Warisan Wiratama

Cerpen karya : Nina

Suara grasak-grusuk di dapur menyadarkanku dari tidur pendekku. Aku melihat sekelilingku, ternyata aku tertidur di hadapan laptop yang menyala, dalam posisi duduk. Pekerjaan sebagai seorang editor membuat waktuku terkuras habis didepan layar laptop. Aku meregangkan otot-otot tubuhku dan beranjak dari dudukku.

Aku berjalan kearah dapur, sebenarnya aku tak perlu heran mendengar suara itu karena itu pasti kelakuan si prince. Suara si prince pun terdengar dari tadi, padahal biasanya dia sedang tidur nyaman di kasur sejak tadi. Suara si prince semakin melengking, dan mau tak mau aku berjalan cepat kearah dapur.

"Sebentar prince, mommy akan datang" teriakku.

Jangan berpikir jika si prince adalah anakku, karena dia hanya seekor kucing angora yang tak sengaja ku temukan di depan rumahku. Sebagai wanita single yang tinggal sendirian, aku menyambut hangat kehadiran si prince di istana mungilku.

Aku menyalakan lampu dapur dan sebuah pistol langsung terhunus ke pelipisku. Aku langsung diam mematung, bahkan aku lupa caranya bernafas saking kagetnya.

"Ambil kotak p3k" perintah orang itu, dari suaranya aku bisa menebak kalau orang itu laki-laki.

"Hah?" tanyaku tak paham.

"Apa kau tuli? Ambil kotak p3k!" sentaknya, sambil menekan ujung pistolnya di pelipisku.

Dengan terseok-seok aku berjalan menuju tempat kotak p3k berada. Setelah mendapat apa yang di minta, aku berbalik dan menyerahkan kotak itu. Busyet.... Tuh cowok ganteng bener mirip-mirip kapten yoo shi jin. Kalau tuh cowok gak pegang pistol, aku udah kegirangan disambangi cowok ganteng, nah ini ganteng sih ganteng kalau nodongin pistol kayak gini, alamat masa aktifku didunia akan segera tamat.

Pria itu masih menodongkan pistolnya, tapi dia beranjak mundur ke ruang tengah, dan mengisyaratkan aku untuk mendekatinya. Aku membawa prince kepangkuanku, dan menuruti keingainan pria itu. Memperhatikan pria itu secara jelas, sepertinya pria itu terluka karena ada tetesan darah di lantai sepanjang jalan yang dilalui pria itu. Berbagai pikiran berseliweran di otakku, kemungkinan-kemungkina buruk membuatku merinding.

Tiba-tiba pria itu membuka kaos bajunya, badannya bagus banget coy, tapi itu gak penting karena saat ini aku sedang ada dalam keadaan super genting. Bagaimana kalau orang itu maniak, perampok, pembunuh, tukang bobok, tukang tarok, tukang narik tali ondrok kan serem.

"Mas, maaf masnya siapa? Kenapa masuk rumah saya? Masnya maling? Aduh mas jangan maling rumah saya, orang saya gak punya apa-apa. Masnya pembunuh? Aduh mas jangan bunuh saya, dosa saya banyak, tagihan saya juga banyak. Masnya tukang perkosa? Aduh mas bakal nyesel kalau sampe merkosa saya" ucapku berusaha santai padahalmah jantung berasa udah copot.

Si masnya malah diem aja ngeliatin, reaksinya tuh enggak banget. Padahal kalau di TV mungkin si masnya sudah menerkam atau nggak menembakku kan dia punya pistol tuh.

"Saya cuma minta tolong, obati saya" ucap pria itu sambil memperlihatkan punggungnya yang penuh darah. Ajib gila, sebagai orang waras tentu saja aku mundur bersiap untuk lari dan cari bala bantuan. Luka di punggung pria itu bukan luka biasa tapi luka seperti di film-film action itu loh, luka tembak gitu.

Aku mundur perlahan tapi baru aja siap-siap mau lari tuh pistol sudah mengarah lagi kearahku.

"Berani keluar, saya pecahkan kepalamu" ancamnya.

Busyet deh si mas nih ngancemnya gak tanggung-tanggung. Karena masih sayang dengan kepalaku, maka perlahan aku mendekat pada pria itu.

"Saya gak kemana-mana mas, saya mau bangunin mbak Dian, tetangga saya, dia perawat jadi dia bisa rawat mas" ucapku ngeles padahal mah aku gak kenal siapa tuh mbak Dian.

"Kamu pikir saya bodoh? Cepat cabut peluru di punggungku dan obati aku" titahnya.

Dengan gemetar dan perut yang mual aku menuruti ke inginan pria itu. Beruntung aku pernah ikut jadi anggota PMR jadi bisalah dikit-dikit masalah kesehatan. Mengeluarkan peluru, mengubek-ubek daging berdarah untuk mencari timah panas yang menancap di punggung pria itu, rasanya tuh kayak dipaksa nelen jus jengkol di hadapan guru killer.

Setelah berjibaku dengan luka menganga, rasa mual yang menyiksa perut dan erangan pria yang menyeramkan, akhirnya tugasku selesai. Aku mundur menjauh dari pria itu dan mengangkat prince ke pangkuanku. Perasaanku sudah was-was, berbagai do'a sudah kupanjatkan setidaknya kalau aku mati sekarang dalam keadaan khusnul khotimah.

Belum selesai rasa kagetku karena kedatangan pria itu, tiba-tiba suara derap langkah mendekat kearahku. Aku bersyukur ada orang yang datang, aku akan berteriak dan meminta tolong tapi pria itu langsung membekap mulutku. Pria itu menyeretku keluar dari rumahku sendiri. Suara derap langkah semakin mendekat, pria itu menyeretku untuk masuk kedalam sebuah mobil. Pria itu membantingku agar masuk kedalam mobil, aku hendak menjerit tapi moncong pistol sudah ada dipelipisku, jadi mau tak mau aku telan lagi suaraku.

Pria itu menjalankan mobil sangat cepat ala ala fast farious, untung udah malem jadi hanya sedikit mobil yang masih ada di jalan. Pria itu terus melajukan mobilnya dengan cara yang luar biasa membuatku mual. Tidak sendiri pria itu juga diikuti mobil-mobil lain yang menembakan senjata kearah mobil ini.

"Aduh mas nih siapa sih? Kenapa culik-culik saya kayak gini? Saya yatim piatu mas, jadi percuma gak akan ada yang tebusin saya. Saya juga bukan cabe-cabean jadi gak akan laku sama om-om"

Pria itu hanya melirik sebentar lalu fokus menyetir.

"Mas turunin saya didepan yah, saya gak mau ikut balap-balapan begini."

"Hana Wiratama diam, tutup mulutmu, kamu mengganggu konsentrasi saya" desis pria itu.

"Mas, mas salah orang, saya Hana Widyaningsih, bukan Hana Wiratama. Jadi tolong turunkan saya."

"Kamu Hana Wiratama putri dari Bapak Permana Wiratama dan Widya Wiratama."

"Mas nih ngomong apa sih?"

"DIAM.... Setelah kita di tempat aman baru saya ceritakan." ucap pria itu sambil melotot.

Akhirnya karena takut aku hanya bisa diam, sampai pria itu membawaku ke jalanan sepi. Kelar sudah hidupku, pria itu membawaku memasuki hutan dan menepikan mobilnya di sebuah rumah pohon yang tertutup pohon bambu.

Aku diam membeku saat pria itu menyuruhku turun, tapi pria itu langsung menarikku, tanpa peduli perlawananku, dan kembali saat aku akan berteriak, moncong pistol sudah ada di pelipisku.

Pria itu membawaku kesebuah kamar dan mendudukanku disana, aku sudah pasrah mau diapain juga karena berontak juga percuma toh sekarang aku didalam hutan. Pria itu duduk dihadapanku menyerahkan selembar foto. Foto itu berisi gambar seorang wanita yang mirip denganku dan seorang pria asing yang tak kukenal.

"Itu foto orangtuamu, aku Aiden, aku diutus untuk membawamu pulang sebelum keluarga Wiratama lain yang menemukanmu dan menghabisimu."

Krik...krik...krik...

Aku hanya bisa diam, karena tak tahu harus merespon apa. Apa yang dikatakan Aiden itu berasa sebuah sinetron.

Tanpa di minta mengalirlah cerita Aiden, dimulai dari aku bayi, di culik lalu disembunyikan di panti asuhan untuk menyelamatkan jiwaku. Orangtuaku yang memantauku dari jauh lewat alat pelacak dikalungku. Alasan aku tidak pernah diadopsi dan selalu mendapatkan banyak undian berhadiah, itupun karena mereka yang melakukannya. Mereka terpaksa melakukan ini karena keluarga Wiratama lain mencariku, karena hanya aku yang bisa mencairkan warisan mereka. Bila mereka tidak menemukanku sampai usiaku 25 tahun maka warisan itu akan jatuh keyayasan kemanusiaan.

"Aduh mas, ini acara apa sih, ceritanya kok kayak film-film gitu?" tanyaku sambil tertawa.

"Ini bukan film, ini nyata" ucap Aiden tajam.

"Iya kali mas, apa saya harus percaya?, ada-ada aja si mas nih"

"Saya tidak peduli kamu percaya atau tidak, tugas saya hanya membawa kamu kembali kekeluargamu"

Belum sempat aku menjawab ucapannya, dia sudah mendesis dan mengumpat. Aiden menarik Prince dari pangkuanku lalu menjambret kalung yang terpasang dileher prince.

"Apa-apaan sih?"

"Kita harus pergi, mereka tahu tempat persembunyian kita, karena mereka menyimpan penyadap dan CCTV di leher kucingmu"

Tanpa menunggu reaksiku, dia kembali menarikku. Terlambat pria-pria itu sudah keburu datang. Aiden membawaku keluar lewat pintu belakang, dan mengajakku berlari. Mau tak mau aku mengikutinya berlari meskipun kostumku tidak sesuai. Bagaimana tidak sekarang ini aku hanya memakai baju tidur kebangsaanku, yaitu daster batik yang sudah pudar yang panjangnya hanya beberapa senti di bawah lutut.

Bayangkan dengan kostum seperti itu aku berlari-lari dihutan, sembunyi dari pohon satu ke pohon lain. Belum lagi tembakan yang terus diluncurkan kearah kami. Perasaan Angelina jolie aja syuting film action gak gini-gini amat.

Kakiku sudah letih, sandal rumah hello kittyku sudah tak berbentuk, baju dasterku yang lusuh semakin lusuh. Aiden terus menarikku untuk berlari hingga cahaya matahari terbit petanda hari mulai siang.

Tak peduli dengan keadaan tubuh yang letih, Aiden terus menyeretku hingga kumpulan pria baju hitam menyelamatkan kami. Kupikir drama action sudah berakhir tapi ternyata, setelah kami bergabung dengan pria berjas hitam, pria-pria yang mengejar kami sejak semalam juga berhasil menemukan kami.

Baku tembak kembali terjadi diantara mereka, sedangkan aku hanya bisa menjerit-jerit kalut. Entah berapa lama semua kekacawan ini berlangsung, hingga akhirnya suara sirine polisi menghentikan kegiatan baku tembak itu.

Sepasang suami istri langsung mrnghamipiriku yang tengah berjongkok di belakang mobil seperti anak hilang. Wanita itu langsung memelukku dan menggumamkan maaf berulang kali.

Aku tidak mengenal mereka, tapi karena terlalu lelah dan shock aku ikut saja ketika mereka membawaku. Tidak ada kejadian film action selama mereka membawaku, yang ada hanya film drama mellow yang dilakoni oleh sepasang suami istri yang katanya orangtuaku itu.

Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana ketika tahu semua kenyataan ini. Aku yang tahu jatidiriku hanya sebagai anak yatim piatu yang selalu gagal diadopsi, tiba-tiba menjadi anak keluarga kaya bahkan kakekku konglomerat. Karena uang melimpah mereka, aku harus hidup tanpa kasih sayang orangtuaku. Karena uang mereka dalam semalam aku harus melalui malam yang sangat mengerikan.

Apa pengaruh uang sebesar itu? Hanya demi warisan keluarga Wiratama mencariku dan mereka akan membunuhku setelah aku membuka segel warisan mereka. Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh harta bagi orang-orang kaya itu. Selama ini aku hidup dalam kesederhanaan, jadi harta tak terlalu penting bagiku karena keluargalah yang selalu aku ridukan.

Kembali kekeluarga kandungku, justru aku harus hidup sebagai orang baru. Hana Widyaningsih atau mereka menyebutku Hana Wiratama harus mati karena dengan begitu Wiratama yang lain tidak akan mencariku lagi. Karena kematianku harta kakekku bisa disalurkan ke yayasan untuk membantu orang yang membutuhkan.

Aku tak tahu bagaimana aku akan menjalani hidup setelah ini, hidup dengan orangtua yang tak ku ketahui dengan identitas baru setidaknya sampai usiaku 25 tahun. Aku tak tahu hikmah apa yang ku dapat dari semuan ini, tapi aku harap aku tidak menjadi bagian Wiratama yang memuji harta, dan sanggup melakukan apapun hanya demi harta, bahkan menghilangkan nyawa seseorang sekalipun.

THE END