yang melarat. Kedua orang tua ku selalu memenuhi kebutuhan hidupku meski mereka menomorduakannya. Aku juga selalu bisa makan enak di rumah ini. Tapi, apa gunanya harta yang berlimpah jika tidak ada kasih sayang? 

Kasih sayang. Yah, aku merasa benar-benar membutuhkan kasih sayang sekarang. Orang bilang anak bungsu akan mendapatkan kasih sayang paling besar dari kedua orang tuanya. Tapi, yang aku rasakan sekarang? Aku merasa kasih sayang kedua orang tuaku telah habis untuk kakakku. Aku bukan hanya mendapatkan sisa kasih sayang mereka, tapi aku benar-benar merasa sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang mereka. Ini sungguh menyakitkan. 

“Aduuuh Nisa…. Kamu itu bersihin kamar mandinya gimana si?! Kalo ngga niat bersihin kamar mandi yaudah ngga usah dikerjain! Biar mama aja yang bersihin!” bentak ibuku saat dia melihat hasil kerjaku di kamar mandi. 
“Ya ini kan udah bener si ma bersihinnya, kurang apa lagi si.” 
“Liat ni. Ini sikat giginya kak Ani kok bisa kamu jatuhin ke lantai?! Harusnya kamu itu simpen dulu sikat giginya sebelum bersihin!" 
“Kak Ani… Kak Ani.. Kak Ani… Kak Ani aja terus yang dipikirin ma. Lupain aja kalo mama juga punya anak yang namanya Nisa.” Ucap ku berusaha memberontak. Aku sungguh sudah tidak tahan dengan situasi ini. menjadi nomor dua di keluargaku sendiri begitu terasa menyakitkan untukku. 
“Udah berani ngelawan mama kamu sekarang ya?!” 
“Bukannya ngelawan ma. Aku cuma udah ngga tahan aja sama sikap mama yang selalu menomor satukan kak Ani. Kak Ani selalu jadi nomor satu di mata mama, sedangkan Nisa selalu jadi nomor dua. Seolah Nisa itu ngga penting buat mama. Buat mama yang penting cuma kak Ani, kak Ani, dan kak Ani.” Kali ini aku benar-benar muak dengan situasi rumah ini. 
“Diem kamu! Kamu itu ngga tau apa-apa. Kamu itu beda sama kak Ani!” 
“Beda? Mama bilang aku beda?! Apa bedanya ma?! Apa bedanya aku sama kak Ani? Apa kak Ani itu lebih cantik? lebih pinter? Atau karena kak Ani itu lahir dari rahim mama sedangkan Nisa itu lahir dari rahim orang lain?!” 
“Jaga mulut kamu Nisa!" "Plaaaak!!” Dan akhirnya, satu tamparan keras pun mendarat di pipiku. Aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi. Tapi yang jelas, aku sudah tidak tahan lagi berada di rumah ini. 
Setelah satu tamparan keras itu, aku segera berlari masuk ke dalam kamarku. Aku mengurung diriku sendiri di kamar. Aku sungguh sudah tidak tahan. Aku tidak tau lagi apa yang harus dan bisa kulakukan. Yang aku tau sekarang hanya lah menangis. Yah, hanya menangis. Sama seperti hari-hari dan malam-malam sebelumnya. Menangis sendiri di dalam kamar tanpa sepengetahuan orang lain. 
Dari dalam kamar, kupandangi langit malam lewat jendela. Ada banyak sekali bintang di sana. Aku ingin jadi seperti bintang-bintang itu. tinggi, bersinar, kemilau, bisa dilihat banyak orang. Dan yang terpenting, bebas! 

Yah, aku ingin kebebesan. Aku ingin merasakan kebebasan seperti yang lainnya. Aku sungguh ingin terlepas dari ini semua. Hidup di bawah bayang-bayang kak Ani begitu menyakitkan. Aku ingin jadi diriku sendiri. Diriku sendiri yang bisa melakukan apa yang aku mau. Memaksimalkan potensi ku dan kemudian bersinar seperti bintang-bintang itu. 

Mungkin, jika aku keluar dari rumah ini, impianku itu bisa terwujud. Lagi pula, uang di ATM ku kurasa cukup untuk menghidupi diriku sendiri. Setidaknya sampai aku bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Agar aku bisa lebih bebas. Dan terlepas dari bayang-bayang kak Ani. Juga terlepas dari siksaan ini. 

Ku ambil tas ranselku yang mulai sedikit kusam. Sudah cukup lama aku tidak memakainya. Tapi kurasa ini cukup untuk membawa barang-barangku. Malam ini aku pergi dari rumah. Bersama barang-barang dan juga harapan akan kebebasan yang tersisa. Ayah, ibu, kak Ani, maafkan aku. Aku sayang kalian, tapi aku benci perlakuan kalian. Mungkin dengan kepergianku ini aku bisa merasakan kebebasan. Kebebesan yang selama ini begitu ku dambakan, ku rindukan, dan juga kebebasan yang selama ini tak pernah ku dapatkan di rumah ini. 
Semoga kalian bisa bahagia tanpa kehadiranku lagi di rumah ini. Walau bagaimanapun, kalian adalah keluargaku. Dan aku sangat mencintai kalian. Percayalah, aku akan kembali. Mungkin nantgi, saat kalian sudah bisa menganggap aku sama dengan kak Ani.