Cinta (bukan) Untuk Sahabat (Part I)

Cerpen Karya : Redha Muamar Alfath 

Aku terduduk sendiri didepan ruangan kelas. Sayup-sayup kupandangi dua insan yang sedang memadu kasih di bawah pohon cemara. Mereka berdua tampak begitu bahagia. Sesekali si gadis tersipu malu kala si pria membual. Dengan tipu dayanya, si pria seperti sudah berhasil meluluhkan hati si gadis. Aku tau benar siapa pria itu. Dia adalah sahabatku sendiri.Tidak, dia lebih tepat ku sebut mantan sahabat. Tapi, orang bijak berkata bahwa tidak ada kata ‘mantan’ dalam hubungan persahabatan. Oh, tidak lagi. Bukan orang bijak yang mengatakan itu. Hanya gadis munafik yang menolak pria murahan lah yang mengatakan kalimat itu. Dan itu sama sekali tidak benar. Aku sudah merasakannya. Aku bahkan mengalaminya sendiri. Aku putus dengan sahabatku. Terdengar konyol memang. Tapi itu lah adanya. Dulu kami hidup bersama. Tidur dalam satau kamar kost yang sama. Kami hidup sebantal sepenanggungan. Aku memakan apa yang dia makan. Dia juga meminum apa yang aku minum. Bahkan, kami sering bertukar celana dalam dalam keadaan mendesak. Hubungan kami kala itu lebih dari sekedar sahabat. Kami sudah seperti saudara. Dan kurasa, tak ada saudara yang hidup semesra kami. Sulit untuk mendefinisikan hubungan kami kala itu.Bahkan aku yang merasakannya sendiri pun tak bisa menafsirkan hubungan yang indah itu.

Tapi itu dulu. Kini semuanya sudah berubah. Kami seperti dua orang yang tak saling mengenal. Jangankan hanya untuk sekedar bertegur sapa. Saling memandang pun kami enggan. Ada sesuatu seperti tembok besar yang membatasi kami. Semacam gengsi tapi lebih mirip ke benci. Sulit untuk bisa benar-benar melupakannya. Aku seperti merasa terkekang saat dia ada didekatku. Dadaku terasa sesak. Mataku terasa begitu panas. Dan emosiku meluap-luap.
Sejujurnya aku sangat benci kondisi ini. Tapi inilah kenyatannya. Kami sama sekali tidak mau meminta maaf satu sama lain. Atau mungkin lebih tepatnya kami enggan untuk saling memaafkan. Sudah terlalu banyak dosa yang kulakukan terhadapnya. Begitupun sebaliknya. Dia pernah menghilangkan celana dalam ku yang berharga. Aku juga pernah menjatuhkan sikat gigi kramatnya kedalam lubang kloset. Dan itu hanya lah sebagian dari dosa-dosa kecil kami. Karena yang menjadi tembok besar pembatas hubungan kami bukanlah itu. Ada dosa yang jauh lebih besar dari itu semua. Dosa yang sulit sekali untuk dimaafkan. Dan dosa itu bernama ‘cinta’.

Cinta yang agung dan selalu dipuja itulah yang menjadi tembok pembatas hubungan kami. Cinta sudah menutupi hati kami. Dan cinta jugalah yang telah mengotori hati kami. Membuat hati ini menjadi tidak jernih. Kelam, seperti susu yang terkena serangan kopi. Kami tidak bisa melihat satu sama lain. Kami tak bisa lagi bicara dari hati ke hati.Ada sesuatu yang meronta di hati kami.Kecil, tapi besar. Dan inilah hukuman dari dosa kami. Ketidaknyamanan yang amat memuakkan. Aku telah berdosa karena mencintai Cintanya. Dan dia juga telah berdosa karena telah mencintai Cintaku.

“Udah jangan di liatin terus. Nambah sakit entar.” Kata Cinta yang tiba-tiba sudah berdiri disampingku. Dialah Cintaku. Cinta yang sudah membuat hubunganku dengan sahabatku hancur.Remuk, laksana krikil yang terkena  terpaan palu raksasa.
“Iya.” Ucapku sembari menoleh kearahnya. Kutatap matanya lekat. Dan kutemukan cinta didalam Cinta. Dia tersenyum kearahku. Lalu menggenggam tanganku erat. Lewat genggaman tangannya dia menyampaikan sebuah pesan tersirat. Pesan yang berisi ucapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan aku percaya pada pesannya.
“Jalan yuk. Dari pada kamu nambah suntuk.” Katanya sembari tersenyum kearahku. Senyumnya sangat manis. Begitu indah dan memabukkan. Membuatku menjadi ingin terus bersamanya. Menelan senyumnya dan melumatnya hingga habis.

“Iya ayuk.” Aku berjalan bersamanya menuju sebuah kafe. Sebuah kafe yang berada disebrang jalan. Kecil, tapi istimewa. Dikafe itulah aku bertemu Cinta. Dan dikafe itu jugalah aku bertemu Rangga. Seorang sahabat yang juga mencintai Cinta.
Dia sudah berulang kali menceritakan cintanya padaku. Tapi kala itu aku hanya bisa menelan ludah.  Aku marah, benci, kesal, dan kecewa di saat yang sama. Rangga benar-benar seperti sudah menghancurkan hidupku. Ingin sekali aku berkata padanya bahwa aku lah yang lebih dulu mencintai Cinta. Tapi lidahku selalu keluh. Aku sama sekali tidak bisa berucap kala itu. Aku hanya bisa mendengar ceritanya. Menepuk pelan pundaknya dan memberikannya sebuah ucapan semangat.

Kala itu dia bercerita padaku bahwa hubungannya sudah mulai dekat dengan Cinta. Lalu dia melihat Cinta menulis semacam status dalam akun sosialnya. Tidak banyak kata yang ada dalam statusnya kala itu. Hanya satu karakter ‘R’ dan itu sukses membuat hati Rangga berbunga-bunga. Cinta hanya butuh satu karakter untuk menunjukan perasaannya. Dan hanya butuh satu karakter untuk meruntuhkan sekaligus memupuskan harapanku.

Hatiku terasa begitu ngilu kala itu.Bibirku tersenyum tapi hatiku menangis. Karena yang terpikirkan dibenakku kala itu, aku akan segera melihat Rangga bercumbu dengan Cintaku. Munafik, itulah satu kata yang tepat untuk manusia hina semacam aku.

Selang sekian hari sejak Rangga menceritakan cintanya, kini dia kembali bercerita padaku. Tapi kali ini ceritanya benar-benar berbeda. Ada air mata dalam ceritanya. Dia mengaku telah menyatakan cintanya pada Cinta.Tapi Cinta dengan terang-terangan menolak cintanya. Cinta tidak mau mengulur-ngulur waktu seperti wanita lain. Dia berkata tidak jika memang tidak dan berkata iya jika memang iya. Itulah Cinta yang kukenal. Dan itulah Cinta yang kucinta.

Hatiku tersenyum manis kala itu. Berbunga-bunga seperti seperti baju yang disemprot pewangi.Tapi wajahku tetap saja berusaha menunjukan raut sedih. Karena aku memang tidak mungkin berbahagia kala sahabatku menangis. Aku benar-benar orang yang munafik. Saat itu aku baru sadar bahwa aku memiliki bakat berakting. Dan kurasa aku akan menjadi aktor papan atas jika aku memiliki kesempatan.

“Diminum dulu Ren Cappucinonya.” Suara Cinta kembali terdengar. Membuyarkan lamunanku yang sedikit menjauh. Dengan senyuman manis, dia menyodorkan satu gelas Cappucino hangat padaku.
“Ah, iya makasih ya.” Dia hanya mengangguk. Pelan dan penuh arti. Dia benar-benar gadis yang manis. Kurasa sangat wajar jika gadis seistimewa Cinta disukai oleh banyak pria.

Setelah mendengar cerita Rangga kala itu, semangatku menjadi menggebu-gebu. Aku ingin segera mendapatkan cinta Cinta. Ku lakukan apa pun untuk mendekati Cinta. Dan tentunya, tanpa sepengetahuan Rangga.
Di malam itu, aku mengajak Cinta untuk bertemu. Dihadapannya aku berlutut. Ku genggam lembut jemari tangannya. Kubisikan satu kalimat cinta. Dan dengan anggukan juga senyuman dari Cinta, akhirnya aku resmi mendapatkan cintanya. Aku resmi pacaran dengan cinta. Meski aku tau, akan ada hati yang menangis dalam kebahagiaanku bersama Cinta. Dan sialnya, hati itu adalah Rangga. Sahabat ku sendiri. Sahabat yang hidup sebantal sepenanggungan denganku.

“Aku mau ngomong penting sama kamu.” Ucapku pada Cinta dengan wajah serius.
“Mau ngomong apa? Yaudah ngomong aja.” Ucapnya padaku. Aku menundukan wajahku. Berharap Cinta tidak bisa menatap kedua mataku. Kutarik nafas dalam-dalam. Ku kumpulkan energi alam yang ada disekitarku. Karena saat ini aku tidak begitu yakin dengan apa yang akan kukatakan.
“Aku pengen kita temenan aja Cin.” Ucapku lagi. Aku masih menunduk. Dadaku terasa sesak dan mataku terasa panas. Entahlah, aku seperti tidak kuat mengucapkannya. Nafasku benar-benar terasa berat saat ini.
“Maksud kamu?”Ucap Cinta sambil berusaha mencari bola mataku.
“Aku pengen kita temenan aja. Aku udah ngga sayang sama kamu. Maafin aku. Aku berterimakasih banget sama kamu karena selama ini kamu udah mau nyemangatin dan bikin setiap langkahku jadi terasa ringan. Sekali lagi maafin aku karena aku harus ninggalin kamu.”Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Aku tau, pasti ini sangat berat baginya. Hubungan kami baik-baik saja bahkan sangat baik. Tak ada masalah sedikitpun. Bahkan kami sekarang sedang duduk bersama di sebuah cafe dengan suasana yang romantis. Aku tau aku akan berdosa karena mengambil keputusan secara sepihak seperti ini. tapi aku yakin ini adalah yang terbaik. Aku sudah memikirkan hal ini sepanjang waktu. Dan otakku benar-benar buntu. Hanya ini lah keputusan yang saat ini bisa ku ambil.
“Rendi…” ucapnya pelan. Sangat pelan. Mungkin jika suasana cafe tidak sepi aku tidak akan bisa mendengar suaranya. Tapi tetap saja aku berpura-pura tidak mendengarnya. Aku beranjak pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun menoleh kearahnya. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Karena memang lidahku keluh dan mulutku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Yang terasa kini hanya lah sebuah rasa sakit yang menyedihkan. Sangat menyedihkan. Beberapa waktu yang lalu aku telah menyakiti sahabatku sendiri. Dan kali ini aku telah menyakiti wanita yang sangat aku cintai. Oh Tuhan… betapa buruk dan kacaunya hambaMu ini.

Lanjutkan ke bagian berikutnya