Cerpen karya : Nina
Hal paling menyakitan dalam hidup kita adalah ketika kita demen tapi cuma dianggap temen. Dan hal inilah yang sedang menyerang hatiku yang rapuh ini. Disana dikehangatan api unggun, lagu all of me dari John Legend menggema, diiringi petikan gitar, dinyanyikan dengan sangat merdu dan penuh penghayatan oleh Arkana sang ketua osis untuk pujaan hatinya. Dan sayangnya pujaan hatinya itu bukan aku.
Dihadapan pujaan hatiku sekaligus men most wanted sesekolah duduk gadis paling manis yang menatapnya haru. Gadis itu Adinda sahabatku sekaligus wanita paling beruntung karena dicintai oleh Arkana, cowok paling cool di sekolah.
"Dinda aku sudah lama menyimpan rasa ini, jadi maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Arkan dengan gentle dan diiringi riuh dari anak-anak yang mengikuti kamping masa tamu.
Adinda mengangguk dengan malu-malu petanda dia setuju menjadi pacar Arkan.
Kretak...
Dan itulah bunyi hatiku yang patah, oh nasib-nasib cinta pertamaku harus berakhir menjadi milik orang lain yang mirisnya itu sahabatku sendiri. Tapi untungnya bukan hanya aku yang merasa patah hati karena cewek-cewek yang sedang menatap baper pada adegan dua sejoli yang sedang berbahagia itu juga pasti patah hati secara yang barusan nyatain Cinta itu Arkana dan dia punya sejuta penggemar yang mengharapkan cintanya.
Suara riuh pernyataan cinta Arkana untuk Adinda mendadak senyap setelah seseorang yang entah datang darimana tiba-tiba memetik gitar dan lagu somebody's me milik enrique iglasias terdengar. Dengan suara serak-serak basah dan penghayatan full semua orang terbius mendengar nyanyian super mellow itu.
Dia adalah Brian, cowok bule rasa sule, cowok paling receh sejagat raya, dia juga wakil ketua osis. Brian menyanyi penuh penghayatan dan matanya terfokus menatapku. Jantungku langsung ketar ketir, bukan, bukan karena aku jatuh cinta pada wajahnya yang sebelas dua belas dengan Chris Evan tapi aku khawatir dengan tingkah recehnya, aku takut dia melakukan hal memalukan dan korbannya adalah aku.
Dia berjalan mendekat dan semakin mendekat, jantungku semakin ketar-ketir, ingin rasanya aku menghilang saja dari tempat ini. Aku juga merutuki diriku sendiri yang memilih duduk dibelakang, diantara anak-anak cowok dan ketika Brian mendekat otomatis semua mata melihat kearahku, karena hanya aku yang berpotensi didekati Brian, ya iyalah masa Brian deketin anak cowok jeruk makan jeruk dong.
Ketakutanku menjadi kenyataan karena sekarang makhluk receh itu sedang berlutut dihadapanku. Brian menarik tanganku dan menyelipkan secarik kertas dalam genggamanku. Brian menatapku serius, tapi aku menhan diri agar tidak tertawa melihat wajah ganteng rasa recehnya.
"Neng, Aa cinta sama eneng" ungkapnya.
Aku melotot mendengar ucapannya, aku hendak menampiknya tapi Brian mencengkram tanganku keras. Dan lagi namaku bukan eneng tapi Alena, ckck kurang ajar banget si Brian ngeganti nama bagusku menjadi nama eneng.
"Neng maukah eneng menjadi pacar Aa, kekasih hati Aa, pujaan hati Aa, calon istri Aa sekaligus calon ibu dari anak-anak Aa" ucapnya mengundang tawa dari penonton setia yang sedang menonton drama yang dia buat.
Aku melotot memperingatinya untuk berhenti bertingkah konyol, tapi dia malah balas menyuruhku untuk melihat isi kertas yang diselipkan ketanganku dengan isyarat matanya. Aku menuruti keinginannya dan super kampreto.
'Terima cinta gue atau gue sebarin kalau elo suka sama si kulkas Alkali'
Aku melotot membaca isi kertas itu, sedangkan dia hanya menaikan turunkan kedua alisnya merasa menang.
"Jadi neng, apa eneng bersedia menjadi pendamping hidup Aa?" tanya Brian dengan nada yang membuat aku ingin memuntahkan isi perutku.
Dengan sangat terpaksa akhirnya aku mengangguk. Riuh tepuk tangan menyambut penerimaan cinta Brian dan si receh Brian cengengesan pasang senyum pepsodent ke semua arah.
"Sinting... Loe tuh kenapa sih, lakuin ini ke gue?" semprotku setelah hanya ada aku dan Brian.
Brian menarik nafas berat, wajahnya berubah sendu. Dia mengacak rambutnya frustasi.
"Sorry Le, gue gak maksud nyeret loe ke masalah gue." ucapnya sendu.
Seketika aura disekeliling kami berubah menjadi mellow. Tanpa perlu diminta mengalirlah cerita dari mulut Brian. Ternyata oh ternyata Brian berniat menembak Adinda hari ini tapi keburu keduluan sama Arkan. Brian si mulut receh udah nyebarin kalau dia mau nembak cewek pujaan hatinya, tapi karena pujaan hatinya keburu jadi pacar orang jadilah dia banting setir menembakku karena tak ingin dirundung malu.
"Jadi ceritanya gue ban serep supaya loe gak malu, gitu?" tanyaku tak terima.
Si Brian receh sudah kembali, dia cengengesan gak jelas sambil garuk-garuk gak gatel.
"Okelah, sekarang kita putus"
"Ya elah neng, kita baru jadian beberapa menit masa udah putus lagi. Lagian neng, eneng juga baperkan liat si kulkas Alkali nembak yayang Dinda? Neng harusnya seneng Aa Brian yang ganteng ini nembak eneng, kan eneng jadi gak broken sama si kulkas?" ucap Brian nyinyir.
Aku melotot marah mendengar ucapannya, dan akhirnya mengalirlah umpatan dan hinaan yang biasa terucap diantara kami. Yah beginilah hubunganku dengan Brian sehari-hari, penuh cacian dan makian yang tidak ngena dihati. Aku yang terkenal mahal dan Brian yang receh tak bisa disatukan bagai minyak dan air.
Setelah acara pernyataan cinta nista itu, Brian dan aku menjadi sepasang kekasih atau sepasang orang patah hati yang sedang mengisi hati. Bagaimana tidak patah hati? Aku, Brian, Adinda dan Arkana sama-sama pengurus osis, jadi setiap hari kami disuguhi adegan penuh cinta dari sejoli yang sedang di mabuk asmara. Seakan belum cukup mata kami di beri pemandangan menyayat hati, eh kami juga tinggal di kelas yang sama di bangku yang bersampingan pula, kurang nista apa lagi takdir ini.
"Neng, kelas kita bau hangit yah?" tanya Brian tiba-tiba sambil memandangi dua sejoli yang asyik saling bisik di hadapan kami.
"Ngomong apa sih loe?" tanyaku tanpa minat.
Brian menarik tanganku kedadanya, sambil berekspresi seperti orang yang nahan BAB.
"Disini neng, hati Aa kebakar sampe hangus... Bau hangitnya sampe ke cium sama Aa" ucapnya sok nelangsa.
Aku hanya memutar bola mataku tak tertarik dengan omongan recehnya. Melihat reaksiku Brian langsung manyun sok imut. Aku fokus membaca novel yang ada di hadapanku, membiarkan Brian menoel-noel lenganku.
"Apasih Loe?" kesalku.
"Neng lagi PMS yah?" tanyanya polos.
Aku melotot mendengar pertanyaannya, aku menggeplak kepalanya karena kesal. Brian tak terima dan langsung membalasku, akhirnya adegan silih geplak, silih jambak tak bisa dihindarkan antara kami. Jangan pernah berpikir manusia receh satu ini akan mengalah hanya karena aku perempuan. Tidak, dia bukan orang seperti itu, dia akan membalas sama banyaknya dengan apa yang dia terima.
"Cieh...cieh... Alena sama Brian makin romantis saja" ucap makhluk gaib yang entah dari mana.
Si Upin dan Ipin sebut saja begitu, tertawa terbahak melihat kearah kami. Romantis katanya? Romantis pala loe peang, masa iya jontok-jontokan kayak gini dibilang romantis? Kalau jontok-jontokan di bilang romantis berarti pasanan KDRT adalah pasangan paling romantis sejagat raya.
Yah beginilah hubungan kami, status berpacaran tapi tingkah laku bak musuh bubuyutan.
Aku dan Arkana tetanggaan, karena hubungan Arkana dan Adinda backstreet jadilah jika mereka mau jalan, aku juga diboyong untuk ikut bersama. Ada aku berarti Brian juga tak pernah absen, sehingga acap kali kami pergi berempat alias double date. Sebenarnya mereka yang ngedate sedangkan kita yah puas aja jadi obat nyamuk diantara kemesraan mereka. Gak apa-apa lah wong gratis ini, kan Arkan yang ngajak jadi dia yang bayar.
Perlahan tanpa kusadari karena seringnya kami bersama, rasa cemburuku pada hubungan Arkana dan Adinda memudar begitu saja. Tak ada lagi rasa sakit dihatiku ketika melihat perhatian Arkan pada Dinda, tapi justru aku jadi marah melihat tingkah pecicilan Brian yang tebar pesona ke cewek lain. Perasaanku juga mendadak sakit melihat Brian masih menatap penuh cinta pada Dinda. Aku tak tahu ada apa dengan diriku? Mungkinkah aku mulai mencintai Brian?
Harus ku akui kehadiran Brian memberikan warna tersendiri pada hidupku. Aku dan Arkan saling mengenal sejak kecil, kami cocok bersama karena kami sama-sama pendiam. Tapi Brian berkarakter jauh berbeda denganku, kehadirannya seperti membawaku keluar dari zona aman dan membosankan hidupku.
Aku tak tahu apakah ini cinta tapi aku merasa bahagia dengan keadaan ini. Isi panggilan dan chat ponselku sekarang terisi penuh Brian. Hanya Brian yang selalu terlintas dalam ingatanku saat ini, dia berpengaruh sangat besar dalam hidupku melebihi Arkan. Padahal tak pernah ada hal penting yang kami bicarakan, hanya omongan receh yang anehnya tak pernah kulupakan.
"Neng kayaknya Aa beneran jatuh cinta deh sekarang" ucap Brian tiba-tiba.
Deg, rasanya ada yang mencambuk hatiku mendengar ucapan Brian. Hari ini tepat seminggu setelah ujian nasional selesai, itu berarti hampir 10 bulan aku dan Brian berstatus pacaran, dan selama itu pula aku dan Brian selalu saling mengisi hari-hari kami bersama. Entah ada angin apa Brian, tiba-tiba datang ke rumahku dan mengatakan kata itu.
Kalau saja Brian datang mengatakan 'Neng, Aa benar-benar jatuh cinta sama Eneng' mungkin hatiku langsung berbunga-bunga, tapi mendengar dia jatuh cinta sekarang membuat hatiku tak tenang. Entah kenapa aku takut jika Brian mencintai wanita lain dan bukan aku, lalu bagaimana denganku? Haruskah cintaku bertepuk sebelah tangan lagi?
"Neng, kok jadi bengong sih?"
"Ah iya apa yang loe omongin tadi?" tanyaku pura-pura tak tertarik.
"Aa jatuh cinta neng..." ucapnya menerawang.
"Sama siapa?" tanyaku pura-pura cuek.
"Rahasia dong, pokoknya saat perpisahan nanti Aa bakal melamar pujaan hati Aa. Neng tunggu aja yah" ucapnya.
Aku hanya diam tak merespon, hatiku langsung kalut dan berharap perpisahan itu tak pernah terjadi, hingga aku tak pernah melihat Brian melamar wanita pujaan hatinya, aku takut pujaan hatinya bukan aku.
"Makasih yah neng, udah isi hari-hari Aa selama hampir setahun ini. Bantuin Aa keluar dari zona broken heart, jadi temen curhat Aa dan selalu nemenin Aa."
Aku hanya diam mendengar ucapannya yang seperti sebuah kata perpisahan.
"Eneng sahabat Aa paling baik" ucap Brian membuatku terasa tersambar petir.
S A H A B A T kata itu seperti biji kedondong yang nyelek di tenggorakanku. Lagi aku mengalaminya, aku menyukai seseorang dan orang itu hanya menganggapku teman. Aku terlarut dalam pusaran pikiranku sendiri, dan diam saja saat Brian berpamitan padaku dengan mengacak rambutku seperti biasanya.
Air mataku menetes, mengingat nasib cintaku yang kembali kandas. Rasa sakit yang kurasakan sekarang lebih besar daripada rasa sakit saat melihat Arkan menembak Dinda. Aku menghabiskan waktuku tinggal dikamar karena sekolah sudah bebas. Brian tak pernah menghubungiku lagi, Dinda bilang dia pergi ke Prancis untuk bertemu keluarga Daddynya dan dia tak bilang padaku.
Rindu... Yah mungkin itulah yang aku rasakan terhaap cowok receh yang berhasil memasuki hatiku. Aku berusaha mempersiapkan hatiku agar tidak patah hati saat nanti melihat Brian melamar cewek idaman hatinya di hadapan semua orang nanti.
Meskipun enggan akhirnya aku datang juga ke acara perpisahan sekolah ini. Kemarin aku menerima kelulusanku sekaligus surat penerimaan dari universitas pilihanku, aku tidak semangat sama sekali karena hatiku terlanjur galau menantikan hari ini. Dengan pakaian kebaya dan dandanan ala salon, aku datang ke perpisahan bersama Arkan dan Dinda, dua sejoli yang berbahagia karena hubungan mereka sudah direstui oleh orangtua mereka.
Acara perpisahan berlangsung sangat-sangat membosankan, sampai acara utama selesai dan beralih pada acara hiburan barulah suasana menjadi menyenangkan. Lagu somebody's me dari enrique iglasias terdengar, membuat hatiku berlonjak antara sedih dan bahagia. Lagu itu lagu kenangan antara aku dan Brian, dan ternyata orang yang menyanyikan lagu itu sekarangpun Brian. Gak kreatif amat tuh cowok receh, dia pasti mau ngelamar pujaan hatinya tapi kenapa juga dia ngegunain lagu yang sama dengan lagu saat nembak aku, kan jadi baper gini akunya.
Sebelum melihat pemandangan yang menyayat hati, kuputuskan untuk mundur perlahan. Baru beberapa langkah berjalan seseorang diatas panggung menghentikanku.
"Hey kamu, cewek berkebaya biru, jangan kemana-mana tetap disitu" ucap Brian di atas panggung hingga menarik perhatian semua orang untuk menatapku.
Aku hanya tersenyum malu, sialan memang tuh cowok receh. Aku tuh pergi karena tak ingin menangis melihat Brian melamar pujaan hatinya. Nah kalau aku ada disini apalagi ditengah ruangan begini bisa tengsin aku kalau nangis liat Brian lamar cewek lain.
Lagu somebody's me berakhir dan berganti lagu make you feel my love dari Adele yang dinyanyikan merdu oleh bu Sinta, guru paduan suara yang gagal jadi artis. Aku masih mematung diposisiku, perlahan kerumunan orang membelah jadi dua, aku hendak mengikuti salah satu kerumunan tapi dengan sadisnya Dinda mendorongku agar aku diam ditengah-tengah.
Perlahan Brian dengan wajah seriusnya mendekat kearahku, oh my god otakku langsung blank. Apa mungkin dia akan memutuskanku dihadapan semua orang dan memperkenalkan pada pujaan hatinya? Kalau gitu mending kubur aja aku daripada itu kejadian.
"Neng, Aa kangen... Eneng kangen gak sama Aa?" tanyanya cengengesan.
Brian mengenakan microphone, sehingga semua orang mendengar kata-kata recehnya, termasuk orangtuaku yang masih ada di gedung ini.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya, tengsin berat kalau aku jawab 'eneng juga kangen Aa'. Mampus aja deh daripada aku harus ngomong gitu.
Brian tiba-tiba berlutut di hadapanku dan membuka kotak beludru kecil,yang didalamnya terdapat cincin yang cantik.
"Neng lihat deh cincin ini, bagus gak?" tanya Brian sambil menyodorkan cincin itu kehadapanku.
Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau bagus sini Aa pasangin di jari eneng, biar kita cepet dihalalin." ucap Brian sambil menarik tanganku dan memasukan cincin itu di jari manisku.
"Bapak mertua, Neng Alena sudah nerima cincin Aa, cepetan halalin kita yah pak" ucap Brian di sambut gelak tawa penonton.
Aku masih bingung dengan situasi ini, apa itu tadi? Brian melamarku? Seperti itu? Aku melotot kearah Brian dan menginjak kakinya agar dia berhenti tertawa gak jelas. Brian tersenyum sambil meringis kearahku, dia menarik tanganku dan menciumnya.
"I love you, for now and forever" bisiknya.
Apa-apaan ini? Jantungku langsung berdetak tak karuan setelah mendengar bisikan setan dari Brian. Bukan tawa yang ku tunjukan tapi air matalah yang keluar. Air mata kelegaan, kebahagiaan dan kekesalan. Kalau dia mau lamar aku ngapain juga dia sok-sokan ngucapin kata-kata seolah kami akan berpisah, mengatakan aku sebagai sahabat dan membuatku menangis bombay. Dan apa tadi, dia ngelamar atau ngajakin makan bakso kagak ada romantis-romantisnnya.
Aku mengeluarkan unek-unek dan kekesalanku saat kami hanya berdua saja. Dan Brian hanya cengengesan mendengar unek-unekku. Aku tak percaya ini, aku merasakan begitu banyak perasaan hanya karena satu orang, cowok yang ku anggap sebagai cowok receh, si bule rasa sule yang awalnya membuatku selalu naik darah karena ucapannya yang receh abis.
Cinta memang tak pernah bisa di tebak, dari temen jadi demen dan dari demen jadi temen biasa. Semua rahasia termasuk perasaanku yang tiba-tiba tumbuh untuk si cowok receh yang dalam waktu dekat akan menjadi suamiku. Yah setelah pertunangan yang absurd, Brian ngotot ingin kita menikah sebelum mulai kuliah, biar gak dosa katanya.
Entahlah aku tak tahu kemana takdir membawaku tapi untuk saat ini aku bahagia karena Brian ada disampingku. Aku bahagia karena aku dan dia bersama menjadi kita. Aku bahagia karena kita memiliki visi hidup yang sama. Meskipun kami bagai air dan minyak, aku tetap bahagia karena kami bisa saling melengkapi
THE END