Cerpen karya : Etis Gumanti
Selamat pagi kesunyian, begitulah caraku menyapa lembaran cerita hidup ini di dunia . Sore itu warna langit kelam sekelam hatiku , mengingatkanku pada sebuah peristiwa yang sesungguhnya tak pernah ingin aku saksikan , mereka yang menghadirkan aku justru menghempaskan mimpiku jauh ke lubuk kesunyian, bagaimana bisa kuterima ketika mereka yaa...mereka ayah dan ibuku yang telah lama bersama harus berpisah karena satu alasan yang tak dapat kupahami. Mereka merubah segalanya merubah peribadiku menjadi lebih tertutup, baginya sesuatu yang membuatku bahagia mungkin bukanlah kebersamaan dan kasih sayang tapi sesuatu yang dapat dihargai oleh orang lain seperti uang misalnya.
Di rumah sebesar ini hanya ada aku dan seorang “pembantu” yang senantiasa merawatku layaknya “ibu semu”, membantuku dan menemaniku layaknya
“teman semu”, sekalipun jarang atau bahkan tak pernah aku mengakrabkan diriku dengannya, tapi bagiku dialah yang lebih mengenal aku daripada orang tuaku sendiri.
Bibi Suti begitulah nama wanita setengah tua ini , orang yang satu-satunya memahami sifat dan karakterku dibalik tidak peduliku selama ini. mungkin...
“Sam, makan malam sudah bibi siapkan, tidak baik melamun seperti itu pamali” cetus Bi Suti mengehentikan lamunanku malam itu.
Begitulah yang selalu bi Suti lakukan untukku , mengingatkan Sasam Agung kesayangannya ini ketika sedang terbuai dalam lamunannya. Dan inilah diriku orang yang sedari tadi melamunkan hidupnya menceritakan dunianya, yaaa...
akulah Sasam Agung yang bi Suti kenal . Sasam pendiam dan aneh inilah yang selalu aku lamunkan . Singkatnya adalah diriku sendiri yang aku tempatkan dalam kesunyian. Dengan hidup yang selalu terjadwal oleh keadaan, sesekali pernah kusimpulkan bahwa akulah pribumi di kisah hidup ini.
**
Matahari mungkin bisa membakarku ketika aku mencoba keluar bermain seperti layaknya remaja yang lain. Untuk ku bermain sama halnya membuang waktu dengan percuma , aku menyimpulkan ini kurang lebih lima tahun yang lalu ketika aku hanya memfokuskan hidupku pada diriku sendiri , menutup diri pada siapapun termasuk Bi Suti yang bertahun-tahun bersamaku, beruntungnya mungkin Bi Suti mengerti apa yang terjadi padaku, sehingga ia hanya akan mengingatkanku untuk melakukan sesuatu yang seperlunya aku lakukan.
Di dalam kamar lantai dua rumah ku inilah saksi bisu cerita kesunyian kuawali. Yang selalu aku lakukan disana hanyalah melamunkan hidupku sendiri.
Atau sesekali kuamati orang-orang yang berhalu-lalang dan beraktifitas di komplek rumahku lewat celah jendela yang ayah buatkan untukku dulu di sudut
ruang kamarku . Entahlah celah jendela yang dulu dibuat dengan sebuah tujuan sebagai alat fentilasi, keluar masuknya udara, oksigen, serta zat-zat lain kini justru beralih fungsi menjadi kaca mata ku melihat dunia di luar sana yang bagiku sangat kejam. Entahlah, sampai sekarang aku belum mengerti apa yang telah membuatku sangat membenci mereka semua.
**
Masih dengan celah jendela di sudut kamarku, mengamati dunia di luar sana selama ini ternyata membuatku ingin tahu lebih banyak tentang mereka . Kali ini ada sesuatu yang berbeda dari yang selalu kuamati , rumah tua seperti tak berpenghuni di sudut gang pertigaan kompek menarik perhatianku, sekilas dalam pandanganku dari celah jendela kamarku menuju sudut jendela usang rumah tua itu aku seperti melihat ada orang di dalam rumah itu, berulang kali aku meyainkan diriku bahwa halusinasi ku mungkin sudah berada pada satu kondisi yang “berbahaya”.
Berulang kali aku meyakinkan diriku dan mencoba mengabaikan amatanku dari rumah itu dengan kembali memperhatikan obyek lain yang ada di komplek ku. Tapi, mata ini sama sekalo tidak bisa dibohongi, atau mungkin mata ini sama sekali tak mahir berbohong. Pandanganku terus saja kembali ke jendela rumah tua itu. Apa yang pernah kulihat beberapa waktu yang lalu justru kini membuatku jadi ingin tahu siapa yang ada di balik jendela itu. Dalam ingatanku, masih jelas tergambar tubuh seorang wanita paruh baya menggendong seorang anak berambut panjang, atau kadang seorang pria dewasa setengah tua berambut ikal, dan remaja putri yang sering kali menyisir rambutnya tepat di depan kaca jendela tua itu.
Sore itu langit menghitam, secangkir kopi panas berada tepat digenggamanku sembari berdiri dibalik sudut kaca jendela kamarku memandang apa saja yang bisa kupandang, aku kembali memperhatikan rumah tua itu meskipun sedikit terhalang ranting tumbang filicium besar aku kembali ingin menyaksikan apa yang pernah ku saksikan sepekan yang lalu. Sebuah rutinas kecil yang mereka lakukan di dalam sana segalanya seperti tertawa dan juga bercerita. Terkadang terlihat juga wanita setengah baya itu membersihan kaca bersama-sama, sungguh hal kecil yang terlihat gembira seolah jendela utama itulah yang menjadi jantung kehidupannya, lalu... bagaimana mereka bisa hidup seperti itu, bahkan yang sangat mengejutkanku adalah salah satu dari mereka akan keluar ketika malam hari untuk membeli sesuatu yang akan mereka perlukan di dalam sana. Mereka seperti mahluk nokturnal, atau mungkin mereka lah si mahluk nokturnal itu. Ah, entahlah.
Aku berpikir apa yang sedang aku perhatikan ini sungguh membingungkan. Bagaimana tidak, rumah yang penuh dengan rumput liar tinggi, serta pohon-pohon besar sejenis ficus benjamina yang terlihat tua dan kotor itu ternyata memiliki penghuni.
“Benarkah rumah itu.....? keluargaaa..? benarkah ???” Gumamku dalam hati, esok aku akan kembali menyaksikan apa yang sudah aku temukan ini.