Villa Haruna

Cerpen karya : Nina

Suasana sejuk mendekati dingin puncak menyambut kedatanganku di Vila Haruna, Vila yang katanya milik keluargaku tapi baru kali ini ku datangi. Di sebelahku seorang pria yang sayangnya berstatus suamiku, terus ngomel mengeluarkan petuah-petuah tak berartinya. Hari ini tanggal 30 desember, aku datang ke puncak dengan maksud merayakan tahun baru. Sebenarnya bukan aku yang mau merayakan tapi Nattan, suami berengsekku yang ingin merayakan pesta tahun baru dengan nenek lampir kesayangannya dan teman-teman berengseknya.

Aku dibawa yah karena aku adalah titipan hidup yang harus selalu dibawa kemanapun dia pergi, kalau tidak kelangsungan ekonominya tidak akan lancar.

"Pokoknya kali ini jangan cari masalah, apalagi sama Selena, aku gak mau acara yang udah aku rancang jauh-jauh hari ancur gara-gara anak kecil kayak kamu"

Itulah Nattan si bunglon kurang ajar, di hadapan orangtua kami saja dia bak pangeran baik hati, aslinya beh setan aja kalah sama dia. Aku tak menggubris ucapannya karena suara heboh dari ke tiga temanku lebih menarik perhatianku.

Seperti biasa jika kami bertemu, maka kami akan ribut melebihi ibu-ibu yang lagi rebutan diskon. Kalau kata Nattan kita itu gang cabe, dan kebetulan nama kami merangkai kata cabe. Chacha, Anya, Bella dan aku Elina kami berempat tak terpisahkan. Kalau Nattan gak bisa pergi tanpa bawa aku maka akupun tidak bisa pergi tanpa membawa mereka bertiga.

Moment paling seru ketika liburan bareng gini adalah mengganggu Selena, nenek lampir kesayangan Nattan yang mau gak mau tidur nginep bareng kita, karena temen-temen Nattan semuanya cowok.

Keasyikan rumpi aku dan teman-temanku harus berhenti karena sepasang paruh baya penjaga vila mendekat kearah kami. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan dengan Nattan and the gang karena perhatiaanku teralihkan. Disana di salah satu jendela villa aku bisa melihat seseorang mengintip kearah kami.

Aku berjalan mendekat kearah jendela itu tapi tiba-tiba seseorang menerjangku hingga jatuh. Aku menjerit melihat pria paruh baya yang kumal menindih tubuhku.

"Maafkan aku... Aku mencintaimu... Bangun... Bangunlah Haruna" ucap pria itu misuh-misuh.

Pak Ali pria paruh baya penjaga villa langsung menjauhkan pria itu dari tubuhku. Dia menunduk meminta maaf, dia mengangkat wajahnya dan langsung melotot melihat wajahku, raut wajahnya menjadi ketakutan, bahkan dia sampai terjengkang seperti orang yang baru saja melihat hantu . Aku hanya menatap heran pada kelakuan pria paruh baya itu.

"Anda... Anda siapa?" tanyanya was-was.

Aku masih menatap heran padanya, dan menunjuk diriku sendiri untuk memastikan aku yang dia tanya.

"Aku Elina" jawabku polos.

"Dia istriku putri bapak Harun, pemilik Villa ini" ucap Nattan menjelaskan.

Aku bisa melihat wajah shock di muka pak Ali, tapi dia langsung berekspresi biasa saja ketika aku menatapnya. Terlepas dari insiden aneh itu, kami diajak masuk untuk memilih kamar dan beristirahat. Sebuah pintu yang di gantungi hiasan lonceng menarik perhatianku. Aku berlari kearah kamar itu tapi sebuah tangan mencekalku ketika aku akan membuka pintu kamar itu.

"Maaf nona, kamar ini tidak bisa digunakan, sedang direnovasi" ucap bu Ila, istri dari pak Ali.

Aku mengangguk mendengar ucapannya, dan ikut saja ketika bu Ila menarikku untuk menempati kamar lain, namun rasanya ada yang salah dengan tubuhku ketika meninggalkan kamar itu.

Aku tidur berdua saja dengan Anya, sedangkan Bella dan Chacha sekamar dengan Selena. Pak Ali terus memandangiku dan itu membuatku risih bahkan ketika pemilihan kamar beliau menyarankan aku tidur dengan Nattan demi keamanan. Padahal bukannya aman yang ada malah tidak aman kalau aku sampe tidur bareng Nattan. Bisa ngamuk tuh nenek lampir yang lagi gelendotan di tangan Nattan.

Aku berusaha tak ambil pusing dengan keanehan pak Ali, tapi tentang orang yang mengintip jendela, dan seseorang yang beberapa menit lalu aku lihat melintas tak jauh dariku,dan hanya aku yang melihatnya membuatku sedikit merinding.

Aku tak tahu kenapa, aku baru pertama kali masuk ke Villa ini tapi aku merasa aku sudah pulang ke rumah. Aku merasa Villa ini tidak asing bagiku. Dari kamarku aku bisa melihat kolam ikan yang dipenuhi ikan koi. Aku tak tahu perasaan apa ini tapi melihat kolam itu membuat perasaanku campur aduk.

Malam hari, saat hanya terdengar suara jangkrik dan suara ngorok Anya. Aku merasa ada seseorang yang membelai wajahku. Dingin itulah sensasi yang aku rasakan dipipiku, aku berusaha merapatkan mataku dan pura-pura tak merasakan apapun.

"Elina..." suara bisikan yang begitu lirih menyapa gendang telingaku.

Bulu kudukku terasa meremang mendengar suara itu. Dengan sisa-sisa keberanianku aku membuka mata dan melihat sekelliling. Mataku langsung menangkap wajah seseorang yang mirip denganku sedang tersenyum kearahku. Aku ingin menjerit tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Perlahan bayangan itu semakin mendekat dan mendekat.

"Aaaaaaa....." aku terbangun dari tidurku sambil menjerit histeris.

Anya yang tidur disampingku, sama sekali tidak terganggu oleh jeritanku. Aku mengguncang tubuhnya agar bangun tapi dasar si Anya yang kebo, dia malah terus aja ngorok.

"Elina..."

Aku mendengar suara seorang perempuan memanggilku. Suara itu begitu nyata dan aku yakin itu bukan hanya halusinasiku saja. Panggilan itu semakin lama semakin lirih seperti orang yang tengah kesakitan. Aku beranjak dari ranjangku, untuk memastikan suara siapa itu. Bisa sajakan si nenek lampir Selena mengerjaiku, secara aku yang menjerumuskannya untuk tidur dengan Bella yang berbadan tambun dan sering mengeluarkan gas alam yang baunya luar biasa.

Aku membuka pintu kamar, dan mengikuti suara orang yang terus memanggilku. Suara itu berhenti didepan pintu berlonceng dan entah ada angin atau apa lonceng pintu itu berdenteng. Dengan keberanian yang menipis, aku mencoba membuka gagang pintu itu.

"Maaf... Maafkan aku..." suara seseorang yang menggedor jendela membuatku terlonjak kaget.

Aku berbalik kearah jendela dan melupakan niatku untuk membuka pintu itu. Perlahan aku membuka tirai jendela tapi tiba-tiba saja aku merasa tubuhku tertarik kebelakang dan terbanting begitu saja kearah pintu.

Aku menjerit karena kaget, tiba-tiba lampu padam dan membuatku semakin histeris. Didalam kegelapan aku bisa melihat derap langkah yang mendekat kearahku, tapi sekelebat bayangan yang mendekatiku membuat aku shock dan hanya bisa melotot ketika bayangan itu membiaskan wajahku.

"Elina... Elina... Kamu tidak apa-apa" suara seseorang dan tepukan di wajahku membuatku tersadar.

Nattan ada di hadapanku dan merangkul tubuhku. Aku melihat sekeliling yang sudah menjadi terang kembali. Aku memperhatikan orang-orang yang berdiri mengelilingiku dengan wajah mengantuk mereka.

"Apa yang terjadi?" tanya Dava salah satu teman Nattan.

Aku hanya diam karena aku juga bingung dengan apa yang terjadi. Seingatku tadi mati lampu dan aku ada di luar kamar. Tapi sekarang aku sudah kembali ada di dalam kamar, entah kamar siapa dan lampu sudah terang.

"Alah... Si Elina paling cuma cari perhatian aja" ucap Selena sinis.

Seperti De javu, aku merasa pernah mengalami ini, nada sinis itu aku seperti pernah mendengarnya. Sekelebat bayangan terbayang diotakku, dua orang pria dan tiga orang wanita samar-samar terlihat dan suara itu terdengar jelas ditelingaku. Kata-kata yang sama seperti yang Selena ucapkan.

"Aaaaaaa..." aku menjerit ketika kenangan itu seperti memukul kepalaku.

"Elina...ada apa denganmu?" tanya Nattan sambil mengguncang wajahku.

Aku hanya diam, mataku melihat kearah luar dan bayangan itu melintas lagi. Tubuhku langsung menegang, dan tanpa kusadari aku mencengkram kuat lengan Nattan.

"Elina, ada apa denganmu? Ini baru jam 1 malam, orang-orang baru saja tidur dan kamu terus menjerit dari tadi. Kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah 19 tahun jadi dewasalah"

"Seseorang memperhatikan kita"

"Tentu saja ada CCTV di seluruh lorong Villa ini, sudah pasti Pak Ali, bu Ila dan mungkin juga Pak Dika memperhatikan kita diluar sana"

Dika... Mendengar nama itu serasa tak asing ditelingaku, tapi aku tak merasa pernah mengenalnya.

"Dika?" tanyaku.

"Iya Pak Dika, ituloh gembel yang nyosor kamu tadi. Kayaknya pak Dhika suka sama kamu deh" ucap Kevin soulmatenya Selena, cowok maho yang rombengnya melebihi kaleng rongsokan.

Mendengar ucapan rombeng Kevin, memunculkan ingatan baru dalam kepalaku 'Dika kayaknya suka sama kamu' kalimat itu terdengar jelas. Hantaman ingatan random itu membuat kepalaku kembali pusing. Kilatan-kilatan bayangan menghantam kepalaku.

"Aaaaaaa..." aku kembali menjerit.

"Ya ampun ini bocah kenapa sih, jerit-jeritan terus dari tadi, kesurupan loe" ucap Selena mendekat hendak menjitak kepalaku.

"Kalian tidurlah, biar aku yang menangani Elina". Ucap Nattan yang duhadiahi protes Selena.

Sesuai permintaan Nattan, semua bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Tinggalaah aku sendirian banyangan itu kembali muncul.

"Tolong aku..." bisikan itu seperti sebuah angin yang mampir ke telingaku.

Tanpa bisa ku kendalikan tubuhku bergerak, mengikuti suara-suara samar itu lagi. Suara seseorang yang memanggil namaku dan meminta tolong padaku.

"Elina, apa yang kau lakukan di sana?" teriak seseorang yang tiba-tiba menarik tubuhku.

"Ada apa denganmu? Tadi kau berteriak-teriak tak jelas, sekarang kau berdiri di pinggir kolam ikan tengah malam. Sebenarnya kau ini kenapa?" teriak Nattan di depan mukaku.

Aku mengerejapkan mataku, memandang sekelilingku, otakku tak sampai untuk mengingat bagaimana bisa aku sampai disini?.

"Tolong aku..."

Suara lirih itu terdengar sangat jelas dari arah kolam ikan dihadapanku.

"Seseorang berteriak minta tolong dari bawah sana" ucapku.

"Kamu ini bicara apa? Tidak ada yang berteriak disini. Ayo masuklah Elina, kau mungkin mengigau. Ayo kita tidur" ajak Nattan sambil menyeretku.

Aku berusaha memejamkan mata tapi sulit sekali untuk tidur. Nattan sudah terlelap, dia mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya agar aku tidak kelayapan lagi. Nattan menarikku kepelukannya, dan memelukku agar aku tidak kabur.

"Tidurlah... Tutup matamu" perintahnya.

Bayangan-bayangan itu berubah menjadi sebuah cerita. Aku bisa melihat diriku sendiri dengan seorang pria yang berwajah sama persis denganku. Aku bisa melihat setting tempat yang ku lihat sama persis dengan tempat ini. Ada seseorang yang mirip Nattan, dua orang wanita yang tidak ku kenal berkumpul disana. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan tapi aku melihat aku yang ada disana menangis dan pergi dari kerumunan itu.

Sebuah rumah boneka yah disana aku melihat diriku yang lain menangis. Pintu terbuka seorang pria masuk, dia berbicara pada wanita itu tapi perlahan, pria itu membekap mulutku, menyeretku dan..

"Aaaaaaaa...." teriaku tersadar dari tidurku.

"Ya tuhan Elina, kenapa kau berteriak lagi? Ini baru jam 4 Elina..." ucap Elina kesal.

Aku tak bisa berkata apa-apa, air mataku menetes begitu saja berubah menjadi tangisan. Aku tak tahu kenapa aku menangis tapi rasanya ada yang sesak dalam hatiku dan aku harap tangisanku dapat meringankan rasa sesak dihatiku.

"Sst... Elina kenapa malah nangis? Akukan gak ngapa-ngapain kamu." ucap Nattan kesal.

Karena kejadiaan aneh yang bertubi-tubi menghampiriku, Nattan tidak mau melepaskan tanganku dan menggiringku kemanapun dia pergi. Disitu ada Nattan pastinya si nenek lampir Selena juga nemplok di tangannya. Jadilah Nattan berasa beristri dua karena tangannya dipenuhi dua cewek dikanan dan kirinya.

Persiapan tahun baruan di buat di halaman dekat kolam ikan. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang menarikku untuk terjun ke dalam kolam itu.

"Kolam ikan itu, asalnya apa?" tanyaku tanpa sadar.

"Maksud nona?"

"Sebelum dibuat kolam, tempat itu asalnya apa?"

"Ah cuma tanah kosong" ucap pak Ali ragu.

"Bohong... Disini asalnya rumah kecil tempat bermainkan?" tanyaku berapi-api.

"Apa maksud anda nona?" tanya Pak Ali gagap.

"Seseorang terkubur disana, kalian harus membongkarnya" ucapku tanpa sadar.

Pak Ali terlihat gelagapan, tapi belum pak Ali menjawab, Nattan sudah menarikku untuk masuk.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Nattan marah.

Aku hanya menggeleng, kakiku perlahan melangkah kearah pintu berlonceng. Potongan-potongan ingatan menyerang kepalaku membuat kepalaku pusing seketika. Suara lonceng didepan pintu itu berbunyi nyaring, menarik perthatianku untuk membuka pintu itu.

Aku menganga tak percaya melihat lukisan besar bergambar diriku terpajang disana. Aku memasuki ruangan bernuansa pink itu, memperhatikan banyak fotoku yang terpajang disana. Aku tak tahu itu fotoku atau foto seseorang yang mirip denganku. Melihat foto itu membuat air mataku tak kuasa ku bendung, angin dingin berhembus membuat ku merasa ada tangan dingin yang membelai wajahku.

"Nattan..."teriakku parau.

Nattan mendekat dan sama-sama menganganga melihat koleksi foto diruangan ini. Aku menelusuri ruangan itu dan akhirnya menemukan foto itu, foto 5 orang yang pernah kulihat dalam mimpiku.

"Apa semua ini?" tanya Nattan tak mengerti.

Aku semakin terisak menyusuri ruangan kamar ini, mataku menangkap sulaman cantik di ujung selimut yang terlipat rapi. 'Haruna' itulah rangkaian kata yang tersulam diatas selimut itu. Aku mendudukan diriku di atas ranjang, dan semua kilasan ingatan itu menyerang kepalaku membentuk sebuah cerita.

Aku terisak setelah melihat cerita utuh dari kisah yang tergambar jelas di pikiranku. Haruna yah kisah Haruna, gadis yang berwajah mirip denganku. Haruna mencintai Nandra tapi Nandra hanya menganggapnya adik, kekasih Nandra yang memperlakukannya buruk dan obsesi cinta Dika yang berujung pada kematiannya.

Aku semakin terisak, dan dapat kulihat bayangan putih yang selalu berseliweran tadi malam juga ikut menangis. Nattan menarikku kepelukannya, bahkan dia mengangkat tubuh kecilku agar bisa dia pangku.

Aku tak tahu berapa lama aku menangis, hingga ketika aku membuka mata hari sudah mulai gelap. Nattan masih ada disampingku dan menggenggam tanganku dalam tidurnya. Bayangan Haruna terlihat jelas dihadapanku, aku ketakutan tapi berusaha untuk melawan rasa takutku, menatap bayangan gadis yang serupa denganku, yang berwajah pucat dan sendu.

Haruna menunjuk kearah kolam, dan tanpa dia mengatakan apapun aku mengerti maksud dari keinginannya. Bayangan itu memudar ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka menampakan wajah penuh khawatir orangtuaku dan orangtua Nattan.

Nattan baru bangun dari tidurnya dan langsung mendapat tamparan dari papanya. Sedangkan ayah langsung berhambur memelukku.

"Kau sudah gila, kenapa kau membawa Elina ketempat ini?" tanya papa murka.

Nattan hanya diam entah karena dia takut atau justru karena nyawanya belum kekumpul semua.

"Ayo kita pulang sayang" ajak ayah menuntunku.

"Tidak... Kita tidak bisa pulang... Haruna menunggu kita"

"Apa yang kamu bicarakan sayang?"

"Aku sudah tahu semuanya, Haruna menunggu kita untuk menemukannya."

"Elina, Haruna pergi malam itu 27 tahun lalu, karena papa menyakiti hatinya. Papa yang salah karena menyakiti gadis sebaik Haruna hingga dia tak pernah kembali hingga sekarang. Oleh karena itu papa menikahkanmu dengan Nattan karena kamu mirip Haruna. Setidaknya meskipun cinta Haruna pada papa tidak berhasil, kamu yang mirip sekali Haruna bisa memiliki pasangan sesui tipe ideal Haruna"

"Tante Haruna tak pernah pergi pah,yah, dia disini menunggu kakak kesayangannya dan pria yang dia cintai menemukannya"

"Apa maksudmu Elina?"

"Haruna saat menangis mendapat penolakan papa dia pergi ke rumah tempat dia bermain saat kecil. Di sana dia bertemu Dika, mereka mengobrol tapi berujung pertengkaran. Dika marah dan kalap karena Haruna menolak cintanya dan tanpa sengaja dika membunuhnya. Haruna tak pernah pergi dari Villa ini karena Dika menguburkannya disini di rumah tempat bermain masa kecilnya yang sekarang menjadi kolam ikan"

Wajah ayah dan Papa langsung bersimbah air mata mendengar ucapanku. Dapat ku lihat juga bayangan Haruna yang menangis menatap mereka.

Acara tahun baru yang dirancang Nattan gagal, digantikan acara mengharu biru ayah dan papa mengenang almarhum Haruna, gadis yang paling mereka sayangi. Semua temanku dan teman Nattan diantar ke rumah mereka masing-masing dan hanya menyisahkan keluarga kami di Villa ini.

Tepat jam 12:00 pergantian tahun sekaligus peringatan kematian Haruna yang ternyata terjadi pada perayaan tahun baru 27 tahun silam. Paginya diadakan penggalian di kolam ikan dan ternyata memang benar disana ditemukan jasad Haruna yang masih utuh meski sudah meninggal sekian lama.

Akhirnya terungkap juga jika sebenarnya pak Ali tahu tentang kelakuan pak Dita. Pak Ali mengatakan jika keponakannya itu menceritakan dosanya sebelum dia jadi gila seperti sekarang. Pak Ali terlalu takut untuk melapor dan membiarkan saja masalah ini, agar ayah menganggap Haruna pergi jauh bukan pergi dari dunia ini. Meskipun seumur hidup dia di hantui rasa takut dan bersalah.

Haruna dimakamkan di Villa Haruna dengan layak, ayah tak ingin mempermasalahkan pak Ali dan mengampuni kekhilafannya. Semua keluarga menyaksikan pemakan seseorang yang mereka cintai dengan tangisan air mata saat mereka tahu kisah di balik kematian Haruna.

Diantara banyak pelayat, aku bisa melihat bayangan Haruna yang tersenyum dan melambai kearahku. Aku bisa menangkap kata terima kasih yang dia ucapkan tanpa suara. Aku tersenyum balas melambai kearahnya.

Nattan menatap aneh kearahku,

"Kau kenapa?"bisiknya.

"Aku melihatnya, dia tersenyum sekarang" ucapku

"Sudah lupakan anggap ini hanya bunga tidur. Aku tak mau kau menjerit-jerit lagi, bisa gila aku seumur hidup harus melihatmu menjerit-jerit karena sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Itu mengerikan"

Mengerikan yah mungkin benar, bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat orang lain, bicara dengan makhluk asral itu sangat mengerikan. Tapi meskipun begitu aku bersyukur karena hal mengerikan itu menyelesaikan masalah. Haruna sudah bahagia disana sekarang meskipun, orang yang ditinggalkan pasti merasakan luka yang dalam tahu tentang kenyataan ini.

Tak ada rahasia yang terkubur selamanya, begitupun rahasia kematian Haruna. Meskipun tak ada yang mendapatkan peradilan atas kematian Haruna, tapi hukuman tuhan sudah diturunkan pada Dika, orang yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini sudah mendapatkan hukuman langsung dari tuhan atas dosa-dosanya.

THE END