Cerpen karya : Nina
Hari minggu, hari paling ditunggu semua orang yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di balik meja. Hari minggu harinya untuk malas-malasan apalagi cuaca dingin dan hujan rintik-rintik diluar membuat selimut dan kasur memanggil untuk bergulung didalamnya. Begitupun denganku mingguku aku habiskan dengan bergelung di dalam selimut.
Hidup sendirian membuat hidupku tak terlalu teratur apalagi hari libur begini, tenggelam di pulau kapuk adalah hal yang paling aku gemari. Pekerjaanku sebagai teler bank menuntutku untuk selalu duduk dibelakang meja dan menampilkan senyum setiap waktu meskipun dalam mood buruk, sehingga hari minggu adalah hari paling ku tunggu karena hari inilah aku bisa melepaskan senyum palsu dan sepatu high heels tentunya.
Suara bel terus berbunyi, kupikir mungkin ada tamu ke rumah sebelah, maklumlah aku tinggal di perumahan kecil yang temboknya nempel jadi kalau ribut di tetangga bisa kedenger sampe rumahku. Aku mengabaikan suara bel yang nyaring itu tapi lama-lama suara itu menggangguku.
Aku membuka pintu dengan malas untuk menegur siapapun yang menganggurkan tamunya diluar sana tapi saat aku membuka pintu seorang pria dewasa dan dua orang anak kecil ada dihadapanku. Ternyata oh ternyata akulah yang sedari tadi mengabaikan tamuku. Aku memandang orang asing yang ada dihadapanku secara teliti, dari atas sampai bawah. Mencari tahu siapa kira-kira orang ini tapi nihil otakku sama sekali tidak mengirimkan keterangan apapun tentang orang dihadapanku ini.
"Maaf mas cari siapa?" tanyaku
"Benar ini rumah Arumi Kiandra Hakim?" tanya si masnya.
Aku mengangguk karena memang benar itu namaku. Si masnya tersenyum lalu mengulurkan tangannya padaku.
"Perkenalkan saya Afandi setiawan putra dari Bapak Herman" katanya.
Aku membalas uluran tangannya sambil menerka-nerka maksud dan tujuan orang ini datang kerumahku membawa anak kecil dalam cuaca hujan seperti ini.
"Bisa kami masuk? Alea sepertinya kedinginan" ucapnya.
Aku mempersilahkan mereka masuk dan menyiapkan minuman hangat untuk mereka sambil mengingat-ngingat apa hubunganku dengan mereka. Pak Herman nama itu seperti nama yang pernah ku kenal, aku memaksa otakku untuk mengingat masa lalu dan akhirnya aku ingat jika pak Herman adalah pengacara keluargaku dulu.
Aku duduk menunggu apa maksud kedatangan Afandi ke rumahku. Aku memperhatikan dua anak kecil yang dibawa Afandi, satu anak laki-laki yang duduk disampingnya dan satu anak perempuan yang ada di pangkuannya. Sekali lihat aku seperti mengenal siapa mereka meskipun mati-matian aku mengingkari kemungkinan itu.
"Ini Andrew usianya 4 tahun dan ini Alea usianya 11 bulan" ucap Afandi memperkenalkan mereka.
Aku hanya diam mendengarnya, namun mataku langsung melotot mendengar kalimat selanjutnya.
"Mereka adalah anak-anak dari Bapak Kenan Hakim dan Ibu Hanindiya Hakim"
"Mulai hari ini mereka akan ada di bawah pengasuhan anda karena andalah wali mereka setelah orangtua mereka meninggal sebulan lalu"
Aku melotot tak percaya mendengar ucapannya, entah kaget karena ayahku dan wanita itu sudah meninggal atau kaget karena diserahi dua anak sebagai warisan. Mengingat mereka sama dengan mengingat kelakuan mereka, membuat ekspresi terkejutku menjadi datar seketika. Rasa sakit karena tindakan mereka kembali hadir dalam benakku.
"Saya tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka, jadi bawa mereka pergi dan jangan datang lagi ke sini" ucapku datar.
"Anda adalah kakak mereka, mana mungkin anda bisa bicara seperti itu?"
"Anda tidak tahu apa-apa tentang saya, jadi sebaiknya anda keluar sekarang."
"Bapak saya benar, anda pasti menolak mereka, oleh karena itu bapak saya menyuruh saya menyerahkan ini pada anda, dan saya harap anda membacanya sekarang. Jika setelah anda membaca buku ini anda tetap mengusir mereka saya akan membawa mereka dan berjanji tidak akan mengganggu anda lagi." ucap Afandi sambil memberikan sebuah buku jurnal padaku.
Aku mengambil buku itu dan membukanya. 'Hanindiya' nama itu terukir begitu indahnya dihalaman depan buku itu. Mataku langsung berkaca-kaca mengingat nama itu, nama seseorang yang begitu berarti dalam hidupku melebihi orangtuaku sendiri.
Kak Hanin aku menyebutnya begitu saat pertemuan pertama kami diusiaku yang ke 6. Masih teringat jelas saat ibu membawa seorang gadis berusia 6 tahun lebih tua dariku dengan banyak luka lebam di wajahnya tapi dia tetap tersenyum kearahku. Ibu bilang kak Hanin akan jadi temanku dan tentu saja aku sangat senang. Selama ini aku tidak punya teman bermain sedangkan ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter begitupun ayah yang sibuk mengurusi perkebunannya. Kedatangan kak Hanin sangat membuatku bahagia karena aku yang biasanya sendirian dirumah, sendirian berangkat sekolah sekarang ada kak Hanin yang menemaniku.
Ibu menyayangikku dan kak Hanin sama besarnya meskipun ayah kurang menyukai kak Hanin. Aku tidak dekat dengan orangtuaku, selama ini hanya pembantu rumah tangga yang mengurusku dan mendengar cerita tentang keseharianku. Setelah kedatangan Kak Hanin, dialah yang mendengar semua cerita-ceritaku.
Saat usiaku 10 tahun ibu meninggal, aku tidak terlalu terpukul karena kepergiannya karena aku punya kak Hanin yang lebih sering ada disampingku daripada ibu. Tapi kepergian ibu berdampak besar bagi kehidupanku. Ayah, aku lebih dekat dengannya daripada dengan ibu karena ayah lebih sering di rumah dibanding ibu tapi setelah kepergian ibu, ayah berubah menjadi ayah yang galak dan tukang marah-marah bahkan dia menjadi ringan tangan dan yang selalu menjadi korbannya adalah kak Hanin karena dia selalu melindungiku.
Aku selalu menangis karena kekasaran ayah tapi kak Hanin selalu membesarkan hatiku bahwa semua akan baik-baik saja dan dia berjanji bahwa dia akan selalu ada untukku. Kak Hanin selalu melindungiku dan selalu ada disetiap aku membutuhkannya.
Satu tahun setelah meninggalnya ibu, ayah membawa wanita lain yang dia sebut sebagai istrinya. Aku menerima wanita itu dengan baik tapi wanita itu sepertinya tidak menyukaiku bahkan berusaha untuk menyiksaku di berbagai kesempatan. Lagi-lagi kak Hanin menyelamatkanku dan merelakan tubuhnya terkena siksaan fisik dari ibu tiriku.
Kejadian penyiksaanku diketahui ayah dan akhirnya wanita itu diusir dari rumah tapi kepergian wanita itu bukan berarti penderitaan aku dan kak Hanin berakhir karena ada wanita-wanita lain yang datang menjadi ibu tiriku dengan berbagai karakter yang kebanyakan menolak kehadiranku dan kak Hanin dirumah ini.
Saat usiaku 17 tahun, ayah menikah dengan seorang janda dengan satu anak laki-laki yang seusia denganku. Wanita itu sangat baik dan menerimaku juga kak Hanin dengan baik. Dia ibu tiri ke 4 bagiku tapi dia satu-satunya ibu tiri yang bersikap layaknya seorang ibu. Aku merasa nyaman dengannya dan kak Hanin juga begitu.
Saat itu kak Hanin berusia 23 tahun, dia mulai memiliki kehidupan pribadi dan memiliki cita-cita masa depan sendiri. Kak Hanin bilang dia mungkin akan memiliki keluarga sendiri dan meninggalkanku tapi dia bilang dia bisa tenang karena sekarang aku memiliki seorang ibu yang menyayangiku. Meskipun sulit akhirnya aku setuju saja ketika kak Hanin memutuskan untuk menikah dengan seseorang.
Ketenanganku dengan keluarga baruku hanya bertahan beberapa bulan saja karena Harry saudara tiriku hampir melakukan pelecehan terhadapku. Ayah menceraikan wanita itu dan mengusir mereka dari rumah. Kejadian itu membuatku sedikit trauma dan karena keadaanku kak Hanin yang saat itu sudah akan menikah kembali ke rumah untuk menemaniku. Katakanlah aku egois karena rasa takutku aku lupa memikirkan kebahagiaan kak Hanin dan menahan dia untuk selalu ada disampingku.
Semenjak kejadian itu ayah tak pernah membawa wanita lain lagi sebagai ibu baru untukku. Ayah juga meminta maaf karena mengabaikanku dan tidak memperhatikanku layaknya orangtua pada anaknya. Kehidupan keluargaku membaik setelah itu, aku, ayah dan kak Hanin hidup dengan rukun sebagai keluarga.
Saat aku lulus SMA hidupku kembali terguncang ketika tahu kak Hanin hamil. Aku menangisi nasibnya tapi tangisku berubah menjadi tangis kekecewaan saat tahu ternyata kak Hanin mengandung anak ayah. Kecewa yah itu yang aku rasakan saat aku tahu kak Hanin dan ayah ternyata menikah. Bagaimana mungkin ayah bisa menikahi wanita yang seharusnya dia anggap sebagai anaknya sendiri? Dan kenapa kak Hanin mau saja menikah dengan ayah?
Aku terlalu kecewa apalagi tidak ada satupun dari mereka yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Di usia 18 tahun aku memutuskan untuk pergi dari rumah sebagai pelepasan rasa kecewaku pada mereka. Saat itu aku tak memperdulikan tangisan kak Hanin yang melarangku pergi dengan perut besarnya.
Dan sekarang aku kembali menangis setelah melihat jurnal yang berisi curahan hati kak Hanin. Aku sempat meragukan ketulusan kak Hanin padaku setelah dia memilih menikah dengan ayah tapi ternyata dia melakukan semua itu demi aku. Yah dalam jurnalnya dia menuliskan alasan kak Hanin menikah dengan ayah agar ayah tidak mencari ibu baru yang mungkin akan melukaiku lagi.
Kak Hanin juga menceritakan jika ayah menikah dengan wanita lain setelah ibu meninggal agar aku tak pernah kehilangan sosok ibu selama aku tumbuh meskipun tak aa satupun wanita yang beres menjadi seorang ibu untukku. Aku terlalu egois dan tak pernah melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Kak Hanin dan ayah melakukan segala hal untuk memastikan hidupku nyaman tapi justru aku marah tanpa alasan pada mereka.
"Aku mencintai dan menyayangi Rumi dengan tulus, aku akan lakukan apapun agar keponakanku bahagia dan nyaman seperti titipan mbak Dinda sekalipun aku harus menikahi mas Farhan kakak iparku sendiri aku akan melakukannya agar Rumi tak terluka lagi dengan hadirnya ibu tiri yang meninggalkan trauma untuknya." itulah kalimat yang tertulis di jurnal itu.
Aku semakin menangis histeris, aku tak tahu apapun tentang kak Hanin, siapa kak Hanin, hubungannya dengan ibu atau apapun itu. Aku terlalu egois ingin terus di mengerti kak Hanin tanpa sekalipun berusaha untuk bisa mengerti kak Hanin juga. Kak Hanin begitu tulus menyayangiku tapi aku bahkan tak ada disampingnya disaat-saat terakhirnya.
Aku terus menangis setelah selesai membaca jurnal itu. Aku menyesal... Sangat menyesal karena aku begitu egois dan menyia-nyiakan kasih sayang yang tulus dari kak Hanin.
Setelah aku lelah menangis barulah aku mengangkat wajahku untuk menatap dua bocah kecil peninggalan kak Hanin sekaligus adik-adikku.
"Aku akan merawatnya... Aku akan merawat mereka" ucapku parau.
Afandi tersenyum mendengar ucapanku, dia mendekat menyerahkan Alea kepangkuanku. Aku menatap anak berusia 11 bulan itu, tangisku kembali pecah melihat mata anak itu yang sama persis dengan kak Hanin. Tanganku terulur kearah Andrew dan menggenggam tangan mungil itu dengan telapak tanganku. Aku menarik Andrew untuk mendekat dan memeluk tubuh kecilnya dengan sebelah tanganku.
"Saya senang anda memilih untuk merawat mereka. Masalah warisan kalian saya dan bapak akan segera menyerahkannya dengan anda. Kalau anda keperluan lain atau membutuhkan sesuatu anda bisa menghubungi saya dan saya akan berusaha untul membantu anda jika saya bisa."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mataku terfokus menatap dua malaikat kecil yang kak Hanin titipkan untukku. Bahkan setelah apa yang aku lakukan kak Hanin masih memikirkanku, dia mengirimkan 2 malaikatnya untuk menemaniku agar tidak kesepian karena dia tahu aku tak suka sendirian.
"Kak Hanin, aku akan menjaga kedua malaikat kakak dengan baik sebagaimana kakak menjaga rahasia dulu. Aku akan mencintai mereka sebanyak kakak mencintaiku dulu. Aku juga akan mengasihi mereka dengan tulus, setulus kasih sayangmu padaku kak" janjiku dalam hati dan aku yakin kak Hanin juga akan mendengar janjiku dari alam sana.
The End
- Home
- Cerpen Haru
- Cerpen Keluarga
- Setulus Hati Hanindiya