Demi Sahabatku

Cerpen Karya : Adelia Divega 

“Dear diary, Aku bahagia orang sebaik dia hadir dalam kehidupanku. Aku bahagia ketika tau dia menyukaiku. Dan aku bahagia saat dia menyatakan perasaannya kepadaku. Aku heran secepat dan semudah itu dia menjatuhkan hatinya padaku. Rasanya aku perlu mencuci muka dulu, setelah nyenyaknya tidurku semalam karena mimpi indah itu. Agar aku tersadar tidak mungkin sosok lelaki berhati polos bagaikan malaikat itu menyimpan rasa padaku. Berkali-kali aku mencoba untuk menyadarkan diriku, tetapi berulang kali juga dia menyadarkanku bahwa semua ini nyata. Apa yang dia ungkapkan padaku itu memang benar. Dia mencintaiku. Lalu bagaimana denganku? Aku berada dalam posisi yang sulit. Kenyataan ini datang terlambat. Karena sahabatku telah lebih dulu banyak bercerita akan ketertarikannya pada lelaki itu. Lelaki yang sama. Lelaki yang aku bilang berhati polos seperti malaikat. Haruskah aku bahagia di atas penderitaan sahabatku sendiri ? Rasanya itu tidak adil. Lebih baik aku kubur dalam-dalam rasa ini. Rasa yang muncul semenjak dia menyatakan perasaannya padaku. Aku harus bisa belajar ikhlas. Demi sahabatku. “

Pagi ini seperti biasa, aku harus melihatnya di sekolah. Raihan memang tidak pernah menyapaku lagi semenjak aku tidak merespon pesannya. Mungkin dia menganggap aku tidak menyukainya jadi aku tidak menghiraukan pernyataannya yang memberitahuku bahwa dia menyukaiku. Semenjak itu, sikapnya begitu dingin denganku. Sementara dalam masalah baruku ini, sahabatku Ayu justru semakin banyak menceritakan tentang Raihan. Ingin rasanya bercerita tentang Raihan juga, tetapi tidak mungkin. Itu sama saja menyalakan api yang besar di dalam rumah. Saat Ayu bercerita, aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa antara aku dan juga Raihan. Aku selalu berusaha menjadi sahabat yang terbaik. Yang bersedia mendengarkan dan memberi solusi ketika sahabatku sedang menumpahkan perasaannya. Walaupun aku sendiri tidak tau apakah aku mampu dan tetap kuat mendengar semua ini.

Kali ini, Ayu bukan hanya bercerita tentang Raihan. Tetapi juga bercerita tentang pacarnya Nando. Dia memang sangat menyukai Raihan, tapi dia juga sebenarnya sudah mempunyai pacar. Aku sendiri bingung.
“Mutiara... aku pengen cerita. “ kata Ayu, terlihat dari wajahnya sepertinya dia sedang sedih.
“Iya yu, cerita aja lagi. Kenapa sih ?Muka kamu kok ditekuk gitu ?”
“Aku lagi galau mut, kamu tau kan Nando ? Dia pacar aku, tapi nggak pernah peduliin aku. Selalu aja nyakitin aku. Selalu nggak ada waktu buat berdua sama aku. Terakhir aku liat dia jalan sama cewek lain. Aku liat sendiri mut. Dan bahkan sekarang dia nggak pernah bales pesanku lagi. Aku bener-bener nggak tau harus gimana lagi. Mungkin ini yang buat aku berpaling jadi suka sama Raihan mut dan nggak mau mikirin Nando lagi.”
“Hm gitu, yang sabar ya, aku saranin mending kamu anggep aja Nando itu udah bukan pacar kamu lagi. Kamu fokus sama Raihan aja yu kalau memang kamu beneran suka sama Raihan. Kamu harus bisa milih, jangan kaya gini terus yu.”
Ya Tuhan, aku bisa ngasih saran kaya gini ke Ayu, sedangkan perasaanku ke Raihan sampai sekarang masih ada. Dan sulit banget nutupin semua ini. Hati aku sakit tiap kali Ayu cerita tentang Raihan. Tapi aku juga nggak boleh egois. Aku pun nggak rela kalau Ayu terus-terusan disakitin sama Nando. Aku harus deketin Ayu sama Raihan secepatnya. Aku tidak perduli sesakit apa nantinya ketika harus melihat mereka bersama. Yang aku ingin hanya kebahagiaan sahabatku. Soal kebahagiaanku itu tidak terlalu penting. Lagi pula pacar itu bukan segalanya. Sahabat lah yang harus diprioritaskan lebih dulu.
“Makasih ya mut, sekarang aku ngerasa lebih tenang. Kamu selalu ada buat aku, kamu selalu ngasih jawaban dari curhatanku. Aku sayang banget sama kamu Mut.”
“Makasih doang nih ? Traktir dong yu. Haha...” aku selalu mencoba menutupi kesedihanku di depan Ayu.
“Hey, tenang saja sahabatku. Aku akan menraktirmu sampai kamu puas, tapi nanti kalau aku dan Raihan sudah jadian. Haha...”deg, andai kamu tau yu. Ucapanmu itu membuat hatiku menjerit.

Semakin hari aku lihat Ayu semakin menyukai Raihan. Sementara aku terus berusaha membuat mereka bisa lebih dekat. Tetapi, Raihan sepertinya tidak pernah memperdulikan Ayu. Dia selalu cuek, sampai kadang aku merasa kasihan dengan Ayu. Ya walaupun mereka berdua kadang bercanda di depanku. Tanpa mereka tau apa yang aku rasakan. Aku yang menginginkan Raihan bersama dengan Ayu, tapi aku juga yang takut kalau suatu saat aku benar-benar kehilangan Raihan. Sekarang aku mengerti bahwa sangat rumit apabila cinta berkaitan dengan sahabat. Entah harus egois demi diri sendiri atau egois demi orang lain. Keduanya sungguh pilihan yang berat. Tidak ada yang mudah untuk dijalani. Semua serba salah. Inisemacammendengarpepatah ‘malubertanyasesatdijalan’ dan ‘diamituemas’ disaat yang sama. Begini aku yang sakit, begitu pun sahabatku yang sakit dan aku akan lebih merasa sakit ketika sahabatku sedih karena aku. Andai aku mampu dan berani berkata yang sejujurnya. Aku bukan ingin merebut Raihan dari sahabatku sendiri. Aku hanya ingin merasakan bahagia. Tetapi, jika bahagiaku salah, aku rela terluka begitu dalam, demi sahabatku. Berusahalah Ayu ! Terus kejar Raihan sampai kamu mendapatkannya. Aku tidak akan mengganggu. Biarlah aku pasrah saja disini, Tuhan yang akan menentukan akhirnya nanti.